Pendidikan Pembebasan ala SEKRA

Share

Analisis Kritis dari Paulo Freire dan Kisah Perempuan SEKRA

Ditulis Oleh: Muhammad Juaini, Project Manager WE FOR JET, Gema Alam

Di era ketika pendidikan sering kali direduksi menjadi sekadar pabrik tenaga kerja, atas nama “link and match” atau tuntutan industri 4.0, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah ruang kelas kita sedang memanusiakan manusia, atau justru sedang mencetak baut-baut patuh untuk mesin besar ekonomi yang timpang? Pendidikan tidak pernah netral. Ia selalu memiliki muatan politis: entah ia menjadi alat penjinakan agar seseorang tunduk pada sistem, atau ia menjadi instrumen pembebasan yang memampukan seseorang mengubah dunianya.

Paulo Freire, pemikir pedagogi radikal asal Brasil, mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati haruslah membongkar struktur ketidakadilan. Gagasan ini menemukan bentuknya yang paling hidup di Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Sekolah SETARA untuk Kepemimpinan dan Keadilan (SEKRA). Melalui perjuangan para perempuan desa dalam SEKRA, kita melihat bahwa teori Freire bukan sekadar wacana usang, melainkan kompas bagi perubahan sosial yang nyata.

Berhenti Menjadi “Bank”: Melawan Pendidikan Gaya Bank

Freire memberikan kritik tajam terhadap apa yang ia sebut sebagai banking education (pendidikan gaya bank). Dalam model ini, guru bertindak sebagai “penabung” pengetahuan yang merasa paling tahu, sementara murid dianggap sebagai “celengan” kosong yang pasif. Murid hanya diminta menerima, menghafal, dan mengulang, sebuah proses yang mematikan daya kritis.

“Dalam konsep perbankan tentang pendidikan, pengetahuan adalah sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka yang mereka anggap tidak tahu apa-apa.”

Model ini sangat berbahaya bagi masyarakat desa. Mengapa? Karena pendidikan gaya bank menanamkan fatalisme. Ketika kurikulum hanya berisi teori yang jauh dari realitas petani atau perempuan desa, mereka dididik untuk percaya bahwa kemiskinan dan ketidakadilan adalah “nasib” atau takdir yang tidak bisa diganggu gugat. Inilah cara sistem melestarikan status quo: dengan membuat kaum tertindas merasa bodoh dan tak berdaya di hadapan pengetahuan yang serba teknokratis.

Memecah “Budaya Bisu” melalui Penyadaran (Conscientization)

Jantung dari pedagogi Freire adalah conscientization atau penyadaran. Ini bukan sekadar proses “tahu”, melainkan proses politik untuk mengenali kontradiksi sosial yang menjerat hidup. Sebelum mengenal SEKRA, banyak perempuan desa terjebak dalam culture of silence (budaya bisu). Mereka bekerja tanpa henti namun suaranya tak terdengar dalam pengambilan keputusan desa.

Melalui metode Participatory Rural Appraisal (PRA) dan Rapid Care Analysis (RCA), para perempuan ini mulai melakukan apa yang disebut Freire sebagai “menamai dunia”. Mereka menganalisis beban kerja perawatan (unpaid care work), pekerjaan domestik yang selama ini dianggap sebagai “kodrat” yang melelahkan.

Di sinilah transisi dari kesadaran magis ke kesadaran kritis terjadi: mereka menyadari bahwa krisis air yang memaksa mereka berjalan berkilo-kilometer atau krisis energi yang mencekik ekonomi keluarga bukanlah “cobaan Tuhan” atau fenomena alam semata, melainkan sebuah kegagalan politik dan eksklusi anggaran. Menamai masalah sebagai ketidakadilan struktural adalah langkah pertama menuju pembebasan.

Dialog: Perjumpaan Antar-Subjek yang Setara

Bagi Freire, dialog bukan sekadar metode diskusi, melainkan inti dari kemanusiaan. Dialog sejati menuntut perjumpaan antara subjek-subjek yang setara untuk memahami dunia bersama-sama. Dalam praktik SEKRA, pengetahuan tentang ekonomi lokal atau energi bersih tidak datang sebagai instruksi satu arah dari fasilitator, melainkan lahir dari dialektika pengalaman warga.

Freire menegaskan bahwa dialog yang membebaskan harus dibangun di atas fondasi berikut:

  • Cinta: Komitmen yang mendalam terhadap dunia dan sesama manusia.
  • Kerendahan Hati: Kesadaran bahwa tidak ada orang yang memiliki kebenaran mutlak; semua orang punya sesuatu untuk dipelajari.
  • Kepercayaan: Keyakinan pada kemampuan orang-orang marjinal untuk menciptakan perubahan.
  • Harapan: Bahan bakar yang menjaga perjuangan tetap hidup meski di bawah tekanan struktur.

Praxis: Ketika Refleksi Menjelma Menjadi Aksi Nyata

Pendidikan pembebasan menuntut adanya Praxis, kesatuan yang tak terpisahkan antara refleksi dan tindakan. Freire memperingatkan bahwa refleksi tanpa tindakan hanyalah omong kosong (verbalisme), sedangkan tindakan tanpa refleksi adalah gerakan tanpa arah (aktivisme buta).

“Praxis: refleksi dan tindakan manusia atas dunia untuk mengubahnya.”

Perempuan SEKRA menjalankan praxis yang luar biasa dalam konteks Just Energy Transition (JET) atau transisi energi yang berkeadilan. Mereka tidak berhenti pada diskusi tentang krisis energi. Setelah melakukan pemetaan masalah (refleksi), mereka bergerak melakukan aksi nyata: mengadvokasi anggaran desa dan membangun teknologi tepat guna seperti pompa air tenaga surya dan unit biogas.

Namun, praxis ini bersifat siklikal. Setelah aksi dilakukan, mereka berefleksi kembali: bagaimana mengelola teknologi ini secara mandiri? Bagaimana menjaga agar kepemimpinan ini tetap kolektif? Inilah pendidikan yang dinamis, di mana masyarakat belajar melalui proses mengubah kenyataan mereka sendiri.

Pembebasan adalah Perubahan Struktur, Bukan Hadiah Paternalistik

Pelajaran terakhir dari Freire adalah bahwa pembebasan sejati tidak pernah diberikan sebagai “hadiah” atau “kedermawanan” dari kaum penindas maupun fasilitator luar. Pembebasan adalah hasil perjuangan kolektif di mana kaum tertindas memposisikan diri mereka sebagai subjek sejarah.

Keberhasilan SEKRA di NTB terukur secara struktural. Mereka berhasil mendorong alokasi anggaran Dana Desa sebesar Rp. 163 juta untuk kebutuhan praktis perempuan dan kelompok marjinal. Lebih jauh lagi, pembebasan ini bersifat inklusif dengan merangkul kelompok difabel, memastikan bahwa martabat setiap manusia dipulihkan tanpa terkecuali.

Inilah esensi dari humanisasi: ketika struktur desa yang dulunya maskulin dan eksklusif berubah menjadi institusi yang mengakui kepemimpinan perempuan dan hak kelompok disabilitas. Pembebasan bukan sekadar “menolong” orang miskin, melainkan merombak relasi kuasa agar penindasan tidak lagi memiliki ruang untuk tumbuh.

Kesimpulan: Sebuah Ajakan untuk Berpihak

Kisah Freire dan transformasi perempuan SEKRA memberikan pesan benderang: pendidikan haruslah berakar pada pengalaman rakyat dan bermuara pada keadilan sosial. Jika pendidikan hanya menjauhkan kita dari realitas rakyat kecil atau membuat kita nyaman dalam privilese tanpa peduli pada ketimpangan, maka pendidikan tersebut telah gagal menjalankan misi kemanusiaannya.

Pendidikan adalah arena perjuangan. Sekarang, mari kita bertanya pada diri sendiri dengan jujur: Apakah pendidikan Anda telah membekali Anda dengan cermin untuk melihat ketidakadilan, atau justru memberikan penutup mata yang nyaman agar Anda tetap patuh pada sistem yang menindas orang lain?

Rapid Care Analysis dalam Transisi Energi

Prev

Dari Dapur ke Politik Iklim

Next
Comments
Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan cerita dan refleksi  yang kami pilihkan
Dapatkan cerita dan refleksi  yang kami pilihkan
Dapatkan cerita dan refleksi  yang kami pilihkan
Mari terhubung dengan kami!
Dapatkan cerita dan refleksi yang kami pilihkan