Bali, Mei 2026 – Upaya mewujudkan transisi energi yang adil membutuhkan kolaborasi lintas negara, lintas sektor, dan lintas pemangku kepentingan. Isu seperti kesenjangan akses energi, rendahnya partisipasi perempuan dan kelompok rentan dalam pengambilan keputusan, hingga kebutuhan pembiayaan yang inklusif merupakan tantangan bersama yang dihadapi negara-negara di kawasan ASEAN.
Berangkat dari semangat tersebut, WE FOR JET (Women and Vulnerable Groups Lead a Transformative Just Energy Transition) berpartisipasi dalam Influencing Just Energy Transition in ASEAN (I-JET) End-Year 4 General Assembly yang diselenggarakan di Bali pada 12–14 Mei 2026. Forum ini merupakan agenda tahunan yang mempertemukan para mitra pelaksana program I-JET, Oxfam Australia, Oxfam di berbagai negara, organisasi masyarakat sipil, lembaga regional, serta mitra pembangunan dari berbagai negara ASEAN untuk berbagi pembelajaran, merefleksikan capaian implementasi, dan menyusun strategi kolaborasi menuju tahun terakhir pelaksanaan program.
General Assembly tahun ini dihadiri oleh berbagai organisasi dari Indonesia, Kamboja, Filipina, dan jaringan regional ASEAN, termasuk ASEAN Centre for Energy (ACE), Climate Action Network Southeast Asia (CANSEA), serta berbagai organisasi masyarakat sipil yang bergerak di bidang transisi energi, perubahan iklim, hak asasi manusia, dan kesetaraan gender. Selain menjadi ruang refleksi terhadap capaian implementasi selama tahun keempat, forum ini juga menjadi wadah untuk memperkuat kolaborasi regional dalam mendorong transisi energi yang lebih inklusif, khususnya setelah masuknya prinsip Just and Inclusive Energy Transition ke dalam ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation (APAEC) 2026–2030.
Sebagai salah satu mitra yang diundang dalam forum tersebut, Penabulu memperoleh kesempatan untuk berbagi pengalaman mengenai implementasi proyek WE FOR JET di Indonesia. Pada sesi presentasi, Deden, Project Manager WE FOR JET Yayasan Penabulu, memaparkan perjalanan proyek WE FOR JET dalam mendorong kepemimpinan perempuan dan kelompok rentan sebagai aktor utama dalam transisi energi yang adil. Presentasi tersebut memperlihatkan bagaimana pendekatan yang dikembangkan WE FOR JET tidak berhenti pada penyediaan akses terhadap energi terbarukan, tetapi juga membangun perubahan sosial dan kelembagaan yang memastikan perempuan dan kelompok rentan memiliki ruang untuk berpartisipasi, memimpin, serta memperoleh manfaat dari proses transisi energi.
Dalam paparannya, Deden menjelaskan bahwa WE FOR JET dibangun dengan pendekatan yang dimulai dari tingkat komunitas. Setiap intervensi diawali dengan memahami kebutuhan masyarakat, memetakan hambatan sosial dan gender, serta mengidentifikasi akar persoalan yang menyebabkan perempuan dan kelompok rentan belum terlibat secara optimal dalam agenda transisi energi. Dari proses tersebut, WE FOR JET kemudian mengembangkan solusi berbasis komunitas, memperkuat kapasitas organisasi masyarakat sipil, membangun kolaborasi multipihak, hingga melakukan advokasi kebijakan agar prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) terintegrasi dalam kebijakan energi di tingkat daerah maupun nasional. Pendekatan ini menjadi salah satu karakteristik utama WE FOR JET yang membedakannya dari program transisi energi yang hanya berfokus pada aspek teknologi.
Peserta General Assembly juga diperkenalkan pada berbagai perubahan yang telah terjadi di tingkat komunitas sebagai hasil implementasi proyek. Salah satunya berasal dari Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, di mana untuk pertama kalinya seorang perempuan dipercaya menjadi Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Perubahan tersebut menjadi contoh nyata bahwa transisi energi yang inklusif juga mampu mendorong perubahan norma sosial dan memperluas ruang kepemimpinan perempuan di tingkat desa. Keberhasilan tersebut tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses pendampingan, penguatan kapasitas, dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan perempuan dalam memimpin pembangunan lokal.
Penabulu juga membagikan pengalaman dalam mengembangkan biogas komunal di Desa Taman Ayu, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Melalui proses yang melibatkan kelompok perempuan, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, hingga organisasi keagamaan, inisiatif tersebut berhasil memperlihatkan bahwa teknologi energi terbarukan dapat berkembang lebih berkelanjutan apabila dirancang secara partisipatif. Pendekatan tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengalokasikan dukungan anggaran sekitar Rp45 juta untuk pembangunan tiga unit biogas komunal. Selain itu, kolaborasi dengan Fatayat NU turut memperkuat penerimaan masyarakat terhadap pemanfaatan biogas melalui diskusi mengenai aspek kehalalan penggunaannya. Inisiatif ini tidak hanya menurunkan biaya energi rumah tangga, tetapi juga mengurangi beban kerja domestik perempuan serta membuka peluang pengembangan usaha ekonomi produktif berbasis energi terbarukan.
Pada aspek advokasi kebijakan, Deden menjelaskan bagaimana WE FOR JET membangun kolaborasi dengan berbagai organisasi masyarakat sipil, pemerintah daerah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya melalui Kelompok Kerja Perubahan Iklim (Pokja PI) di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Melalui forum tersebut, suara masyarakat, khususnya perempuan dan kelompok rentan, mulai terakomodasi dalam proses penyusunan kebijakan energi daerah. Salah satu capaian penting yang disampaikan adalah mulai terintegrasinya indikator Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) ke dalam pembahasan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Provinsi Nusa Tenggara Timur. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas mampu memberikan kontribusi nyata terhadap perubahan kebijakan di tingkat subnasional.

Diskusi yang berlangsung setelah presentasi memperlihatkan bahwa berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia ternyata juga menjadi perhatian organisasi-organisasi di negara ASEAN lainnya. Isu mengenai rendahnya partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan sektor energi, keterbatasan akses pembiayaan bagi komunitas, lemahnya integrasi data GEDSI dalam perencanaan energi, hingga tantangan menjaga keberlanjutan inisiatif energi berbasis masyarakat menjadi topik yang banyak dibahas oleh para peserta. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman WE FOR JET memiliki relevansi yang kuat sebagai salah satu referensi praktik baik yang dapat dipelajari dan dikembangkan lebih lanjut di tingkat regional.
Lebih dari sekadar forum berbagi pengalaman, partisipasi WE FOR JET dalam I-JET General Assembly membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan jejaring I-JET di kawasan ASEAN. Pertemuan ini menjadi titik awal untuk memperkuat pertukaran pengetahuan, mengembangkan pembelajaran lintas negara, serta membangun sinergi advokasi agar perspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) semakin terintegrasi dalam kebijakan dan praktik transisi energi di tingkat regional.
“Transisi energi yang adil tidak hanya berbicara tentang perubahan teknologi, tetapi juga tentang siapa yang dilibatkan dalam proses perubahan tersebut. Pengalaman WE FOR JET menunjukkan bahwa ketika perempuan dan kelompok rentan memperoleh ruang untuk berpartisipasi dan memimpin, dampaknya tidak hanya dirasakan di tingkat komunitas, tetapi juga mampu memengaruhi arah kebijakan. Melalui I-JET General Assembly, kami melihat peluang besar untuk membawa pembelajaran ini ke tingkat ASEAN dan memperkuat advokasi GEDSI bersama mitra-mitra regional,” ujar Deden, Project Manager WE FOR JET Yayasan Penabulu.
Keikutsertaan WE FOR JET dalam I-JET General Assembly 2026 menjadi tonggak penting dalam memperluas jejaring kerja sama di tingkat regional. Pembelajaran yang lahir dari desa-desa dampingan di Indonesia kini mulai berkontribusi pada percakapan yang lebih luas mengenai masa depan transisi energi di ASEAN. Melalui kolaborasi yang semakin kuat dengan jaringan I-JET, WE FOR JET berharap pengalaman Indonesia dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk memastikan bahwa transisi energi di kawasan ASEAN benar-benar berjalan secara adil, inklusif, dan menempatkan perempuan serta kelompok rentan sebagai aktor utama perubahan.








