Di bawah lambaian daun kelapa yang menjulang di daratan Flores Timur, sebuah riak perubahan yang tenang namun mendalam sedang berlangsung. Bagi masyarakat petani di Desa Homa, Desa Bantala, dan Desa Serinuho, pohon kelapa telah lama menjadi urat nadi kehidupan. Selama bertahun-tahun, mereka mengolah dagingnya menjadi minyak tradisional atau kopra putih. Namun, proses ini menyisakan satu masalah menahun: tumpukan gunungan limbah tempurung kelapa yang tak terpakai, berakhir menjadi sampah atau dibakar begitu saja dan mengotori udara.
Melalui program WE FOR JET yang digerakkan oleh Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) di Larantuka, Flores Timur, pandangan masyarakat terhadap limbah berubah total. Melalui pendekatan “Sekolah Kelapa”, tempurung yang tadinya dianggap sampah kini disulap menjadi briket arang—sebuah inovasi bahan bakar alternatif yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memerdekakan kaum perempuan dari pekatnya asap dapur.
Mengubah Sampah Menjadi Emas Hitam
Proses transisi energi ini dimulai dari langkah yang sederhana. Komunitas dampingan, seperti Komunitas Mala Ti di Desa Homa, Komunitas Wolosina Watoboki di Desa Bantala, dan Komunitas Waimatan di Desa Serinuho, dilatih untuk mengolah tempurung secara kolektif. Metode pembakaran yang diajarkan adalah menggunakan sistem drum untuk menghasilkan “Arang Mati Hampa”—proses pembakaran minim oksigen yang menghasilkan arang hitam berpori berkualitas tinggi, minim asap, dan berenergi tinggi. Langkah pembuatannya pun tergolong mudah dan bisa direplikasi secara mandiri di rumah-rumah warga: Tempurung kelapa dibakar di dalam drum menjadi arang mati hampa, arang kemudian diayak hingga halus, serbuk arang dicampur dengan perekat alami berupa tepung kanji/tapioca, adonan dicetak dan dijemur di rumah jemur komunitas hingga kering dan mengeras.
“Cukup dengan tepung kanji dan arang, jadilah briket yang berguna,” tutur Yosep N. Assan—atau yang akrab disapa Om Yordan, Sekretaris Komunitas Mala Ti di Desa Homa dengan penuh semangat.
Dapur Sehat Tanpa Asap: Kemerdekaan Bagi Perempuan
Bagi para ibu di pedesaan, kehadiran briket membawa dampak perubahan yang sangat emosional. Selama puluhan tahun, memasak adalah perjuangan melawan asap tebal kayu bakar yang merusak kesehatan mata dan paru-paru.
Lusia Loun Sogen, atau Mama Lus, seorang petani kelapa dari Desa Bantala sejak tahun 1989, menceritakan,
“Beratnya masa lalu, sebelum mengenal briket, ia harus berjalan ke hutan setiap dua hari sekali hanya untuk mengumpulkan kayu api. Ketika musim hujan tiba, tantangan menjadi berlipat ganda karena kayu basah memicu asap yang membuat mata perih dan batuk tiada henti. Kini, setelah briket kompor portable diperkenalkan, cerita suram itu berganti. Dulu dapur kami penuh asap, sekarang penuh harapan,” ungkap Mama Lus haru.
Keunggulan briket ini nyata: apinya stabil, tidak mengeluarkan asap pekat yang menyesakkan, dan mampu bertahan menyala hingga 2 sampai 3 jam. Waktu memasak menjadi jauh lebih cepat dan efisien.
Kemandirian Ekonomi dan Ketahanan Komunitas
Selain aspek kesehatan, dampak yang paling dirasakan oleh masyarakat adalah efisiensi ekonomi rumah tangga. Di tengah sulit dan mahalnya bahan bakar seperti minyak tanah, briket kelapa hadir sebagai penyelamat dompet petani.

Di Desa Serinuho dan Desa Bantala, penggunaan minyak tanah berkurang drastis hingga setengahnya—dari yang biasanya menghabiskan 10 liter (2 jerigen) per bulan kini hanya menjadi 5 liter saja. Di Desa Homa, penghematannya bahkan lebih tinggi, di mana kebutuhan minyak tanah menukik tajam hingga jarang terpakai sama sekali. Penghematan pengeluaran ini membuat para petani bisa mengalihkan dana untuk keperluan penting lainnya, seperti biaya pendidikan anak.
Hebatnya lagi, di bawah koordinasi Remigius Liwun di Desa Bantala, Komunitas Wolosina Watoboki berhasil membawa inovasi ini satu langkah lebih maju. Arang mati hampa dan briket yang diproduksi secara gotong royong tidak hanya dipakai untuk kebutuhan sendiri, melainkan mulai dipasarkan ke luar desa untuk mendukung pelaku UMKM seperti penjual gorengan dan pembuat kue.
Sebagian keuntungan dari penjualan briket ini dialokasikan masuk ke kas bersama komunitas.

“Kalau ada anggota yang kesulitan uang sekolah anaknya, kami bisa bantu dari kas, pun untuk pemeliharaan dan biaya produksi. Jadi kami bukan hanya produksi arang, tapi juga saling menguatkan,” jelas Remigius.
Membakar Harapan, Menyongsong Masa Depan
Tantangan di lapangan tentu masih membentang. Peralatan produksi yang digunakan warga saat ini masih sangat sederhana, kapasitas produksi massal yang terbatas, serta jangkauan pasar yang perlu diperluas. Namun, berdirinya fasilitas pendukung seperti Rumah Energi Matahari (REM) di Desa Serinuho menjadi bukti fisik komitmen warga untuk terus mandiri.
Praktek baik dari tiga desa di Flores Timur ini memberikan sebuah pelajaran berharga: transisi energi menuju masa depan yang berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dengan teknologi yang rumit dan mahal. Dengan pengetahuan yang tepat, kerja sama kelompok yang solid, dan pemanfaatan potensi lokal secara bijak, limbah yang tadinya mencemari lingkungan bisa berubah menjadi berkat yang menghidupkan.
Gerakan ini melahirkan sebuah optimisme baru yang bergema di sudut-sudut dapur Flores Timur. “Dulu warga membakar kayu, sekarang membakar harapan—harapan bahwa masa depan bisa berjalan dengan lebih ringan, bersih, dan jauh lebih terang.”
Ditulis oleh Nurjanah, Koordinator Provinsi WE FOR JET, Yayasan Penabulu







