Transisi energi di Indonesia tidak bisa dipahami hanya sebagai perubahan dari energi fosil menuju energi terbarukan. Di tingkat masyarakat, transisi energi juga berkaitan dengan beban kerja perempuan, akses terhadap listrik, penggunaan energi rumah tangga, ruang aman, pengetahuan lokal, hingga keterlibatan kelompok rentan dalam pengambilan keputusan.
Pesan inilah yang mengemuka dalam pembelajaran silang antara Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat melalui Project WE for JET. Kegiatan ini mempertemukan CIS Timor NTT, GEDSI JET Working Group NTB, Yayasan Penabulu, serta penggerak masyarakat dan Community-Based Organizations untuk melihat lebih dekat bagaimana transisi energi berkeadilan dapat dibangun dengan perspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion atau GEDSI.
Forum pembelajaran silang ini menjadi ruang penting untuk saling membaca konteks, berbagi pengalaman, dan memperkuat agenda bersama di kawasan Timur Indonesia. NTT dan NTB memiliki tantangan energi yang berbeda, tetapi keduanya menunjukkan satu kesamaan penting: transisi energi hanya akan berkelanjutan jika melibatkan mereka yang selama ini paling terdampak.
Dalam paparannya, Ketua Analisis Mitigasi dan Sektor Energi Pokja Perubahan Iklim NTT, Sherley Wila Huky, menjelaskan bahwa kesenjangan gender masih menjadi persoalan serius dalam sektor energi. Secara historis, sektor ini lebih banyak didominasi oleh laki-laki. Perempuan sering kali memiliki akses yang lebih terbatas terhadap pendidikan, keterampilan teknis, dan kesempatan pelatihan yang berkaitan dengan energi.
Temuan CIS Timor melalui Root Cause Analysis juga menunjukkan bahwa perempuan menanggung beban kerja domestik yang jauh lebih besar. Perempuan tidak hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, mengurus ternak, dan merawat keluarga, tetapi juga ikut menjalankan kerja-kerja produktif yang selama ini sering dilekatkan pada laki-laki.
Ketimpangan ini terlihat jelas dalam pembagian waktu. Perempuan memiliki waktu istirahat, termasuk tidur, sekitar tujuh jam. Sementara laki-laki memiliki waktu istirahat sekitar 13 jam. Sebaliknya, waktu produktif perempuan mencapai 17 jam, sedangkan laki-laki sekitar 11 jam.
Data ini menunjukkan bahwa pembahasan transisi energi tidak dapat dilepaskan dari pembahasan tentang kerja perawatan, beban domestik, dan ketimpangan gender di dalam rumah tangga.
Dari sisi akses energi, NTT juga masih menghadapi tantangan yang signifikan. Meskipun 87,81 persen rumah tangga telah terhubung dengan listrik PLN, masih terdapat 4,96 persen rumah tangga yang belum memiliki akses listrik. Selain itu, lebih dari 68 persen rumah tangga masih menggunakan kayu bakar untuk memasak, sementara penggunaan bahan bakar bersih seperti LPG masih sangat rendah, yaitu 2,35 persen.
Keterbatasan akses energi ini berdampak lebih besar pada perempuan. Ketika rumah tangga masih bergantung pada kayu bakar, perempuan sering kali harus menghabiskan lebih banyak waktu dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan memasak. Ketika akses listrik terbatas, ruang publik yang minim penerangan juga dapat meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender. Bagi penyandang disabilitas, keterbatasan energi dan layanan dasar menambah hambatan dalam mobilitas, akses informasi, dan partisipasi sosial.
Di sisi lain, masyarakat adat di NTT memiliki peran penting dalam membangun transisi energi yang berkelanjutan. Pengetahuan tradisional mereka dalam mengelola sumber daya alam dan menjaga ekosistem lokal menjadi modal penting bagi pembangunan energi yang selaras dengan budaya dan lingkungan. Keterlibatan masyarakat adat membantu memastikan bahwa inisiatif energi tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga sesuai dengan nilai lokal dan memberi manfaat bagi komunitas.
Dalam konteks NTT, sektor rumah tangga menjadi pengguna energi terbesar selama 10 tahun terakhir. Karena itu, peningkatan partisipasi gender di sektor rumah tangga memiliki peran penting dalam proses transisi energi. Perempuan dan keluarga dapat menjadi penggerak dalam optimalisasi penggunaan energi bersih, penerapan gaya hidup hemat energi, serta advokasi penggunaan energi baru terbarukan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, dari NTB, Ketua GEDSI JET Working Group NTB, Baiq Dewi Anjani, menjelaskan bahwa GEDSI JET Working Group hadir sebagai kelompok kerja untuk memperkuat kesetaraan gender, inklusi disabilitas, dan inklusi sosial dalam transisi energi berkeadilan. Pendekatan ini memastikan bahwa perpindahan dari energi fosil ke energi terbarukan tidak hanya mengejar target teknis, tetapi juga melibatkan kelompok rentan seperti perempuan, penyandang disabilitas, dan komunitas yang selama ini terpinggirkan.
Tujuannya jelas: memastikan transisi energi berjalan adil, tidak meninggalkan siapa pun, dan memberikan manfaat yang merata bagi seluruh kelompok masyarakat.
Visi GEDSI JET Working Group NTB adalah terwujudnya transisi energi yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan menjamin keterlibatan perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya dalam proses pembangunan yang inklusif. Visi ini diterjemahkan melalui sejumlah misi, mulai dari peningkatan kesadaran masyarakat, pelibatan aktif kelompok rentan dalam kebijakan energi, pembangunan gerakan multi-pihak, hingga pengarusutamaan GEDSI dalam transisi energi di berbagai level.
GEDSI JET Working Group NTB juga mendorong pentingnya data pilah berbasis gender, disabilitas, dan kelompok rentan lainnya. Data seperti ini penting agar kebijakan dan program energi tidak dibuat berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat. Selain itu, kelompok kerja ini menekankan pentingnya perlindungan hak, partisipasi, transparansi, akuntabilitas, dan praktik bisnis yang bertanggung jawab secara sosial maupun lingkungan.
Pembelajaran silang antara NTT dan NTB ini menunjukkan bahwa transisi energi berkeadilan membutuhkan lebih dari sekadar proyek dan teknologi. Ia membutuhkan ruang belajar bersama, pertukaran pengalaman, dan produksi pengetahuan yang berangkat dari realitas komunitas.
Melalui forum ini, Pokja Perubahan Iklim NTT dan GEDSI JET Working Group NTB diharapkan dapat terus membangun kerja sama berkelanjutan, termasuk menghasilkan produk pengetahuan tentang transisi energi dengan pendekatan GEDSI. Pengetahuan tersebut dapat menjadi rujukan penting dalam proses pembangunan energi, khususnya di kawasan Timur Indonesia.
Dari NTT dan NTB, kita belajar bahwa transisi energi yang adil harus dimulai dari kehidupan sehari-hari. Dari rumah tangga yang masih bergantung pada kayu bakar. Dari perempuan yang menanggung beban kerja berlapis. Dari penyandang disabilitas yang menghadapi hambatan akses. Dari masyarakat adat yang menjaga ekosistem lokal. Dari komunitas yang ingin terlibat, tetapi sering kali belum diberi ruang yang setara.
Transisi energi yang benar-benar berkeadilan bukan hanya tentang mengganti sumber energi. Ia adalah tentang mengubah cara pembangunan dijalankan: lebih inklusif, lebih partisipatif, lebih peka terhadap ketimpangan, dan lebih berpihak pada mereka yang selama ini paling rentan terdampak.
Artikel ini disadur dari “Pembelajaran Silang NTT-NTB Dalam Potret Transisi Energi Berkeadilan GEDSI” yang diterbitkan oleh NTTHits. Baca selengkapnya di sini: https://www.ntthits.com/humaniora/57716267109/pembelajaran-silang-ntt-ntb-dalam-potret-transisi-energi-berkeadilan-gedsi










