Energi Berkeadilan di NTB: Ketika Perempuan, Komunitas, dan Pemerintah Bergerak Bersama

Share

Mataram, NTB — Transisi energi tidak hanya tentang mengganti sumber energi fosil dengan energi terbarukan. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), transisi energi juga dimaknai sebagai upaya memastikan bahwa manfaat pembangunan energi dapat dirasakan secara adil oleh semua orang, termasuk perempuan, penyandang disabilitas, masyarakat desa, dan kelompok rentan lainnya.

Semangat tersebut mengemuka dalam WONDER Fest 2026: Festival Perempuan dan Energi Menuju Net Zero Emission 2050 yang berlangsung di Taman Budaya NTB pada 30–31 Mei 2026. Festival ini mempertemukan pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, komunitas, sektor swasta, dan kelompok perempuan untuk berbagi pengalaman sekaligus memperkuat kolaborasi dalam mendorong transisi energi yang lebih inklusif.

Dari Panggung Seni hingga Ruang Kebijakan

Festival dibuka dengan pertunjukan drama yang dimainkan oleh perempuan-perempuan dari Sekolah SETARA (SEKRA) Gema Alam NTB. Melalui cerita sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mereka menggambarkan bagaimana perempuan desa berperan aktif dalam mendorong pemanfaatan energi bersih seperti biogas, kompos, dan panel surya.

Pertunjukan tersebut mengingatkan bahwa perempuan bukan hanya pengguna energi, melainkan juga pelaku utama yang mampu mengembangkan solusi energi di tingkat komunitas.

Pesan serupa juga muncul dalam berbagai sesi diskusi seperti BINERGY (Bincang Energy), Tutur Puan, dan Ngelasah, yang menghadirkan pengalaman langsung dari perempuan akar rumput, pemerintah, akademisi, dan pelaku sektor energi.

Menempatkan Keadilan di Jantung Transisi Energi

Associate Director Yayasan Penabulu, Sardi Winata, menegaskan bahwa keberhasilan transisi energi tidak dapat diukur hanya dari pembangunan teknologi atau besarnya investasi yang masuk.

“Transisi energi tidak hanya berbicara tentang teknologi, investasi, dan kebijakan, tetapi juga tentang keadilan sosial.”

Menurutnya, perempuan perlu memperoleh ruang yang lebih besar dalam proses pengambilan keputusan karena mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan yang penting dalam pengelolaan energi di tingkat rumah tangga maupun komunitas.

NTB dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi contoh praktik transisi energi yang inklusif karena berbagai inisiatif energi bersih telah berkembang di tingkat masyarakat dan didukung oleh kolaborasi berbagai pihak.

NTB dan Jalan Menuju Net Zero Emission 2050

Pemerintah Provinsi NTB terus mendorong percepatan pengembangan energi terbarukan sebagai bagian dari target Net Zero Emission 2050. Potensi yang dimiliki daerah ini cukup beragam, mulai dari energi surya, biomassa, mikrohidro, angin, hingga panas bumi.

Sekretaris Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, Niken Arumdati, menjelaskan bahwa capaian bauran energi terbarukan NTB saat ini telah mencapai sekitar 25 persen. Namun demikian, sebagian kebutuhan energi masih bergantung pada sumber energi fosil sehingga proses transisi perlu terus diperkuat.

Berbagai langkah telah dilakukan, termasuk pemasangan panel surya pada fasilitas publik, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro, serta penerapan teknologi biomassa pada sektor pembangkitan listrik.

Selain itu, kemitraan dengan perguruan tinggi juga terus dikembangkan untuk memperluas inovasi dan pemanfaatan energi terbarukan di tingkat masyarakat.

Belajar dari Desa: Ketika Biogas Menjadi Solusi

Salah satu praktik baik yang mendapat perhatian dalam festival ini datang dari Tetebatu Selatan, Lombok Timur.

Yuldi Astuti dari SEKRA Gema Alam menceritakan bagaimana masyarakat di desanya memanfaatkan biogas sebagai sumber energi alternatif. Pengalaman tersebut menjadi sangat relevan ketika terjadi kelangkaan LPG yang sempat dirasakan masyarakat.

“Ketika elpiji langka, justru warga yang memiliki biogas tetap bisa memasak.”

Lebih dari sekadar teknologi, pembangunan biogas dilakukan melalui gotong royong dan swadaya masyarakat. Pengalaman ini menunjukkan bahwa ketahanan energi dapat dibangun dari tingkat lokal ketika masyarakat memiliki akses, pengetahuan, dan kesempatan untuk berpartisipasi.

Kepemimpinan Perempuan untuk Masa Depan Energi yang Inklusif

Dalam sesi Tutur Puan, berbagai perempuan pemimpin komunitas berbagi pengalaman mengenai upaya mereka mengembangkan energi bersih, memperkuat ekonomi keluarga, hingga memperjuangkan akses yang lebih setara bagi kelompok rentan.

Pesan yang muncul dari berbagai diskusi tersebut sangat jelas: transisi energi yang adil tidak dapat dicapai tanpa keterlibatan perempuan dan kelompok yang selama ini kurang terwakili dalam pembangunan.

Komitmen tersebut juga semakin diperkuat dengan hadirnya Pergub NTB Nomor 13 Tahun 2024 tentang Energi Hijau, yang membuka ruang lebih luas bagi integrasi perspektif kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial dalam pembangunan energi di daerah.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, komunitas, dunia usaha, dan akademisi, NTB menunjukkan bahwa transisi energi bukan hanya soal teknologi yang lebih bersih. Transisi energi juga tentang membangun masa depan yang lebih adil, lebih inklusif, dan mampu memberikan manfaat bagi semua.

Karena energi yang sesungguhnya bukan hanya berasal dari panel surya, biogas, atau pembangkit listrik. Energi terbesar lahir dari manusia yang bersedia bergerak bersama untuk menciptakan perubahan.

Artikel ini disadur dan dikembangkan dari pemberitaan RRI Mataram berjudul “Energi Berkeadilan Terangi Jalan Transisi Energi di NTB” yang terbit di rri.co.id.

Comments
Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan cerita dan refleksi  yang kami pilihkan
Dapatkan cerita dan refleksi  yang kami pilihkan
Dapatkan cerita dan refleksi  yang kami pilihkan
Mari terhubung dengan kami!
Dapatkan cerita dan refleksi yang kami pilihkan