Kupang menjadi ruang pertemuan bagi para mitra WE FOR JET pada September 2026. Setelah melalui tiga tahun perjalanan program, pertemuan kali ini membawa satu pertanyaan yang cukup sederhana, tetapi penting: apa yang perlu dilakukan secara berbeda dan lebih baik pada tahun keempat?
Pertanyaan tersebut mewarnai Kick-Off Meeting WE FOR JET Tahun ke-4 yang mempertemukan Yayasan Penabulu, Oxfam Australia, CIS Timor, Gema Alam NTB, YPPS, Publish What You Pay Indonesia, Asosiasi LBH APIK Indonesia, serta GEDSI JET Working Group NTB. Pertemuan ini juga menjadi kesempatan bagi para mitra yang selama ini lebih banyak berkoordinasi melalui ruang daring untuk kembali bertemu, melihat perjalanan program secara utuh, dan menyusun langkah bersama untuk satu tahun ke depan.
Tahun keempat WE FOR JET berangkat dari pengalaman yang sudah cukup panjang. Tiga tahun sebelumnya menghasilkan beragam praktik, pencapaian, tantangan, serta pembelajaran dari kerja di tingkat komunitas hingga kebijakan. Karena itu, kick-off diarahkan untuk melihat kembali perjalanan tersebut, mengidentifikasi bagian yang bekerja dengan baik, menemukan ruang yang masih perlu diperkuat, dan membangun hubungan yang lebih jelas antara kerja di tingkat komunitas, daerah, dan nasional.
“Pertanyaan penting untuk tahun keempat adalah: apa yang dapat kita lakukan secara berbeda dan lebih baik berdasarkan apa yang telah kita pelajari bersama?”
— Wawan Suyatmiko, Yayasan Penabulu
Bagi Oxfam Australia, ruang refleksi semacam ini penting agar pengalaman yang sudah terkumpul selama beberapa tahun tidak berhenti sebagai catatan pencapaian. Pengalaman tersebut perlu dibaca kembali sebagai dasar untuk memperkuat kualitas implementasi dan membuka kemungkinan kolaborasi baru.

“Kick-off ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk belajar dari apa yang sudah kita alami dan pelajari di tahun-tahun sebelumnya, lalu melihat bagaimana kita bisa bekerja lebih baik dan membangun kolaborasi baru ke depan.”
— Danya Salinas Guzman, Oxfam Australia
Dari capaian menuju dampak yang lebih luas
Refleksi terhadap tahun ketiga memperlihatkan perkembangan penting dalam perjalanan WE FOR JET. Program semakin banyak menjangkau perempuan dan kelompok rentan, praktik energi terbarukan mulai berkembang di berbagai wilayah dampingan, dan pengalaman dari komunitas semakin sering dibawa ke ruang diskusi kebijakan.
Pada tahun keempat, arah tersebut akan diperkuat. Rencana kerja para mitra mencakup lebih dari 57 aktivitas yang tersebar dalam empat area hasil program. Target keterlibatan mencapai 2.888 orang, dengan sekitar 66 persen perempuan dan 8 persen penyandang disabilitas. Angka ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kualitas partisipasi tetap perlu diperhatikan sepanjang pelaksanaan program.
Diskusi selama kick-off menunjukkan bahwa perhatian tahun keempat bergerak semakin jauh ke arah replikasi praktik, perluasan dampak, pemanfaatan energi terbarukan secara produktif, serta penguatan pengaruh suara komunitas dalam kebijakan dan kelembagaan.

Salah satu tema yang banyak dibahas adalah pemanfaatan energi terbarukan secara produktif. Pengalaman pengembangan biogas, briket, serta berbagai bentuk energi terbarukan skala komunitas mulai dilihat dalam kaitannya dengan kegiatan ekonomi perempuan, keberlanjutan usaha, serta akses masyarakat terhadap sumber energi yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari.
Di tingkat komunitas, manfaat tersebut juga mulai dibaca melalui perubahan-perubahan yang lebih dekat dengan kehidupan perempuan: berkurangnya waktu kerja, peluang ekonomi yang semakin terbuka, dan keberanian untuk menyampaikan pengalaman mereka sendiri.
“Di tahun keempat, kami ingin cerita perubahan komunitas menjadi lebih komprehensif. Perempuan dan para champion perlu semakin berani menyuarakan perubahan yang mereka alami, termasuk manfaat energi terbarukan terhadap ekonomi dan waktu kerja mereka.”
— Ningsih Bunga, CIS Timor
Pada saat yang sama, para mitra melihat pentingnya memperkuat hubungan antara pengalaman tersebut dengan agenda kebijakan energi. Diskusi mengenai RUED, RUEN, pembiayaan energi berbasis komunitas, hingga ruang fiskal pemerintah daerah memperlihatkan kebutuhan untuk terus menghubungkan pembelajaran dari desa dengan pengambilan keputusan di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional.
Menghubungkan pengetahuan, komunikasi, dan advokasi
Salah satu pembelajaran dari perjalanan sebelumnya adalah bahwa banyak pengetahuan muncul dari kerja masing-masing mitra, tetapi belum seluruhnya terhubung menjadi pengetahuan bersama. Cerita perubahan, data, praktik baik, hingga tantangan tersebar di berbagai organisasi dan wilayah.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tahun keempat akan memperkuat tiga task force yang berfokus pada pengelolaan pengetahuan dan data, komunikasi, serta advokasi. Ketiganya dirancang sebagai ruang kerja lintas organisasi sehingga informasi dari lapangan dapat diolah, dipahami bersama, lalu digunakan untuk mendukung komunikasi publik dan agenda advokasi.
Dalam diskusi mengenai pengelolaan pengetahuan, para peserta juga mengingatkan bahwa data perlu bergerak lebih jauh dari fungsi dokumentasi dan pelaporan. Tantangannya ada pada kemampuan membaca pola, melakukan sintesis, menemukan pembelajaran baru, dan mengubah pengalaman menjadi pengetahuan yang berguna bagi kerja bersama.
Prinsip kepemilikan pengetahuan juga mendapat perhatian. Pengetahuan mengenai praktik energi terbarukan, kepemimpinan perempuan, atau perubahan di tingkat komunitas tumbuh dari pengalaman masyarakat. Proses dokumentasi dan pembelajaran karena itu perlu memberi ruang agar pengetahuan tersebut tetap hidup dan dapat dikembangkan oleh komunitas yang melahirkannya.

Hal yang sama berlaku dalam komunikasi. Cerita perempuan dan kelompok rentan perlu hadir melalui perspektif mereka sebagai pelaku perubahan. Dampak program sering muncul melalui proses yang bertahap: pembagian peran dalam rumah tangga mulai berubah, perempuan memperoleh ruang lebih besar dalam pengambilan keputusan, pendapatan mulai meningkat, atau laki-laki mulai mengambil peran dalam mendorong kesetaraan. Perubahan seperti ini penting untuk terus direkam dan disampaikan.
Belajar dari komunitas
Rangkaian kick-off juga membawa para peserta keluar dari ruang pertemuan. Kunjungan lapangan ke Kelurahan Batakte, Kabupaten Kupang, menjadi kesempatan untuk melihat praktik energi terbarukan berbasis komunitas secara langsung, termasuk pemanfaatan biogas.

Kunjungan tersebut dirancang sebagai ruang pertukaran pengetahuan. Para peserta datang untuk mendengar pengalaman masyarakat sekaligus membawa pembelajaran dari wilayah dampingan masing-masing. Semangatnya sederhana: pembelajaran perlu bergerak dua arah, sehingga pengalaman dari satu wilayah dapat memperkaya kerja di wilayah lain.
Percakapan kemudian berlanjut dengan aktor pemerintah daerah. Ruang ini membuka pembahasan mengenai bagaimana praktik energi terbarukan berbasis komunitas dapat memperoleh dukungan kebijakan, pembiayaan, serta keterhubungan yang lebih kuat dengan agenda pembangunan daerah.
Menjaga keberlanjutan setelah program
Salah satu percakapan penting dalam kick-off menyentuh soal keberlanjutan. Pertanyaannya tidak berhenti pada apa yang bisa dicapai selama program berlangsung, tetapi juga pada apa yang akan tetap hidup setelah dukungan proyek berakhir.
Di tingkat masyarakat, pengalaman tiga tahun terakhir memberi optimisme. Berbagai praktik sudah mulai diterima karena manfaatnya dirasakan langsung dan sumber daya pendukungnya tersedia secara lokal.
“Kami cukup yakin praktik di tingkat masyarakat akan terus berjalan karena masyarakat sudah merasakan manfaatnya, dan sumber daya untuk mendukungnya juga tersedia di lingkungan mereka.”
— Melkior Koli Baran, YPPS
Keberlanjutan juga membutuhkan relasi yang terus dijaga dengan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, kelompok perempuan, lembaga keuangan, dan aktor lain yang memiliki peran dalam ekosistem transisi energi. Dengan begitu, praktik yang sudah tumbuh memiliki peluang lebih besar untuk berkembang setelah masa proyek selesai.
Tahun untuk memperkuat hubungan antarlevel
Perjalanan WE FOR JET berlangsung pada beberapa ruang sekaligus. Di desa, perempuan dan kelompok masyarakat mengembangkan praktik energi terbarukan serta memperkuat posisi mereka dalam kehidupan ekonomi dan pengambilan keputusan. Di tingkat daerah, organisasi masyarakat sipil bekerja bersama pemerintah dan jaringan lainnya untuk membawa perspektif GEDSI ke dalam perencanaan energi. Di tingkat nasional, pengalaman tersebut menjadi bagian dari percakapan mengenai arah kebijakan transisi energi Indonesia.
Tantangan tahun keempat adalah memastikan ketiga ruang tersebut semakin terhubung.
Diskusi selama kick-off beberapa kali menekankan pentingnya menjaga hubungan antara daerah dan nasional. Pengalaman dari komunitas membutuhkan jalur agar dapat masuk ke ruang kebijakan, sementara perkembangan kebijakan nasional perlu diterjemahkan kembali agar relevan bagi konteks daerah dan masyarakat. Karena itu, kolaborasi lintas organisasi menjadi salah satu fondasi utama dalam rencana kerja tahun ini.
Kick-Off WE FOR JET Tahun ke-4 akhirnya menjadi ruang untuk melihat perjalanan program dengan jarak yang lebih luas. Ada capaian yang layak dirayakan, pekerjaan yang masih perlu diperbaiki, dan banyak pengetahuan yang dapat dipertukarkan.
Tahun keempat membawa WE FOR JET ke tahap berikutnya: memperkuat praktik yang sudah tumbuh, mempertemukan pengetahuan dari berbagai wilayah, serta membawa suara perempuan dan kelompok rentan semakin dekat dengan ruang-ruang yang menentukan arah transisi energi.
Dari Kupang, WE FOR JET memasuki tahun keempat dengan pengalaman tiga tahun sebagai pijakan, kerja lintas organisasi sebagai kekuatan, dan keberlanjutan sebagai arah yang terus dijaga.









