Han Kolo yang Kian Lantang di Pene Utara 

Share

Yosna Taek membonceng sepeda motor, melewati jalanan rusak dan menanjak yang membela perkampungan Desa Pene Utara di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Ia menuju tempat pertemuan kelompok perempuan yang mendadak digelar siang itu, Minggu (24/5/2025).

Di sana sudah menanti beberapa perempuan yang tergabung dalam Sekoper, akronim dari sekolah perempuan. Yosna jadi  “pemain” inti dalam kelompok tersebut. Tak hanya sebagai penggerak, keberadaannya di beberapa komunitas dan struktur lembaga di desa, kian memperkuat pengaruhnya.

Pertemuan digelar menyambut syukuran hasil panen Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), keesokan hari Senin (25/5/2026). Sebagian besar masyarakat setempat adalah anggota GMIT, penganut ajaran Kristen Protestan. Pesta syukuran panen hasil biasanya digelar sekali dalam setahun.

Masing-masing keluarga jemaat akan mengantar persembahan mereka berupa jagung, padi, umbi-umbian, dan ternak. Hasil karya mereka akan diarak masuk ke dalam gereja agar diberkati pendeta. Inilah ungkapan syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kepada mereka rezeki.

Untuk kelancaran acara, para ibu Sekoper berinisiatif mengambil peran. Mereka yang nantinya akan mengatur proses pengantaran hasil karya jemaat dari rumah ke tingkat rayon, kemudian dari rayon dibawa ke gereja. Peran ini lebih sering dipegang laki-laki.

“Kalau bapak-bapak, biasanya sering molor. Karena pasti kalau mereka bertemu, itu harus duduk minum sopi (minuman beralkohol) dulu. Dan kalau sudah minum, pasti mabuk. Ini yang kita antisipasi,”

jelas Yosna dengan nada penuh candaan dengan tidak bermaksud merendahkan kelompok laki-laki.

Untuk urusan semacam ini, suara Yosna didengar. Tak hanya di kalangan perempuan di desa, tetapi juga di dalam lingkaran pengurus inti gereja. Yosna menjabat bendahara gereja. Bahkan menjadi bendahara pertama dalam sejarah berdirinya jemaat GMIT di desa itu. 

Ironi Suara Burung

Obrolan Yosna dan para ibu siang itu pun melebar ke mana-mana. Dengan penuh candaan, mereka mengungkit kembali perlakuan terhadap keberadaan perempuan pada waktu lalu. Dalam semua forum baik di desa maupun di gereja, suara perempuan bukan saja diabaikan. Lebih dari itu, perempuan seakan dilarang bicara.

“Dulu dalam rapat di gereja, pas ada perempuan yang angkat tangan, dia tidak diberi kesempatan. Wakil ketua majelis jemaat bilang, “Hibife han kolo, hikamuif hak he mi molok,”

kata Yosna meniru ucapan kala itu. Wakil ketua dimaksud adalah seorang laki-laki.

Ucapan dalam bahasa Dawan itu lebih kurang berarti, kalian perempuan bersuara seperti burung, tidak ada hak berbicara. Suara perempuan dianggap sebagai han kolo, yang berarti suara burung. Suara burung yang tak perlu didengar. Potret ironi yang seakan dipelihara demi langgengnya posisi laki-laki.

Seiring waktu, masukannya program pemberdayaan dari berbagai lembaga swadaya masyarakat mendorong penguatan gender. Perempuan tidak hanya didengar suaranya tetap diberi kesempatan untuk memimpin di dalam struktur di desa maupun gereja.

Salah satunya Yayasan Circle of Imagine Society (CIS) Timor yang hadir mendampingi kelompok perempuan. Dalam pelaksanaan program, pihak gereja dan pemerintah desa menjadi kekuatan penting mendorong penguatan peran perempuan. Pendampingan itu dalam program bertajuk We for JET.

Direktur Yayasan Circle of Imagine Society (CIS) Timor Haris A CH Oematan mengatakan, Desa Pene Utara adalah salah satu desa yang masih sangat kental budaya patriarkih. Kaum perempuan masih selalu dinomorduakan dalam berbagai aspek kehidupan.

Ia menuturkan, pengambilan keputusan dan partisipasi serta keterlibatan perempuan masih sangat minim. Peran perempuan hanya sebatas dalam urusan domestik keluarga di tengah budaya patriarki dan tradisi kerajaan yang lekat dengan keistimewaan bagi kelompok laki-laki. 

“Laki-laki masih sangat mendominasi dalam semua aspek mulai dari pengambilan keputusan dalam keluarga maupun dalam lingkungan sosial dan pemerintah. Laki-laki dianggap kepala keluarga dan pencari nafkah sehingga tidak pantas untuk mengerjakan pekerjaan rumah,” kata Haris.

CIS Timor hadir memberikan sosialisasi dan pelatihan tentang Gender, Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) dengan melibatkan kelompok perempuan, kelompok laki-laki, tokoh agama, tokoh adat dan pemerintah desa. Pendampingan dimulai tahun 2024 dan masih berlangsung selama beberapa tahun mendatang.

“Kami mendorong perubahan perilaku dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang GEDSI. Juga partisipasi dan kepemimpinan perempuan dalam keluarga, masyarakat maupun pemerintahan. Selain itu mendorong kemandirian perempuan dalam ekonomi,” papar Haris.

Pendampingan itu pun membuahkan hasil. Perempuan sudah dilibatkan untuk berpartisipasi dan mengambil keputusan dalam urusan keluarga, sosial, maupun pemerintah. Mulai tampak pembagian peran yang adil GEDSI dalam rumah tangga. 

Dengan pembagian tugas yang adil di rumah, para perempuan memiliki cukup waktu untuk ikut memperkuat ekonomi keluarga. Di dalam kelompok perempuan itu mereka membuat olahan keripik pisang dan ubi yang dijual hingga ke Kota Kupang.

Pene Utara berada di Kecamatan Oenino, sebuah kampung di pedalaman Pulau Timor. Dari Kota Kupang, Pene Utara terpaut jarak 150 kilometer. Kondisi jalan menuju ke sana sebagian rusak berat. Hampir semua penduduk desa berjumlah 1.724 jiwa itu, hidup di bawah garis kemiskinan.

Suami ke Posyandu 

CIS kini mendorong lahirnya regulasi dalam bentuk peraturan desa mengenai penguatan GEDSI. Salah satu adalah suami dan istri berbagi peran mengantar anak atau ke posyandu. Sesuai jadwal sekali dalam sebulan. Anjuran itu kini masih sebatas instruksi Ketua Tim Penggerak PKK Desa Pene Utara.

Norma Wenci Tse, Ketua Tim Penggerak PKK Desa Pene Utara mengatakan, instruksi itu lahir dari hasil diskusi dalam kelompok perempuan. “Kami ingin adanya peran yang adil, dan itu diterima oleh bapak-bapak,” kata Wenci yang juga istri Kepala Desa Pene Utara, Fernandes Ekefi.

Ke depan, tak hanya urusan posyandu. Wenci mendorong perempuan Pene Utara ambil bagian dalam struktur pemerintahan seperti melamar menjadi staf di desa. Ia yakin, perempuan Pene Utara memiliki kemampuan. Selain Yosna sebagai bendahara gereja, Wenci sendiri kini menjadi kepala sekolah dasar di desa tersebut.

Kepala Desa Pene Fernandes Ekefi mengatakan, pemerintah desa memberi dukungan penuh terhadap penguatan GEDSI. Ekefi sendiri memberikan contoh. Sejak menikah, ia total membantu istri. Ia mencuci pakaian di tempat umum, dan dilihat banyak orang. Tujuannya, mengajak bapak-bapak agar mendukung istri mereka.

Menurut Ekefi, kesetaraan dan peran perempuan dalam kepemimpinan tidak lahir dari hasil belas kasihan. Perempuan didorong untuk meningkatkan kapasitas diri dan berkompetisi secara sehat. Perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama.

“Sesuai dengan regulasi, jabatan di desa harus dilamar, lalu mengikuti proses seleksi. Kami selalu menunggu, siapa calon perempuan yang mau mendaftar. Juga belum ada regulasi secara nasional mengenai kuota perempuan dalam struktur pemerintahan desa,” katanya.

Yosna dan Wenci jadi panutan. Mereka adalah buah dari perjuangan panjang melahirkan kesetaraan di daerah yang kental dengan kultur patriarkih. Kini, suara mereka bukan lagi han kolo atau suara burung yang tak perlu didengar. Lewat peran, suara perempuan kian lantang menggema di Pene Utara.

Comments
Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan cerita dan refleksi  yang kami pilihkan
Dapatkan cerita dan refleksi  yang kami pilihkan
Dapatkan cerita dan refleksi  yang kami pilihkan
Mari terhubung dengan kami!
Dapatkan cerita dan refleksi yang kami pilihkan