Sambil menenteng dua ember berisi kotoran ternak, Ferderika Kalepao tiba di rumahnya pada Sabtu (23/5/2026) pagi. Ia baru pulang memungut cirit sapi yang bertebaran di tengah hamparan padang rumput, tempat warga kampung mengembalakan ternak peliharaan mereka.
Di pekarangan belakang rumah, suaminya, Christian Eduard, sudah menanti. Kini giliran Christian mencampur cirit dengan air. Perbandingannya, satu ember cirit sapi dicampur dengan satu ember air. Air dan cirit dimasukan ke dalam bak kemudian diaduk menggunakan besi.
Setelah encer, cirit bercampur air dialirkan masuk ke dalam bak penampung berbentuk kerucut. Bak dengan kedalaman 1,28 meter dari atas permukaan tanah, diameter dasar 2,8 meter, dan tinggi kerucut 0,9 meter. Di dalam bak itu berlangsung proses fermentasi cirit sapi menjadi gas.
Gas dari dasar bak menekan ke atas. Di bagian atas bak dipasangi pipa sepanjang 27 meter untuk mengalirkan gas menuju dapur. Ujung pipa tersambung langsung dengan kompor gas. Ferderika yang sudah berada di dapur langsung memutar kenop kompor. Semburan gas terdengar, dan api biru pun menyala.
Ferderika memperkenalkan biogas dari rumahnya di Desa Nenas, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.
“Kami di kampung tidak pernah menyangka kalau barang seperti kompor gas ini bisa hadir di rumah kami. Biasanya hanya ada di kota besar,”
Nenas berada di bawah kaki Gunung Mutis, dataran tertinggi di Timor Barat, Pulau Timor. Jarak dengan Kota Kupang sekitar 155 kilometer. Kondisi jalan menuju Nenas sebagian belum beraspal dengan batu-batu lepas sepanjang jalan. Medan jalan menanjak tajam serta turunan curam. Warga menyebutnya jalur neraka. Hanya mobil bergardan ganda yang boleh melenggang bebas.
Nenas berada di balik Taman Nasional Mutis Timau. Itu yang membuat berbagai akses warga di sana sangat minim. Taman nasional membatasi ruang pembangunan infrastruktur. Layanan Perusahaan Listrik Negara belum menjangkau. Jaringan telekomunikasi tidak stabil. Dengan nada cadaan, warga menyebutnya jaringan GSM. Artinya, geser sedikit mati. Jika sudah mendapat sinyal, posisi handphone tak boleh digeser.
Energi Terbarukan
Sudah hampir dua bulan, keluarga Ferderika menggunakan biogas. Ini berkat kehadiran program We for JET yang dijalankan oleh Yayasan Circle of Imagine Society (CIS) Timor. Fokus program We for JET salah satunya terkait peran perempuan dalam memanfaatkan energi baru dan terbarukan.
Biogas yang digunakan keluarga Ferderika memanfaatkan bahan baku yang ada di lingkungan sekitar. Setelah konstruksi bak penampung selesai dibangun, pertama-tama dibutuhkan cirit sapi cukup banyak. “Jumlahnya delapan pikap cirit sapi,” ujar dia.
Mereka mengambil cirit sapi dari kandang milik sendiri dan kandang warga setempat. Juga memungut cirit dari tengah padang. Daerah itu merupakan sentra peternakan sapi. Tak sulit mendapatkan cirit sapi. Dan itu cuma-cuma, tanpa mengeluarkan sepeserpun uang. Bahan baku biogas gratis.
Setelah proses fermentasi berlangsung selama satu minggu, gas sudah bisa digunakan. Volume dan tekanan gas sudah bisa digunakan untuk menghidupkan kompor gas. Selanjutnya, mereka hanya perlu mengisi ulang dua ember cirit sapi setiap dua atau tiga hari. “Ternyata, cirit sapi yang selama ini terbuang, punya manfaat yang luar biasa,” ucap Ferderika.
Direktur Yayasan Circle of Imagine Society (CIS) Timor Haris A CH Oematan mengatakan, ide biogas hadir ketika tim melakukan pemetaan potensi energi terbarukan di desa itu. Terungkap potensi biogas yang cukup besar dari kotoran ternak sapi. Hampir semua keluarga memiliki ternak sapi. Ini jadi modal bahan baku biogas. Proyek biogas dirancang.
Berkat dukungan warga serta teknis dari sala satu perguruan tinggi di Kupang, proyek biogas dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Biayanya sekitar Rp 15,7 juta. Komponen biaya terbesar adalah bahan baku konstruksi bak seperti pasir, batu bata, dan semen yang diangkut dari luar daerah. Selebihnya, kerja gotong-royong CIS Timor dan penerima manfaat.
Secara ekonomi, lanjut Haris, biogas di daerah itu sangat membantu perekonomian keluarga. Investasi biogas bisa digunakan selama puluhan tahun ke depan. Semua tergantung pada perawatan. Sekedar menghitung, harga tabung gas 12 kilogram di ibu kota kabupaten Rp 500.000 per tabung. Belum termasuk ongkos angkut Rp 100.000 ke Desa Nenas.
Menurut Haris, kehadiran biogas sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan yang lebih ramah pada lingkungan. Pemanfaatan energi baru dan terbarukan sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim akibat dampak pemanasan global. Masyarakat harus diajak untuk beradaptasi.
Alam Terjaga
Kehadiran biogas mengurangi pengeluaran keluarga Ferderika untuk membeli minyak tanah. Dalam sehari, keluarga dengan jumlah anggota 11 orang itu bisa menghabiskan hingga 5 liter minyak tanah. Di desa itu, harga minyak tanah per liter Rp 10.000 atau lebih dua kali lipat dari harga eceran tertinggi, yakni Rp 4.000 per liter.
Dalam rencana CIS Timor, praktek baik di keluarga Ferderika direplikasi di rumah lain atau kampung tetangga sekitar Gunung Mutis dan daerah lain di Pulau Timor yang memiliki potensi ternak sapi. Dengan begitu, gerakan penggunaan energi terbarukan yang murah dan ramah lingkungan niscaya akan semakin ramai.
Haris pun mendorong agar pemanfaatan biogas tidak sebatas untuk memasak. Mereka sedang menjajaki inovasi baru biogas untuk listrik. Di desa itu warga menggunakan panel listrik tenaga surya yang sering kali terkendala cuaca. Hujan dan suhu dingin nyisir sepanjang tahun. Daya lampu bertahan kurang dari 12 jam.
Christian Eduard, suami Ferderika, mengaku senang. Selain pengeluaran untuk beli minyak tanah sekitar Rp 1.000.000 per bulan berkurang, alam sekitar terjaga. Selama ini, untuk kebutuhan masak mereka juga menggunakan kayu bakar yang diambil dari hutan. Penebangan yang masif seiring bertambahnya jumlah penduduk, dapat merusak hutan Gunung Mutis yang menjadi sumber utama air di Timor Barat.
Begitu pula untuk budidaya tanaman hortikultura. Mereka tak lagi menggunakan pupuk kimia yang mencemari lingkungan. Limbah fermentasi cirit sapi digunakan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanaman. Ada tomat, daun bawang, cabai, kentang, dan wortel.
Tanaman umur panjang seperti siri, pisang, dan kelapa kian produktif berkat pupuk organik.
“Hadirnya biogas mengurangi pengeluaran. Di sisi lain, hasil pertanian melimpah dan semuanya bebas kimia. Jujur sampai sekarang kami tidak menyangka bisa mengalami perubahan seperti ini,” kata Christian yang merupakan pensiunan guru itu.
Perjumpaan dengan keluarga Ferderika diakhiri dengan makan siang bersama. Sup ayam yang dihidangkan dimasak menggunakan biogas. Sambal luat, sambal khas suku Timor, diracik dari cabai, daun sipa, dan daun kemangi. Tanaman itu tumbuh subur berkat limbah cirit sapi hasil fermentasi biogas. Lengkap dan nikmat.
Hadirnya biogas telah membawa keluarga Ferderika ke sebuah level yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Inovasi energi baru terbarukan tidak lagi menguap di ruang-riang konferensi level dunia. Inovasi kini hadir hingga di dapur perempuan Timor yang mendiami kaki Gunung Mutis. Perempuan Mutis membuktikan bahwa mereka bisa.








