Periode Juli 2024 hingga Juni 2025 menjadi tahun penting bagi WE FOR JET. Bukan hanya karena program ini menjangkau 2.192 orang secara langsung, tetapi karena angka tersebut menunjukkan perubahan yang mulai terasa di rumah tangga, komunitas, desa, koalisi masyarakat sipil, hingga ruang kebijakan energi di tingkat daerah dan nasional.
Transisi energi sering dibicarakan melalui angka besar: target bauran energi, pembangkit, investasi, atau emisi. Namun, di banyak desa di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, transisi energi memiliki wajah yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia hadir ketika perempuan tidak lagi hanya ditempatkan sebagai pengguna energi, tetapi mulai memimpin kelompok energi terbarukan. Ia terlihat ketika desa mengalokasikan anggaran untuk biogas, pompa air tenaga surya, tungku hemat energi, dan rumah pengering tenaga surya. Ia juga terasa ketika kerja domestik yang selama ini dianggap sebagai tanggung jawab perempuan mulai dibicarakan ulang bersama laki-laki, tokoh adat, tokoh agama, pemerintah desa, dan komunitas.
Sepanjang Juli 2024 hingga Juni 2025, WE FOR JET bersama lima mitra, yaitu PWYP, Penabulu, Gema Alam, CIS Timor, dan YPPS, menjangkau 2.192 orang secara langsung. Dari jumlah tersebut, 57,58 persen adalah perempuan dan 3 persen adalah penyandang disabilitas. Secara lebih rinci, program ini menjangkau 1.090 perempuan, 38 perempuan dengan disabilitas, 1.038 laki-laki, 26 laki-laki dengan disabilitas, 7 anak laki-laki, dan 18 anak perempuan. Di luar peserta langsung, program ini juga melibatkan 147 organisasi masyarakat sipil, 10 organisasi penyandang disabilitas, 16 organisasi perempuan, 27 media lokal dan nasional, 30 universitas, 24 aktor sektor swasta, serta menghasilkan 53 liputan media lokal dan nasional.
Angka-angka ini penting karena menunjukkan bahwa transisi energi yang adil tidak hanya bergerak melalui teknologi, tetapi juga melalui perubahan relasi kuasa. Dari desa sampai forum kebijakan, perempuan dan kelompok rentan mulai masuk ke ruang yang sebelumnya jauh dari jangkauan mereka.
Perempuan Mulai Memimpin Perubahan di Desa

Salah satu dampak paling kuat terlihat pada meningkatnya kepemimpinan perempuan dalam pengambilan keputusan. Sekitar 290 perempuan di 18 desa di NTB dan NTT menunjukkan kemajuan dalam kepemimpinan, partisipasi publik, perencanaan desa, dan inisiatif energi terbarukan. Perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia dibangun melalui pelatihan, pendampingan, diskusi komunitas, dan fasilitasi partisipatif yang juga melibatkan laki-laki serta tokoh masyarakat untuk menantang norma sosial yang selama ini membatasi peran perempuan.
Dampaknya mulai terlihat dalam struktur komunitas. Perempuan kini memimpin 19 kelompok komunitas energi terbarukan. Mereka tidak hanya hadir dalam pertemuan, tetapi ikut memengaruhi rencana anggaran desa, mengawal kebutuhan infrastruktur, serta terlibat dalam perencanaan dan pemeliharaan sistem energi. Dalam konteks desa, ini adalah perubahan besar. Perempuan yang dulu lebih sering dilihat sebagai penerima manfaat kini menjadi aktor yang menentukan arah solusi.
Perubahan tersebut juga menghasilkan dukungan konkret dari pemerintah desa. Pada 2025, advokasi komunitas berhasil mengamankan lebih dari Rp138 juta alokasi dana desa untuk solusi energi terbarukan, termasuk tungku hemat energi, renewable energy material, rooftop solar, biogas, dan pompa air tenaga surya. Selain itu, terdapat komitmen sektor swasta untuk mendukung 48 unit rooftop solar.
Artinya, hasil program tidak berhenti pada peningkatan kapasitas. Ia mulai berubah menjadi keputusan anggaran, komitmen kelembagaan, dan infrastruktur yang dapat dirasakan langsung oleh komunitas.
Energi Terbarukan Mulai Menjawab Kebutuhan Ekonomi dan Kerja Perawatan
Di tingkat komunitas, 19 komunitas di NTB dan NTT telah mengadopsi solusi energi terbarukan yang disesuaikan dengan sumber daya lokal. Solusi ini mencakup biogas, pompa air tenaga surya, rumah pengering tenaga surya untuk kopra putih, briket dari limbah kelapa, dan tungku hemat energi. Dampaknya bukan hanya pada akses energi, tetapi juga pada pengurangan biaya, peningkatan pendapatan, dan berkurangnya beban kerja domestik.
Beberapa rumah tangga melaporkan penghematan biaya energi hingga 40 persen dibandingkan pengeluaran sebelumnya. Di sejumlah komunitas, energi terbarukan juga membuka peluang ekonomi baru melalui penjualan produk dan jasa berbasis energi bersih. Ini memperlihatkan bahwa transisi energi dapat menjadi jalan masuk untuk memperkuat penghidupan, terutama ketika teknologinya berangkat dari kebutuhan dan potensi lokal.
Dari sisi keterampilan, pelatihan teknologi energi terbarukan di NTB melibatkan 199 peserta dan berkontribusi pada instalasi serta pemeliharaan sistem energi yang kini beroperasi. Di Flores Timur, NTT, tiga pelatihan inovasi pemanfaatan limbah kelapa yang melibatkan 119 peserta menghasilkan tiga prototipe fungsional yang kini masuk tahap produksi dan menciptakan peluang kerja lokal. Selain itu, terdapat lima proyek infrastruktur energi terbarukan yang telah beroperasi penuh dan dikelola oleh 15 laki-laki dan 48 perempuan.
Dampak ekonomi juga diperkuat melalui model keuangan komunitas. Dua sesi penguatan kapasitas manajemen usaha dan keuangan mikro menjangkau 386 peserta. Melalui Saving and Internal Lending Communities atau SILC, komunitas berhasil memobilisasi lebih dari Rp100 juta tabungan. Dana ini menjadi modal yang lebih mudah diakses untuk pemeliharaan energi terbarukan, pengembangan usaha, dan kebutuhan kesejahteraan komunitas.
Dalam laporan tahunan, capaian tahun berjalan juga mencatat bahwa kelompok SILC di NTT telah memiliki 102 anggota dengan total tabungan Rp66.446.000. Ini menunjukkan bahwa penguatan energi terbarukan berjalan berdampingan dengan penguatan ekonomi komunitas, terutama bagi perempuan yang selama ini memiliki akses terbatas terhadap modal dan layanan keuangan.
Dari Komunitas ke Kebijakan: Suara Warga Mulai Masuk Sistem

WE FOR JET juga menunjukkan dampak pada level yang lebih luas, yaitu kemampuan masyarakat sipil dalam memengaruhi narasi dan kebijakan transisi energi. Sepanjang periode implementasi, program ini memperkuat kerja empat koalisi masyarakat sipil, yaitu GEDSI JET Working Group di NTB, Climate Change Working Group di NTT, Womans for JET, dan Just Energy Transition Coalition di tingkat nasional. Koalisi-koalisi ini menjadi penghubung antara pengalaman warga di tingkat tapak dengan ruang kebijakan energi.
Kampanye digital di tingkat nasional dan provinsi menghasilkan sekitar 22.663 interaksi, termasuk 709 likes media sosial, 183 views YouTube, dan 21.019 views video reel pada akun mitra. Angka ini menunjukkan bahwa isu transisi energi berkeadilan mulai keluar dari ruang teknokratis dan masuk ke ruang publik yang lebih luas.
Di NTB, GEDSI JET Working Group memformalkan kemitraan dengan RRI NTB untuk menyiarkan diskusi langsung tentang GEDSI dan transisi energi. Langkah ini penting karena media publik menjadi ruang bagi komunitas lokal untuk menyampaikan pengalaman, kebutuhan, dan pandangan mereka tentang energi terbarukan. Di wilayah yang sama, advokasi juga berkontribusi pada alokasi pendanaan dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi NTB untuk tiga unit biogas senilai Rp15 juta per unit di Desa Taman Ayu.
Di NTT, Climate Change Working Group atau Pokja PI, dengan dukungan WE FOR JET, berhasil mendorong integrasi Rencana Umum Energi Daerah atau RUED ke dalam RPJMD Provinsi NTT 2026 sampai 2030. Ini membuat energi terbarukan masuk sebagai prioritas pembangunan strategis dan membuka peluang implementasi lintas perangkat daerah.
Kebijakan Energi Mulai Lebih Terbuka pada Perspektif GEDSI
Pada level kebijakan nasional dan subnasional, dampak WE FOR JET terlihat dari meningkatnya pengakuan terhadap pentingnya perspektif gender, disabilitas, dan inklusi sosial dalam perencanaan energi. Di tingkat nasional, terdapat komitmen dari anggota Dewan Energi Nasional, Dina Nurul Fitria, untuk mempertimbangkan aspek GEDSI dalam revisi RUEN. Sementara itu, Catherine K. Winata, Co-coordinator Just Working Group di Sekretariat JETP, juga mengakui pentingnya memasukkan GEDSI ke dalam proses transisi energi.
Di tingkat provinsi, pembuat kebijakan di NTB dan NTT menunjukkan komitmen untuk mengadopsi dan merujuk analisis kebijakan RUED yang dikembangkan dalam kerangka WE FOR JET. Analisis ini digunakan untuk memperkuat RUED 2025 sampai 2034 dan Rencana Aksi Adaptasi Perubahan Iklim pada sektor energi.
Selain itu, tiga FGD yang melibatkan 1 aktor sektor swasta, 28 organisasi masyarakat sipil, 6 organisasi penyandang disabilitas, 12 institusi pemerintah, 4 media, dan 2 universitas menghasilkan dokumen kajian implementasi kebijakan energi berbasis GEDSI di NTB dan NTT dalam kerangka RUEN dan RUED. Dokumen ini telah disampaikan kepada pemerintah daerah di NTB dan NTT serta pemerintah nasional sebagai rekomendasi kebijakan.
Ini memperlihatkan satu hal penting: bukti dari komunitas dapat bergerak menjadi bahan kebijakan. Pengalaman perempuan, penyandang disabilitas, komunitas desa, dan kelompok rentan tidak lagi berhenti sebagai cerita lokal, tetapi mulai masuk ke dokumen, forum, dan komitmen kebijakan.
Dampak yang Mulai Terukur
Jika dirangkum, dampak WE FOR JET selama Juli 2024 hingga Juni 2025 terlihat dalam lima perubahan utama.
Pertama, jangkauan dan inklusi meningkat. Program menjangkau 2.192 peserta langsung, dengan mayoritas peserta adalah perempuan, serta melibatkan penyandang disabilitas, organisasi perempuan, organisasi penyandang disabilitas, CSO, media, universitas, dan sektor swasta.
Kedua, kepemimpinan perempuan menguat. Sekitar 290 perempuan di 18 desa menunjukkan kemajuan dalam pengambilan keputusan, dan perempuan kini memimpin 19 kelompok energi terbarukan.
Ketiga, komitmen pembiayaan lokal mulai terbentuk. Lebih dari Rp138 juta alokasi dana desa berhasil diamankan untuk solusi energi terbarukan, ditambah komitmen 48 unit rooftop solar dari sektor swasta dan dukungan tiga unit biogas senilai Rp15 juta per unit dari Dinas ESDM NTB.
Keempat, manfaat ekonomi mulai terasa. Sebanyak 19 komunitas mengadopsi solusi energi terbarukan, beberapa rumah tangga melaporkan penghematan biaya energi hingga 40 persen, lima infrastruktur energi terbarukan telah beroperasi penuh, dan SILC memobilisasi lebih dari Rp100 juta tabungan komunitas.
Kelima, advokasi mulai memengaruhi sistem. Kampanye dan kerja koalisi menghasilkan lebih dari 22.663 interaksi digital, membuka kemitraan media dengan RRI NTB, mendorong integrasi RUED ke RPJMD NTT 2026 sampai 2030, dan memperkuat masukan kebijakan pada RUEN, RUED, serta proses transisi energi nasional.
Transisi Energi yang Dimulai dari Mereka yang Paling Terdampak
WE FOR JET menunjukkan bahwa transisi energi yang adil tidak cukup hanya menghadirkan teknologi. Ia harus mengubah siapa yang didengar, siapa yang mengambil keputusan, siapa yang mengelola manfaat, dan siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya.
Dalam satu tahun pelaksanaan, 2.192 orang bukan sekadar angka partisipasi. Mereka adalah perempuan yang mulai berbicara di forum desa. Mereka adalah penyandang disabilitas yang mulai dilibatkan dalam diskusi energi. Mereka adalah komunitas yang mengelola biogas, pompa air tenaga surya, briket, dan rumah pengering tenaga surya. Mereka adalah organisasi masyarakat sipil yang membawa suara warga ke ruang kebijakan. Mereka adalah bukti bahwa transisi energi bisa menjadi lebih adil ketika dimulai dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Melalui data, pembiayaan lokal, kerja koalisi, dan kepemimpinan komunitas, WE FOR JET memperlihatkan bahwa energi terbarukan bukan hanya soal mengganti sumber energi. Ia juga tentang membangun kuasa baru, membuka ruang baru, dan memastikan perempuan serta kelompok rentan tidak tertinggal dalam masa depan energi Indonesia.



