Jakarta, 13 Juli 2026. WE FOR JET menyerukan perubahan mendasar dalam pembiayaan transisi energi agar masyarakat di wilayah terpencil dan belum terjangkau jaringan listrik tidak terus tertinggal. Seruan tersebut disampaikan oleh Deden Ramadani, Project Manager WE FOR JET, dalam Fair Finance Asia General Assembly 2026 di Jakarta.
Deden menjadi salah satu pembicara dalam sesi negara tuan rumah yang diselenggarakan ResponsiBank Indonesia bertajuk No One Left Off-Grid: Rethinking Finance for a Just Energy Transition. Sesi tersebut berlangsung di Pullman Jakarta Indonesia Thamrin CBD dan menjadi bagian dari rangkaian pertemuan tahunan Fair Finance Asia pada 13 sampai 17 Juli 2026.
Fair Finance Asia merupakan jejaring yang beranggotakan lebih dari 90 organisasi masyarakat sipil di berbagai negara Asia. Pertemuan tahunan ini mempertemukan koalisi masyarakat sipil, peneliti, pegiat sektor keuangan, dan mitra strategis untuk mendorong sistem keuangan yang bekerja bagi kepentingan manusia dan kelestarian bumi.
Dalam pemaparannya yang berjudul Too Small to Finance, Too Important to Ignore, Deden menyoroti paradoks pembiayaan transisi energi di Indonesia. Di tengah besarnya komitmen pendanaan transisi energi, banyak komunitas di daerah terpencil dan di luar jaringan listrik masih kesulitan memperoleh dukungan pembiayaan.
“Proyek energi berbasis komunitas mungkin terlihat kecil dari nilai investasinya, tetapi dampaknya tidak pernah kecil. Energi terbarukan dapat menurunkan pengeluaran rumah tangga, memperkuat usaha lokal, meningkatkan kesejahteraan, sekaligus mengurangi beban kerja perawatan tidak berbayar yang selama ini banyak ditanggung perempuan,” ujar Deden.
Menurutnya, sistem pembiayaan saat ini masih lebih sesuai untuk proyek besar dan terpusat. Akibatnya, inisiatif energi yang berskala kecil, tersebar, dan dikelola masyarakat kerap dianggap tidak efisien, bahkan sebelum manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungannya dinilai secara utuh.
Lembaga keuangan juga cenderung mengutamakan kepemilikan aset individual, riwayat kredit, serta arus kas yang mudah diprediksi. Cara penilaian tersebut belum cukup mengakui kepemilikan kolektif, pengetahuan lokal, ketahanan komunitas, manfaat lingkungan, maupun pengurangan beban kerja perempuan.
“Masalahnya bukan karena energi komunitas tidak memiliki nilai. Nilainya sudah nyata. Persoalannya adalah sistem pembiayaan kita masih menggunakan ukuran yang terlalu sempit untuk mengenali nilai tersebut,” kata Deden.
Dampak Nyata dari Tingkat Komunitas
WE FOR JET menghadirkan pengalaman masyarakat di Indonesia Timur untuk menunjukkan bahwa akses energi tidak semata-mata berkaitan dengan penyediaan teknologi. Akses tersebut juga berpengaruh terhadap distribusi waktu, kesempatan ekonomi, partisipasi perempuan, dan kendali masyarakat atas sumber daya di wilayahnya.
Di Desa Pandan Indah, Nusa Tenggara Barat, perempuan sebelumnya harus berjalan jauh melintasi wilayah perbukitan untuk mendapatkan air. Tanpa infrastruktur pompa yang terjangkau dan dapat diandalkan, biaya akses air secara tidak langsung ditanggung perempuan melalui waktu, tenaga, dan mobilitas sehari-hari.
Melalui Sekolah SETARA yang difasilitasi Gema Alam dalam program WE FOR JET, para perempuan mengubah persoalan rumah tangga tersebut menjadi tuntutan publik bersama. Advokasi mereka mendorong pemerintah desa membangun pompa air bertenaga surya dengan memanfaatkan infrastruktur komunal yang telah tersedia.
“Pompa surya memang mengalirkan air, tetapi pengorganisasian perempuanlah yang berhasil menggerakkan sumber daya publik. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa transisi energi yang adil harus menempatkan masyarakat, khususnya perempuan, sebagai pengambil keputusan, bukan sekadar penerima manfaat,” tutur Deden.
Pemanfaatan pompa air tenaga surya di Pandan Indah diperkirakan mengurangi biaya akses air masyarakat sekitar Rp60.000 per hari. Di wilayah lain, teknologi energi terbarukan juga mendukung penghidupan dengan cara yang berbeda.
Di Flores Timur, misalnya, pengering tenaga surya membantu meningkatkan mutu dan nilai jual kopra putih. Tempurung kelapa juga dikembangkan menjadi briket untuk menciptakan sumber pendapatan tambahan. Sementara itu, pemanfaatan biogas di Nusa Tenggara Barat menyediakan energi yang lebih bersih dan menghasilkan bio-slurry yang dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.
Berdasarkan analisis biaya dan manfaat WE FOR JET, setiap Rp1 yang ditanamkan pada dua model energi komunitas diproyeksikan menghasilkan nilai sosial dan ekonomi sekitar Rp7,28. Biodigester skala kecil yang menggunakan kotoran dua sampai tiga ekor sapi juga dapat menghasilkan sekitar 1,5 sampai 2,1 meter kubik biogas per hari, bergantung pada kandungan metana dan efisiensi kompor.
Membentuk Pembiayaan Berdasarkan Realitas Masyarakat
Melalui forum Fair Finance Asia, WE FOR JET mendorong agar pembiayaan transisi energi tidak lagi meminta komunitas menyesuaikan diri dengan standar kelayakan pembiayaan konvensional. Sebaliknya, produk dan mekanisme keuangan perlu dirancang berdasarkan realitas, risiko, dan pola penghidupan masyarakat.
Pendanaan untuk energi komunitas dapat memadukan hibah bagi tahap persiapan, modal jangka panjang yang terjangkau, skema penjaminan, serta pembayaran fleksibel yang mempertimbangkan musim produksi dan risiko lokal. Dukungan tersebut juga perlu diarahkan kepada koperasi, usaha yang dipimpin perempuan, serta sistem energi yang dimiliki dan dikelola secara kolektif.
Selain menyediakan perlindungan dari penguasaan manfaat oleh kelompok tertentu, rancangan pembiayaan harus memastikan perempuan dan kelompok marginal memiliki peran dalam menentukan prioritas pendanaan, pilihan teknologi, bentuk kepemilikan, dan pembagian manfaat.
“Model pembiayaan yang adil tidak seharusnya memaksa masyarakat mengikuti standar kelayakan perbankan yang tidak sesuai dengan kondisi mereka. Pembiayaanlah yang harus dibentuk ulang berdasarkan hak masyarakat, kepemilikan kolektif, pengetahuan lokal, dan keadilan gender,” tegas Deden.
Partisipasi WE FOR JET dalam Fair Finance Asia General Assembly 2026 menegaskan bahwa keberhasilan transisi energi tidak cukup diukur melalui besarnya investasi atau kapasitas energi yang terpasang. Transisi yang benar-benar adil juga harus dilihat dari siapa yang dapat mengakses pendanaan, siapa yang menentukan arah pembangunan, dan siapa yang memperoleh manfaatnya.
Bagi WE FOR JET, memastikan tidak ada masyarakat yang tertinggal di luar jaringan berarti mengakui bahwa solusi berskala komunitas terlalu penting untuk terus diabaikan.








