Mataram, NTB — Dukungan terhadap kepemimpinan perempuan dalam agenda transisi energi kembali ditegaskan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam pembukaan WONDER Fest 2026, Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Abul Chair, menekankan bahwa perempuan tidak boleh hanya diposisikan sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi harus menjadi bagian penting dari proses perubahan dan pengambilan keputusan.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri WONDER Fest 2026 (Women Lead Energy, Women Dare to Speak for Energy Justice) yang berlangsung di Taman Budaya NTB, Mataram. Festival ini menjadi ruang kolaborasi berbagai pihak untuk memperkuat peran perempuan dan kelompok rentan dalam mewujudkan transisi energi yang adil dan inklusif.
Dalam sambutannya, Abul Chair mengutip sebuah hadis yang mengajarkan pentingnya mengambil peran dalam menciptakan perubahan.
“Siapapun yang melihat suasana tidak ideal, ada hal yang tidak baik atau perlu diperbaiki, maka kewajibannya adalah berupaya mengubahnya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.”
Menurutnya, pesan tersebut berlaku bagi siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam konteks pembangunan dan transisi energi, setiap individu memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam menciptakan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Perempuan Membawa Perspektif yang Dibutuhkan
Abul Chair juga menyampaikan apresiasinya terhadap berbagai inisiatif yang ditampilkan dalam WONDER Fest, termasuk praktik-praktik baik yang dikembangkan oleh komunitas dan organisasi masyarakat sipil dalam mendorong keterlibatan perempuan di sektor energi.
Ia menilai perempuan memiliki pendekatan yang khas dalam mendorong perubahan sosial. Ketelitian, perhatian terhadap detail, serta kedekatan dengan kebutuhan masyarakat menjadi kekuatan yang penting dalam memastikan program pembangunan dapat berjalan lebih efektif dan menjangkau kelompok yang selama ini kurang terwakili.
Pandangan tersebut semakin relevan dalam konteks transisi energi. Berbagai pengalaman di tingkat komunitas menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya berperan sebagai pengguna energi, tetapi juga sebagai pengelola, pengambil keputusan, hingga penggerak usaha berbasis energi terbarukan yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan komunitas.
Membangun Kolaborasi untuk Energi Berkeadilan
Dalam kesempatan yang sama, Abul Chair menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sipil dalam mengawal agenda transisi energi di NTB.
Menurutnya, forum seperti GEDSI JET Working Group NTB memiliki peran strategis dalam menghadirkan perspektif masyarakat, mengidentifikasi tantangan di lapangan, serta memastikan bahwa kebijakan energi mampu menjawab kebutuhan kelompok yang selama ini kurang terdengar suaranya.
Pemerintah Provinsi NTB, lanjutnya, terbuka terhadap berbagai masukan yang bertujuan memperkuat pembangunan daerah dan memastikan manfaat transisi energi dapat dirasakan secara lebih merata.
Dari Partisipasi Menuju Kepemimpinan
Pesan yang mengemuka dalam WONDER Fest 2026 adalah bahwa transisi energi yang adil membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan teknologi energi terbarukan. Proses tersebut juga harus membuka ruang partisipasi yang bermakna bagi perempuan, penyandang disabilitas, masyarakat adat, dan kelompok rentan lainnya.
Ketika perempuan memperoleh kesempatan untuk memimpin, menyampaikan pengalaman mereka, serta terlibat dalam pengambilan keputusan, maka solusi yang dihasilkan akan lebih inklusif dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil, NTB terus menunjukkan bahwa transisi energi yang berkeadilan dapat dibangun dengan menempatkan masyarakat sebagai pusat perubahan.
Karena transisi energi yang berhasil bukan hanya tentang menghasilkan energi yang lebih bersih, tetapi juga memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang setara untuk menjadi bagian dari masa depan tersebut.
Artikel ini disadur dan dikembangkan dari pemberitaan Lombok Post








