WE FOR JET membawa pengalaman perempuan dan komunitas Indonesia ke ACFID Conference 2026 untuk membahas relasi kuasa, kerja perawatan, dan keadilan dalam transisi energi.
Canberra, Australia, 14 Oktober 2026 — Di tengah dorongan global untuk mempercepat transisi menuju energi bersih, muncul pertanyaan tentang siapa yang memiliki kendali atas perubahan tersebut. Siapa yang menentukan kebutuhan energi masyarakat? Pengetahuan siapa yang dijadikan dasar pengambilan keputusan? Dan ketika investasi serta teknologi energi terbarukan semakin berkembang, siapa yang sebenarnya memperoleh manfaat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengemuka dalam sesi “Who Powers the Transition? Care, Power and Justice in Asia’s Energy Future” pada ACFID National Conference 2026, yang berlangsung pada 12–14 Oktober 2026 di Canberra, Australia.
Yayasan Penabulu, melalui program Women and Vulnerable Groups Leading a Transformative and Just Energy Transition (WE FOR JET), berpartisipasi dalam sesi tersebut dengan menghadirkan pengalaman kerja bersama perempuan dan komunitas di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Deden Ramadani, perwakilan Yayasan Penabulu, menjadi pembicara bersama Anila Schroers dari Oxfam Australia, Joel Chester Pagulayan dari Oxfam Pilipinas, dan Melissa Bungcaras dari UTS Institute for Sustainable Futures.
Sesi yang diselenggarakan bersama oleh UTS Institute for Sustainable Futures, Oxfam Australia, dan Yayasan Penabulu ini mengangkat pembelajaran dari penelitian aksi (action research) di Indonesia dan Filipina. Diskusi menelusuri hubungan antara kerja perawatan, ketimpangan sosial, kepemimpinan perempuan, dan pengambilan keputusan dalam transisi energi.
Siapa yang Menentukan Arah Transisi Energi?
Pengembangan energi terbarukan membawa harapan akan masa depan yang lebih berkelanjutan. Namun, perubahan sistem energi berlangsung di tengah struktur sosial dan ekonomi yang telah lama membentuk ketimpangan akses terhadap sumber daya, pengetahuan, dan pengambilan keputusan.
Pilihan teknologi, skema pembiayaan, hingga pengelolaan infrastruktur energi sering kali ditentukan oleh aktor yang memiliki sumber daya dan pengaruh lebih besar. Sementara itu, kelompok yang paling dekat dengan persoalan energi dalam kehidupan sehari-hari belum tentu memiliki ruang yang setara untuk menyampaikan kebutuhan dan menentukan prioritas.
Situasi ini menjadi perhatian dalam pelaksanaan WE FOR JET di NTB dan NTT. Melalui kerja bersama organisasi masyarakat sipil dan komunitas, program ini mendorong perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan untuk semakin terlibat dalam pengelolaan inisiatif energi terbarukan serta proses pengambilan keputusan di tingkat lokal.
Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya memahami partisipasi dari pengaruh yang dimiliki masyarakat terhadap keputusan. Kehadiran perempuan dalam musyawarah desa, misalnya, perlu diikuti dengan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, mengajukan prioritas, dan terlibat dalam menentukan penggunaan sumber daya. Selain itu, perlu juga memastikan beban kerja domestik yang selama ini sering dibebani kepada perempuan, dana terdistribusi, sehingga mereka bisa berpartisipasi secara aktif dan bermakna.
Tantangan serupa muncul dalam pendekatan energi berbasis komunitas. Struktur sosial di tingkat lokal dapat memengaruhi siapa yang memperoleh informasi, dipercaya memimpin, dan memiliki kewenangan dalam pengelolaan inisiatif. Karena itu, penguatan kepemimpinan komunitas perlu memperhatikan ketimpangan yang berlangsung di dalam komunitas itu sendiri.
Kerja Perawatan dan Kebutuhan Energi yang Kerap Terabaikan
Dalam diskusi ACFID, kerja perawatan (care work) menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami hubungan antara energi dan ketimpangan gender.
Kegiatan merawat anak, mendampingi anggota keluarga, menyiapkan makanan, menyediakan air, serta mengelola berbagai kebutuhan rumah tangga membutuhkan waktu dan tenaga yang besar. Di banyak komunitas, tanggung jawab tersebut masih lebih banyak ditanggung oleh perempuan, sering kali tanpa imbalan ekonomi maupun pengakuan yang memadai.
Kondisi ini memengaruhi cara perempuan menggunakan energi sekaligus menentukan kesempatan mereka untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi dan ruang publik.
Bagi perempuan yang menjalankan usaha berbasis rumah tangga, misalnya, ketersediaan energi yang terjangkau dan sesuai kebutuhan dapat memengaruhi proses produksi, penggunaan waktu, serta keberlanjutan usaha. Dalam konteks penghidupan masyarakat di NTB dan NTT, WE FOR JET mendampingi berbagai inisiatif yang menghubungkan pemanfaatan energi terbarukan dengan kegiatan produktif perempuan, termasuk pengolahan hasil pertanian dan pengembangan usaha komunitas.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan energi memiliki hubungan erat dengan pembagian kerja dan kondisi penghidupan masyarakat. Teknologi yang dianggap efisien secara teknis belum tentu menjawab kebutuhan kelompok yang menghadapi keterbatasan waktu, mobilitas, atau akses terhadap sumber daya.
Dengan memahami kerja perawatan, perencanaan energi dapat lebih peka terhadap kondisi keseharian perempuan. Hal ini mencakup pertimbangan mengenai lokasi, aksesibilitas, biaya, jenis teknologi, hingga dampaknya terhadap penggunaan waktu dan beban kerja domestik.
Mendengar Mereka yang Selama Ini Kurang Didengar
Salah satu tantangan dalam penerapan Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI) adalah bagaimana menerjemahkan komitmen kesetaraan menjadi perubahan dalam praktik pengambilan keputusan.
Peningkatan jumlah perempuan dan penyandang disabilitas yang berpartisipasi dalam kegiatan merupakan perkembangan penting. Namun, pengalaman di tingkat komunitas menunjukkan bahwa akses terhadap ruang partisipasi masih dipengaruhi oleh norma sosial, pembagian peran, dan struktur kepemimpinan yang telah terbentuk.
Melalui WE FOR JET, penguatan kapasitas perempuan dan kelompok rentan dilakukan bersamaan dengan upaya memperluas ruang kepemimpinan mereka. Pendampingan komunitas, pengembangan usaha berbasis energi terbarukan, serta keterlibatan dalam forum perencanaan dan pengambilan keputusan menjadi bagian dari proses tersebut.
Pengetahuan masyarakat memiliki peran penting dalam menentukan apakah suatu inisiatif energi benar-benar sesuai dengan kebutuhan lokal. Perempuan yang setiap hari mengelola kebutuhan energi rumah tangga, pelaku usaha kecil yang menghadapi tantangan biaya produksi, maupun penyandang disabilitas yang mengalami hambatan aksesibilitas memiliki pengalaman yang relevan bagi perencanaan energi.
Sayangnya, pengalaman semacam ini sering sulit memperoleh tempat dalam proses perencanaan yang lebih mengutamakan pertimbangan teknis dan ekonomi.
Menghadirkan suara komunitas berarti memberikan ruang bagi pengetahuan tersebut untuk memengaruhi pilihan teknologi, pengelolaan sumber daya, dan pembagian manfaat. Proses ini juga menuntut perubahan dalam cara lembaga pembangunan, pemerintah, dan para pemangku kepentingan membangun hubungan dengan masyarakat.
Membawa Pengalaman Lokal ke Percakapan Internasional
ACFID National Conference 2026 mengangkat tema “Mobilising the Collective: Reshaping Systems for a Just Future”, dengan perhatian pada perubahan sistem, kepemimpinan lokal, dan penguatan kolaborasi dalam menghadapi tantangan pembangunan global.
Partisipasi WE FOR JET menjadi kesempatan untuk menghadirkan pengalaman komunitas Indonesia dalam diskusi yang mempertemukan praktisi pembangunan, peneliti, dan organisasi masyarakat sipil dari berbagai negara.
Pembelajaran dari Indonesia dan Filipina menunjukkan bagaimana persoalan relasi kuasa, kerja perawatan, dan kepemimpinan perempuan muncul dalam konteks transisi energi yang berbeda. Penelitian aksi yang menjadi dasar diskusi membantu menghubungkan pengalaman masyarakat dengan refleksi atas pendekatan program, kebijakan, dan praktik pembangunan.
Bagi Yayasan Penabulu, pertukaran pengetahuan ini memiliki arti penting. Pengalaman komunitas di NTB dan NTT membawa perspektif mengenai bagaimana keputusan energi memengaruhi kehidupan masyarakat serta bagaimana perempuan membangun ruang untuk memimpin perubahan.
Pada saat yang sama, pembelajaran lintas negara memberikan kesempatan untuk meninjau kembali pendekatan pendampingan, penguatan kelembagaan komunitas, serta cara mengukur perubahan yang dihasilkan program.
Diskusi tersebut turut memperkuat perhatian terhadap kualitas partisipasi dalam sistem pemantauan dan pembelajaran. Perubahan dalam kepercayaan diri, kepemimpinan, kemampuan memengaruhi keputusan, dan pengelolaan sumber daya merupakan bagian dari proses yang perlu didokumentasikan untuk memahami dampak transisi energi terhadap kehidupan masyarakat.
Menempatkan Keadilan dalam Masa Depan Energi
Perubahan menuju energi terbarukan berlangsung melalui berbagai keputusan yang memengaruhi kehidupan masyarakat, mulai dari pengembangan infrastruktur hingga pengelolaan sumber daya dan distribusi manfaat ekonomi. Keputusan-keputusan tersebut menentukan kelompok mana yang memperoleh kesempatan lebih besar dan kelompok mana yang masih menghadapi hambatan.
Pengalaman WE FOR JET menunjukkan bahwa penguatan kepemimpinan perempuan dan kelompok rentan memerlukan proses yang berkelanjutan. Ruang partisipasi perlu dibangun, akses terhadap informasi diperluas, dan struktur pengambilan keputusan perlu semakin terbuka terhadap pengetahuan serta aspirasi masyarakat.

Melalui ACFID National Conference 2026, Yayasan Penabulu bersama Oxfam Australia, Oxfam Pilipinas, dan UTS Institute for Sustainable Futures mengangkat persoalan tersebut ke dalam percakapan mengenai masa depan energi di Asia.
Pembelajaran dari komunitas Indonesia dan Filipina memberikan pengingat bahwa keadilan energi berkaitan erat dengan siapa yang memegang kendali atas sumber daya, siapa yang memiliki kesempatan memimpin, serta bagaimana manfaat dan beban perubahan dibagikan.
Di tengah percepatan transisi energi, pertanyaan tentang kuasa menjadi semakin relevan. Masyarakat yang selama ini hidup dengan keterbatasan akses energi memiliki pengetahuan dan kepentingan yang perlu memengaruhi arah perubahan.
Masa depan energi yang berkeadilan bergantung pada keberanian untuk mengubah cara keputusan dibuat, mengakui pengetahuan yang selama ini terpinggirkan, dan membuka ruang bagi masyarakat untuk menentukan masa depannya sendiri.








