Berdiri di sudut dapur, Jetriana Tefa menggoyang-goyang telepon genggam, mencari sinyal internet. Setelah terkoneksi, ia langsung mengunggah foto produk kripik pisang dan ubi jalar di akun media sosial. Selama beberapa menit, posisi tangannya tak bergerak menunggu selesai diunggah. Tiba-tiba, sinyal hilang, prosesnya pun gagal.
Bergeser beberapa derajat dari posisi sebelumnya, ibu rumah tangga itu mencoba berulangkali hingga berhasil. “Namanya sinyal GSM,” ujar dia seusai mengunggah gambar di Desa Nenas, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (23/6/2026) siang.
Sinyal GSM dimaksud adalah singkatan dari geser sedikit mati. Artinya, selama menggunakan telepon seluler, posisi pengguna tak boleh bergeser. GSM adalah pelesetan untuk menggambarkan betapa sulit mendapatkan sinyal internet di daerah pedalaman seperti Nenas.
Menggugah foto produk ke media sosial butuh perjuangan tak mudah. Terkadang mereka harus pergi ke perbukitan. Ketika sukses diunggah, ada rasa lega. Karya tangan perempuan dari kaki Gunung Mutis berselancar di dunia maya. Siapa saja dari berbagai belahan bumi, bisa melihatnya.
Sinyal begitu sulit menembus kaki Gunung Mutis sebagaimana jalan dan listrik. Berjarak sekitar 150 kilometer dari Kota Kupang, desa-desa dimaksud ditempuh dengan waktu perjalanan hampir lima jam. Ini lantaran kondisi sebagian ruas jalanan yang tak memiliki sepotong aspal pun. Hanya mobil bergardan ganda yang melanggeng mulus.
Sementara untuk penerangan, mereka mengandalkan listrik tenaga surya dari panel-panel kecil yang hanya mampu menyuplai daya untuk dua bola lampu. Akses jalan dan jaringan listrik belum menembus lantaran perkampungan berada di balik Taman Nasional Mutis Timau. Tak boleh ada proyek infrastruktur di zona itu.
Bagi Jetriana, mengunggah produk melalui media sosial sangat membantu pemasaran ketimbang harus pergi jualan ke kota dengan risiko perjalanan serta biaya yang tidak murah. Lewat media sosial, banyak pesanan berdatangan meski sering terlambat direspons karena kendala sinyal. Langganan Jetriana sudah memahami kondisi itu.
Ada kripik pisang 100 gram seharga Rp 10.000, kacang goreng 100 gram seharga Rp 15.000, jagung goreng 100 gram seharga Rp 10.000, kripik singkong 100 gram seharga Rp 10.000, dan kripik ubi jalar 100 gram seharga Rp 10.000. Produk itu bisa dijumpai pada akun Facebook Jetriana dengan nama Jhetty Land.
Jetriana tidak sebatas menjual produk. Lebih dari itu, ia menjual cerita di balik lahirnya produk para perempuan Mutis. Kisah tentang pisang yang tumbuh subur sepanjang tahun, ubi jalar warna warni, dan jagung khas Mutis, sengaja diungkap. Calon pembeli diajak memahaminya.
Semuanya tumbuh di kebun warga, dirawat tanpa menggunakan pupuk kimia. Mereka menggunakan pupuk alami seperti daun-daun kering dan kotoran ternak. Selebihnya mereka serahkan kepada alam Mutis untuk merawatnya sampai waktu panen tiba. Produk tanpa bahan kimia tentu lebih sehat.
Kisah berikutnya juga tak kala menarik. Proses pengolahan berlangsung di ume kbubu, dapur dengan atap lonjong ditutupi daun yang menjuntai hingga beberapa jengkal tangan dari tanah. Ume kbubu meredam radiasi dengan lembutnya daun alang-alang.

Produk digoreng menggunakan api yang dihasilkan gas. Bukan gas alam cair kiriman pabrik, melainkan biogas yang diolah dari kotoran sapi. Di belakang dapur dibangun bak penampung kotoran sapi yang difermentasi menjadi gas untuk pembakaran.
Ke panggung Jakarta
Sekitar 16 kilometer dari Nenas, dijumpai kelompok Matelda Emi Banu (44) di Desa Mutis. Kelompok ini memanen madu dari hutan. Salah satu tahapan yang dilalui adalah menyaring madu ke dalam kemasan. Agar tidak kontaminasi, penyaringan harus berlangsung di dalam rumah. Minim cahaya, mereka menggunakan cahaya dari bola lampu dari listrik tenaga surya yang bertahan beberapa menit saja.
Produk diberikan nama ‘Madu Segar Organik’. Kemasan dengan ukuran 100 gram itu dijual dengan harga Rp 65.000. Madu dipanen langsung dari pohon di tengah hutan. Bukan hasil budidaya. Madu alami, tidak dicampur dengan bahan lain sebagaimana banyak produk madu di pasaran.
Ada juga minyak rematik yang diolah dari campuran akar, batang, hingga daun dari tanaman tertentu yang diambil dari hutan. Pergi pulang menggunakan sepeda motor melawati jalan rusak ke Mutis membuat badan terasa remuk. Setelah mandi air hangat lalu menggosok minyak itu ke tubuh, terasa lebih bugar. Khasiat minyak bermerek ‘Togaku’ terbukti manjur.
Produk perempuan Mutis serta kisah di baliknya terus diceritakan di media sosial maupun dalam kegiatan pameran produk. Pada hari yang sama, Yesi Niufeki, rekan Jetriana, membawa produk olahan dari Desa Nenas dan Desa Mutis untuk dipamerkan di Jakarta. Yesi mempromosikannya.
“Kami merasa sangat bersyukur bahwa produk perempuan di daerah pedalaman yang tidak ada jalan aspal, tidak ada listrik, tidak ada sinyal internet, kini sudah terkenal. Kami akan terus menghasilkan produk berkualitas yang organik dan sehat bagi tubuh,” kata Jetriana.
Kelompok Jetriana di Desa Nenas maupun Matelda di Desa Mutis merupakan pelaku usaha mikro kecil dan menengah, binaan Yayasan Circle of Imagine Society (CIS) Timor. Dalam program bertajuk We for JET, CIS Timor mendampingi para perempuan mulai dari penguatan kapasitas, pengolahan produk, hingga pemasaran.
Direktur Yayasan Circle of Imagine Society (CIS) Timor Haris A CH Oematan melihat dua desa itu memiliki potensi besar untuk bisa digerakkan lewat usaha mikro kecil menengah. Dengan kesiapan serta dukungan yang baik dari berbagai pihak, CIS Timor mendorong ekonomi lokal yang bertumpu dari masyarakat desa.
Dalam program tersebut, pihak gereja dan pemerintah desa diajak berkolaborasi. Dukungan moril dari dua struktur ini sangat diperlukan. Anggota kelompok usaha mikro kecil dan menengah melibatkan istri kepala desa dan perangkat, juga anggota majelis jemaat dari gereja.
CIS Timor melatih mereka membuat standar kerja serta mencatat keuangan dengan rapi. Disadari, salah satu kelemahan masyarakat setempat adalah administrasi keuangan. Dengan pembukuan yang transparan, perkembangan keuangan dapat terpantau semua anggota. Ini menjaga rasa saling percaya dalam kelompok.
CIS Timor, lanjut Haris, memastikan produk yang dihasilkan berkualitas. Mereka menaikkan mutu bahan, kebersihan olahan, konsistensi rasa, dan kemasan yang menarik. Juga mencantumkan izin edar setelah terbitnya izin Pangan Industri Rumah Tangga.
CIS Timor juga mendorong stategi pemasaran menggunakan media sosial dan melalui e-commerce. Disadari, jaringan internet menjadi salah satu kendala. CIS Timor akan membantu promosi di media sosial dan melalui pameran dalam berbagai event di tingkat daerah maupun nasional.
Untuk akses modal, CIS Timor menjembatani kelompok dengan lembaga keuangan. Skema pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi peluang yang perlu diambil. Pinjaman dengan nilai Rp 100 juta ke bawah, dapat diperoleh tanpa agunan. Pendamping CIS akan membantu kelompok ketika pengajuan ke pihak bank.
CIS juga mengupayakan program CSR dari berbagai lembaga bisa menjangkau ke sana.
“Program kemitraan dengan BUMN wajib membina UMKM lewat dana CSR. Bentuknya modal dan pendampingan untuk pengembangan kapasitas, strategi pemasaran, dan keuangan,” kata Haris.
Perlahan, kelompok UMKM di dua desa itu tumbuh menuju mandiri. Pencapaian diraih lewat kerja keras dan menolak menyerah pada keadaan yang serba minim. Produk perempuan Mutis kini berselancar di jagad maya hingga dipamerkan di panggung Jakarta. Mereka menatap level baru di kelas yang lebih tinggi.







