Cerita Perubahan dari Tahun Pertama WE for JET di Nusa Tenggara Timur
Di beberapa desa di Nusa Tenggara Timur, perubahan sering datang pelan-pelan. Tidak selalu berupa peraturan baru, papan proyek, atau bangunan yang berdiri di tengah kampung. Kadang ia muncul dari hal yang tampak kecil: seorang bapak membawa anak ke posyandu, seorang suami mulai mengambil air, seorang perempuan berani bicara dalam musyawarah desa, atau seorang anak dengan disabilitas pendengaran akhirnya mau hadir dalam kegiatan.
Perubahan seperti itu mungkin terlihat sederhana dari luar. Tetapi di desa-desa yang selama bertahun-tahun membagi ruang hidup secara tegas antara laki-laki dan perempuan, hal sederhana bisa menjadi tanda bahwa sesuatu sedang bergeser.
Program WE for JET yang dijalankan Oxfam di Indonesia bersama CIS Timor sejak Agustus 2023 hingga Juni 2024 bekerja di enam desa di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tiga desa berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan: Mutis, Nenas, dan Pene. Tiga desa lainnya berada di Kabupaten Sumba Barat Daya: Loko Kalada, Waikaninyo, dan Umbu Ngedo.
Di tahun pertamanya, kerja-kerja program banyak bergerak pada satu hal mendasar: membangun kesadaran.
Kesadaran bahwa transisi energi yang adil bukan hanya soal listrik, panel surya, atau sumber energi baru. Ia juga soal siapa yang menanggung beban kerja paling berat ketika energi terbatas. Siapa yang berjalan mengambil air. Siapa yang mencari kayu bakar. Siapa yang memasak, mencuci, mengasuh anak, merawat keluarga, tetapi jarang duduk di ruang pengambilan keputusan.
Di banyak desa dampingan, jawaban atas pertanyaan itu masih sering sama: perempuan.
Perempuan bertanggung jawab atas banyak urusan domestik. Mereka memasak, mencuci, mengambil air bersih, mengasuh anak, dan menjalankan kerja-kerja perawatan yang tidak dibayar. Pada saat yang sama, akses mereka terhadap informasi dan pengetahuan masih terbatas. Ketika desa berbicara soal pembangunan, energi, iklim, atau anggaran, perempuan belum selalu hadir sebagai pihak yang didengar.
Penyandang disabilitas menghadapi lapisan kerentanan lain. Mereka kerap dipandang tidak berdaya, sehingga jarang dilibatkan dalam pertemuan atau ditempatkan dalam struktur kelompok. Padahal, jika transisi energi disebut adil, maka keadilan itu semestinya juga menjangkau mereka.
Dari situ, kerja-kerja kecil dimulai.
Di Pene Utara, Kesetaraan Dimulai dari Sumur
Di Desa Pene Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, nama Bapak Danial Batmalo muncul sebagai salah satu penggerak kesetaraan gender. Ia bukan orang baru dalam urusan desa. Sebelum CIS Timor masuk ke Pene Utara, ia sudah terlibat dalam pengelolaan BUMDes dan pernah mengikuti pelatihan tentang gender.
Namun, Pene Utara bukan desa yang mudah berubah.
Menurut cerita Bapak Danial, sistem sosial di Pene Utara masih kuat dipengaruhi tradisi lama. Dahulu, posisi-posisi terdepan seperti panglima, tetua, dan raja selalu ditempati laki-laki. Perempuan berada di belakang. Cara pandang itu terbawa ke kehidupan masyarakat sehari-hari.
Bapak Danial punya istilah yang tajam untuk menggambarkan posisi perempuan dalam budaya itu: perempuan seperti “membuka kain gorden pintu tengah rumah saja tidak boleh.”
Kalimat itu terdengar seperti ungkapan biasa. Tetapi di baliknya ada sejarah panjang tentang siapa yang boleh tampil, siapa yang harus diam, siapa yang dipercaya memimpin, dan siapa yang dianggap cukup bekerja di belakang rumah.

Sekitar November 2023, CIS Timor melalui WE for JET melatih calon fasilitator desa dalam kegiatan Training of Trainers tentang GEDSI dan JET. Dalam koordinasi dengan pemerintah desa, beberapa calon fasilitator dipilih dari unsur masyarakat dan aparat desa. Bapak Danial menjadi salah satunya.
Pelatihan itu memperkuat keyakinannya bahwa kesetaraan tidak cukup dibicarakan dalam ruang pelatihan. Ia harus dipraktikkan.
“Sudah ada perubahan-perubahan kecil seperti bapak-bapak membawa anak ke posyandu, bukan istrinya lagi,” kata Bapak Danial.
Perubahan kecil itu dimulai dari dirinya sendiri. Ia mengambil kayu bakar. Mencuci pakaian. Memandikan anak. Mengambil air. Pekerjaan-pekerjaan yang selama ini sering disebut sebagai pekerjaan perempuan.
Ia pernah bercerita, ketika berada di rumah mertua, ia membantu mengambil air di sumur. Tetangga dan ibu mertuanya menegur.
“Itu kerja perempuan, malu jika dilihat orang.”
Tetapi ia tetap mengambil air.
Di Pene Utara, sumur menjadi lebih dari sekadar tempat mengambil air. Ia menjadi tempat di mana batas antara “kerja laki-laki” dan “kerja perempuan” mulai dipertanyakan. Dari tindakan yang tampak kecil itu, pesan besar disampaikan: pekerjaan rumah tangga bukan kodrat perempuan. Ia adalah tanggung jawab bersama.
Dorongan serupa juga datang dari tokoh adat. Dalam akhir kegiatan Focus Group Discussion untuk Rapid Care Analysis, seorang tokoh adat yang juga merupakan raja menyampaikan bahwa mereka yang telah memahami isu ini harus turun ke masyarakat.
“Untuk mengubah total itu kita adalah wakil-wakil yang harus terjun ke masyarakat untuk memotivasi bahwa kalau semua tugas itu dilakukan berarti kita masih dalam budaya, keadaan masa lampau. Jadi tugas dan tanggung jawab kita adalah menyampaikan ke masyarakat.”
Di Pene Utara, perubahan tidak lahir dari satu orang saja. Ia mulai menjadi percakapan bersama: di rumah, di forum, di adat, dan di desa.
Di Umbu Ngedo, Rasa Heran Berubah Menjadi Kelompok Wanita Tani
Di Desa Umbu Ngedo, kegiatan awal CIS Timor sempat membuat masyarakat bertanya-tanya. Mengapa pelatihan memisahkan perempuan dan laki-laki? Apa maksudnya membicarakan pembagian kerja rumah tangga? Mengapa urusan energi dibahas bersama urusan perempuan?
Rasa heran itu pelan-pelan berubah menjadi rasa ingin tahu.
Dalam kegiatan Rapid Care Analysis, peserta diajak menghitung dan membandingkan beban kerja perempuan dan laki-laki di rumah tangga. Dari proses itu, terlihat bahwa perempuan menanggung lebih banyak pekerjaan. Mereka bekerja lebih lama, tetapi banyak dari pekerjaan itu tidak dianggap sebagai kerja produktif.
Plh. Kepala Desa Umbu Ngedo melihat kegiatan CIS Timor sebagai cara untuk mengimbangi tradisi yang berlaku di masyarakat. Baginya, pekerjaan rumah tangga tidak seharusnya dibebankan hanya kepada perempuan. Laki-laki juga perlu mengambil peran.
Dari proses itu, perubahan lain muncul. Program WE for JET menginspirasi terbentuknya kelompok wanita tani. Kelompok itu kemudian menyebut dirinya Kelompok Wanita Tani CIS Timor. Pemerintah desa mengapresiasi inisiatif tersebut dengan mengadvokasi dukungan ikan lele untuk pemberdayaan kelompok.
Perubahan juga tampak dalam struktur kepemimpinan desa. Sejak 2023, perempuan diberi ruang menjadi Ketua Kader Pembangunan Manusia. Sebelumnya, posisi ini biasanya dipimpin laki-laki. Padahal, Kader Pembangunan Manusia memiliki peran penting dalam membantu pemerintah desa merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi pembangunan sumber daya manusia.
Di Umbu Ngedo, budaya patriarki memang masih ada. Tetapi tradisi juga tidak sepenuhnya tertutup. Dalam urusan adat, mulai ada ruang bagi perempuan untuk terlibat, bahkan menjadi juru bicara dalam proses pernikahan adat. Ia disebut sebagai perempuan pertama di Desa Umbu Ngedo yang mengambil peran tersebut.
Di bawah kepemimpinan Plh. Kepala Desa, perempuan dan penyandang disabilitas mulai dilibatkan dalam musyawarah dusun dan musyawarah desa. Undangan khusus diberikan langsung kepada perempuan dan penyandang disabilitas.
Desa juga mulai menunjukkan praktik kesetaraan lain: perempuan terlibat dalam struktur pemerintah desa sebagai kaur dan kepala dusun. Ada pula kader posyandu laki-laki. Sementara itu, melalui kebijakan desa, pemerintah merencanakan pengembangan jalur listrik PLN bagi rumah tangga yang belum terlayani listrik.
Di Umbu Ngedo, perubahan bergerak dari pertanyaan menjadi tindakan. Dari pelatihan menjadi kelompok. Dari rasa heran menjadi keterlibatan.
Di Loko Kalada, Ibu-Ibu Mulai Bicara dari Rumah
Di Desa Loko Kalada, kekerasan dalam rumah tangga masih menjadi tantangan. Salah satu akarnya adalah cara pandang yang menempatkan suami sebagai kepala keluarga yang lebih tinggi, sementara istri dianggap lebih rendah.
Setelah mengikuti pelatihan, peserta perempuan mulai membawa pulang pengetahuan yang mereka dapatkan. Mereka bicara kepada suami. Mereka menyampaikan bahwa pekerjaan rumah tangga tidak semestinya menjadi tanggung jawab perempuan semata. Mereka juga mulai memahami bahwa kekerasan dalam rumah tangga bukan sesuatu yang harus diterima sebagai hal biasa.
Ibu Maria Goreti Bunga, salah satu peserta, memberi contoh dari rumahnya sendiri.
“Semua pekerjaan dalam rumah, saya yang lakukan, semuanya! Namun melalui kegiatan CIS Timor saya jadi tahu bahwa kerja ini tidak sepenuhnya merupakan hak dan tanggung jawab saya, tapi juga bisa dilakukan laki-laki.”
Pelan-pelan, ia memberi pemahaman kepada suaminya. Setelah itu, suaminya mulai membantu pekerjaan rumah tangga.
Bagi orang luar, mungkin ini terdengar sederhana. Tetapi dalam rumah tangga yang selama bertahun-tahun membagi kerja berdasarkan kebiasaan lama, perubahan seperti itu berarti banyak. Ia menunjukkan bahwa pelatihan tidak berhenti sebagai materi, tetapi masuk ke dapur, halaman, kandang ternak, dan percakapan suami-istri.
Ibu Maria juga mulai terlibat dalam urusan ekonomi keluarga. Jika sebelumnya penjualan hewan ternak sepenuhnya dilakukan laki-laki, kini ia juga bisa berperan, terutama dalam negosiasi harga.
Perubahan di Loko Kalada juga menyentuh penyandang disabilitas. Masyarakat yang sebelumnya sering memandang penyandang disabilitas sebagai orang yang tidak berdaya mulai belajar melibatkan mereka.
Ibu Maria mendorong keterlibatan seorang anak dengan disabilitas pendengaran dalam kegiatan CIS Timor pada 2024. Ia percaya bahwa anak tersebut berhak hadir dan memahami proses kegiatan, meskipun memiliki keterbatasan mendengar.
Tantangannya jelas. Desa Loko Kalada belum memiliki juru bahasa isyarat. Kegiatan juga belum didukung penerjemah bahasa isyarat. Namun, peserta tidak berhenti di situ. Materi yang disampaikan dalam kegiatan diteruskan kepada anak tersebut dengan bantuan peserta lain yang memiliki kemampuan bahasa isyarat terbatas. Informasi juga disampaikan melalui ibunya, lalu diteruskan kepada sang anak.
“Saya pergi ke rumahnya, omong dengan dia agar ikut kegiatan. Saya bilang ke dia tidak perlu malu dan takut, tapi dia tidak mau,” kata Ibu Maria.
Ia terus memberi pengertian. Sampai akhirnya anak itu bersedia terlibat.
Di desa yang fasilitas inklusinya masih terbatas, upaya seperti ini menjadi penting. Ia mungkin belum ideal, tetapi ia membuka jalan. Ia membuat seseorang yang sebelumnya mungkin tidak terlihat menjadi bagian dari kegiatan desa.
Peserta perempuan di Loko Kalada juga mulai memberanikan diri terlibat dalam persoalan kekerasan terhadap perempuan. Dalam satu kasus rumah tangga, mereka mengutus seorang bapak untuk bernegosiasi agar seorang ibu dapat dibawa ke rumah sakit setelah sebelumnya tidak diperbolehkan.
Mereka melakukannya karena merasa terpanggil sebagai sesama perempuan.
Di Loko Kalada, solidaritas tumbuh dari pengalaman yang sama: sama-sama pernah diam, sama-sama pernah menanggung beban, lalu perlahan belajar bahwa mereka bisa saling menjaga.
Di Waikaninyo, Perempuan Mulai Mencatat yang Tak Terlihat
Di Desa Waikaninyo, budaya patriarki juga masih hidup sebagai kebiasaan turun-temurun. Dalam pembahasan rumah tangga, pertemuan desa, maupun kepemimpinan, perempuan sering dinomorduakan.
Namun, kebiasaan itu mulai berubah.
Laki-laki mulai mengangkat air, memberi makan ternak, dan melakukan pekerjaan lain yang dulu lebih sering dibebankan kepada perempuan. Dalam keputusan rumah tangga, perubahan juga mulai terlihat, termasuk ketika keluarga membeli barang atau memenuhi kebutuhan makan dan minum.
Di Waikaninyo, salah satu inisiatif penting datang dari peserta perempuan yang mengikuti pelatihan. Mereka melakukan pendataan penyandang disabilitas di desa. Hingga monitoring dilakukan, tercatat 12 orang penyandang disabilitas.
Pendataan ini tampak administratif. Tetapi sebenarnya ia politis dalam arti yang paling dasar: membuat yang sebelumnya tidak terlihat menjadi terlihat.
Sebab, orang yang tidak tercatat sering kali tidak masuk dalam perencanaan. Mereka tidak hadir dalam data, lalu tidak hadir dalam program. Ketika penyandang disabilitas mulai didata, pintu menuju pengakuan dan dukungan mulai terbuka.
Di Waikaninyo, perubahan dimulai dari mencatat. Dari mengenali. Dari menyadari bahwa keadilan juga berarti memastikan tidak ada warga yang hilang dari perhatian desa.
Hambatan yang Masih Menahan Langkah
Tentu saja, perubahan di enam desa ini belum selesai.
Di wilayah Timor Tengah Selatan, laki-laki masih mendominasi banyak pertemuan desa. Perempuan masih cenderung menyerahkan urusan publik kepada laki-laki. Dalam banyak hal, kebiasaan lama masih bekerja dengan kuat.
Pelibatan penyandang disabilitas juga masih menghadapi tantangan. Peserta dengan disabilitas pendengaran membutuhkan dukungan juru bahasa isyarat agar dapat mengikuti kegiatan secara bermakna. Tanpa dukungan itu, partisipasi masih bergantung pada upaya pribadi peserta lain atau keluarga.
Akses terhadap layanan dasar juga masih berat. Pasar, puskesmas, dan sarana air bersih berada jauh dari sebagian masyarakat. Jarak ini bukan hanya soal kilometer, tetapi soal waktu, tenaga, dan beban yang sering kembali jatuh kepada perempuan.
Sebagian besar masyarakat juga belum memiliki listrik. Semua rumah tangga masih memasak menggunakan kayu bakar. Rumah yang sudah dialiri listrik memang dapat menggunakan penanak nasi listrik, tetapi untuk memasak lauk pauk, kayu bakar masih digunakan.
Di tiga desa dampingan di Kabupaten Sumba Barat Daya, faktor pendidikan juga menjadi hambatan. Masih ada pandangan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena setelah menikah akan mengikuti suaminya. Pandangan ini berdampak pada kepercayaan diri perempuan dan kesempatan mereka untuk mengembangkan kapasitas.
Dengan kata lain, perubahan sudah mulai bergerak, tetapi struktur lama belum sepenuhnya bergeser.
Dari Rumah Tangga ke Musyawarah Desa
Salah satu pelajaran penting dari tahun pertama WE for JET adalah bahwa perubahan sosial tidak bisa hanya dimulai dari kebijakan. Ia juga harus masuk ke rumah tangga.
Karena di rumah tangga, ketidakadilan sering kali pertama kali terbentuk. Di sana, anak belajar siapa yang boleh duduk dan siapa yang harus melayani. Siapa yang mengambil keputusan dan siapa yang mengikuti. Siapa yang boleh keluar rumah dan siapa yang harus menyelesaikan kerja domestik.
Maka ketika laki-laki mulai mengambil air, itu bukan sekadar membantu istri. Ketika bapak-bapak mulai membawa anak ke posyandu, itu bukan sekadar menggantikan tugas sementara. Ketika perempuan mulai bicara dalam musyawarah desa, itu bukan sekadar menambah jumlah peserta.
Semua itu adalah tanda bahwa batas-batas lama mulai digeser.
Program ini juga menunjukkan bahwa proses penyadaran perlu melibatkan bapak dan ibu secara bersamaan. Jika hanya perempuan yang belajar, perubahan bisa tertahan di rumah. Jika hanya laki-laki yang diajak bicara, pengalaman perempuan bisa tetap tidak terdengar. Keduanya perlu berada dalam percakapan yang sama agar kesepahaman tumbuh di tingkat keluarga.
Kelompok penyandang disabilitas juga perlu terus didampingi dan dilatih agar memiliki keterampilan dan kepercayaan diri untuk berpartisipasi. Keadilan tidak cukup dengan menghadirkan mereka dalam daftar peserta. Mereka perlu ruang, akses, dan dukungan agar dapat benar-benar terlibat.
Perubahan yang Belum Besar, tetapi Sudah Berarti
Tahun pertama WE for JET di desa-desa dampingan CIS Timor memperlihatkan bahwa perubahan tidak selalu datang seperti gelombang besar. Ia lebih sering datang seperti air yang merembes: pelan, kecil, tetapi terus mencari jalan.
Di Pene Utara, seorang laki-laki mengambil air meski ditegur karena dianggap melakukan pekerjaan perempuan. Di Umbu Ngedo, perempuan mulai memimpin, membentuk kelompok, dan masuk dalam struktur desa. Di Loko Kalada, seorang ibu mulai bicara kepada suaminya tentang pembagian kerja rumah tangga dan mengajak anak dengan disabilitas pendengaran untuk hadir dalam kegiatan. Di Waikaninyo, perempuan mulai mendata penyandang disabilitas agar mereka tidak lagi luput dari perhatian.
Semua itu belum membuat desa berubah sepenuhnya. Tetapi ia membuka jalan.
Sebab perubahan besar sering kali dimulai dari tindakan yang kecil dan berulang. Dari mengambil air. Dari membawa anak ke posyandu. Dari mengundang perempuan ke musyawarah. Dari mencatat penyandang disabilitas. Dari menyadari bahwa kerja rumah tangga bukan milik perempuan semata. Dari percaya bahwa perempuan juga bisa memimpin.
Di desa-desa WE for JET, transisi energi yang adil perlahan menemukan bentuknya yang paling dekat dengan kehidupan warga. Ia bukan hanya soal energi yang lebih bersih. Ia juga soal beban kerja yang lebih adil, suara yang lebih didengar, dan keputusan desa yang mulai membuka ruang bagi mereka yang selama ini duduk di belakang.
Dari mengambil air hingga mengambil keputusan, perubahan itu sedang berjalan.
Diolah dari dokumen “Cerita Lapangan Y1” CIS Timor tentang monitoring lapangan Program WE for JET tahun pertama.











