Transisi energi tidak hanya berbicara tentang listrik, teknologi, atau infrastruktur. Di tingkat rumah tangga dan desa, energi sangat dekat dengan kehidupan perempuan. Energi digunakan untuk memasak, mengurus keluarga, mengelola pekerjaan domestik, menjalankan usaha kecil, hingga mendukung aktivitas sehari-hari. Namun, dalam banyak ruang pengambilan keputusan, suara perempuan masih sering belum mendapat tempat yang setara.
Hal ini menjadi perhatian CIS Timor melalui Project WE for JET. Project Manager WE for JET CIS Timor, Lusia Caningsih Bunga, menilai bahwa partisipasi perempuan dalam sektor energi perlu terus diperkuat. Menurutnya, kebijakan energi harus berpihak kepada kelompok rentan agar manfaat pembangunan energi dapat dirasakan secara adil dan merata.
Lusia menyampaikan bahwa pemahaman tentang transisi energi berkeadilan masih belum merata. Bahkan, sejumlah instansi pemerintahan mengakui bahwa perumusan kebijakan dalam Rencana Umum Energi Daerah belum sepenuhnya mengintegrasikan perspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion atau GEDSI.
“Masih banyak lembaga dan orang yang belum memahami transisi energi berkeadilan. Bahkan beberapa instansi pemerintahan mengakui dalam perumusan kebijakan di Rencana Umum Energi Daerah, belum gender equality disabilitas sosial inklusi,” kata Lusia Caningsih Bunga.
Bagi CIS Timor, perempuan tidak bisa hanya ditempatkan sebagai konsumen energi. Di banyak desa, perempuan justru menjadi pengelola utama kebutuhan energi rumah tangga. Mereka mengetahui secara langsung bagaimana keterbatasan energi memengaruhi waktu, kesehatan, pengeluaran keluarga, dan kesempatan untuk terlibat dalam ruang publik.
Namun, stereotipe gender yang masih kuat membuat sektor energi kerap dipandang sebagai wilayah laki-laki. Energi dianggap sebagai urusan teknis, maskulin, dan jauh dari kerja-kerja domestik. Padahal, dampak akhir dari kebijakan dan layanan energi sangat banyak dirasakan oleh perempuan dan kelompok rentan.
“Bicara energi tidak terlepas dari urusan domestik dan sangat dekat dengan perempuan. Sayangnya energi itu sangat maskulin, semacam ada stigma sosial, bahwa urusan energi adalah urusan laki-laki, padahal output akhirnya dimanfaatkan perempuan dan kelompok rentan,” ujar Lusia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa transisi energi berkeadilan tidak cukup hanya berfokus pada penyediaan energi bersih. Prosesnya juga harus membuka ruang bagi perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan. Ketika perempuan tidak dilibatkan, kebutuhan riil rumah tangga, kelompok rentan, dan komunitas desa berisiko tidak terbaca dalam kebijakan.
Lusia juga menyoroti bahwa minimnya partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dapat berkaitan dengan meningkatnya kerentanan perempuan. Ketika suara perempuan tidak hadir dalam perencanaan, dampak sosial dari pembangunan energi lebih sulit dikenali dan diantisipasi. Karena itu, keterlibatan perempuan menjadi penting untuk memastikan transisi energi tidak menambah beban baru, tetapi justru membuka ruang perlindungan, pengakuan, dan pemberdayaan.
Melalui program-programnya, CIS Timor terus mendorong peningkatan kapasitas perempuan dan kelompok rentan di desa. Salah satunya melalui pendekatan yang melibatkan laki-laki untuk mendukung pembagian kerja domestik yang lebih adil. Dengan beban domestik yang lebih seimbang, perempuan memiliki waktu dan ruang yang lebih besar untuk ikut dalam forum desa, termasuk musyawarah perencanaan pembangunan.
“Kami punya program laki-laki baru untuk mendukung kerja-kerja domestik, sehingga waktu perempuan bisa digunakan untuk terlibat dalam musrenbang untuk menyampaikan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Supaya laki-laki maupun perempuan punya pemikiran terbuka terhadap perubahan iklim dan tidak berujung pada kekerasan,” kata Lusia.
Pendekatan ini menegaskan bahwa transisi energi yang adil harus dimulai dari perubahan relasi sosial. Laki-laki dan perempuan perlu sama-sama memahami bahwa isu energi, perubahan iklim, dan pembangunan desa bukan hanya urusan teknis. Semuanya berkaitan dengan kehidupan keluarga, pembagian peran, keselamatan, akses terhadap sumber daya, dan masa depan komunitas.
Dari Nusa Tenggara Timur, CIS Timor menunjukkan bahwa memperkuat partisipasi perempuan dalam sektor energi bukan sekadar agenda kesetaraan. Ini adalah syarat penting agar transisi energi berjalan lebih tepat sasaran, lebih aman, dan lebih berpihak pada kebutuhan masyarakat.
Ketika perempuan diberi ruang untuk berbicara, kebijakan energi menjadi lebih dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari. Ketika laki-laki ikut berbagi kerja domestik, perempuan memiliki peluang lebih besar untuk berpartisipasi. Dan ketika kelompok rentan dilibatkan sejak awal, transisi energi dapat menjadi jalan menuju pembangunan yang lebih adil bagi semua.
Artikel ini disadur dari “CIS Timor Mendorong Partisipasi Perempuan di Sektor Energi” yang diterbitkan oleh RRI. Baca selengkapnya di sini: https://rri.co.id/kupang/regional/2127946/cis-timor-mendorong-partisipasi-perempuan-di-sektor-energi











