Di Balik Transisi Energi di NTT, Ada Kerja Perawatan yang Perlu Diakui

Share

Transisi energi sering dibicarakan sebagai urusan teknologi, pembangkit listrik, jaringan, dan sumber energi terbarukan. Namun, di banyak desa di Nusa Tenggara Timur, transisi energi juga sangat berkaitan dengan sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: kerja perawatan.

Kerja perawatan mencakup aktivitas seperti memasak, mencuci, mengambil air, mencari kayu bakar, merawat anak, mendampingi keluarga yang sakit, hingga menyiapkan kebutuhan rumah tangga. Pekerjaan ini menopang kehidupan keluarga dan komunitas. Namun, sebagian besar dilakukan tanpa bayaran dan sering tidak terlihat.

Laporan Rapid Care Analysis (RCA) UCDW (Unpaid Care Domestic Work) CIS Timor di NTT menunjukkan bahwa kerja perawatan tak berbayar memiliki hubungan erat dengan transisi energi yang adil. Data dan analisis tentang care work dan gender menjadi penting untuk memastikan bahwa agenda energi terbarukan benar-benar bermanfaat bagi perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya.  

RCA Membuka Cerita di Balik Rutinitas Harian

RCA dilakukan dalam konteks program WE For JET yang dijalankan oleh Oxfam di Indonesia bersama CIS Timor di enam desa di Nusa Tenggara Timur. Lokasinya berada di dua kabupaten, yaitu Timor Tengah Selatan dan Sumba Barat Daya. Desa-desa tersebut mencakup Mutis, Nenas, Pene Utara, Loko Kalada, Waikaninyo, dan Umbu Ngedo.  

Kajian ini menggunakan beberapa alat analisis, antara lain siklus harian dan analisis waktu kerja, norma dan distribusi peran gender, infrastruktur kerja perawatan, serta prioritas kebutuhan terkait kerja perawatan. Pendekatan ini membantu melihat bagaimana perempuan dan laki-laki menggunakan waktu, membagi peran, dan menghadapi keterbatasan layanan dasar di desa.  

Temuannya jelas: perempuan memikul beban kerja yang jauh lebih banyak. Mereka tidak hanya melakukan pekerjaan domestik, tetapi juga ikut bekerja di kebun, menjalankan usaha kecil, mengurus ternak, dan mengikuti aktivitas sosial. Dalam banyak kasus, perempuan bangun lebih pagi dan tidur lebih malam dibandingkan laki-laki.

Laporan ini mencatat bahwa perempuan dapat memiliki waktu produktif hingga 18 jam per hari, sementara laki-laki sekitar 12 jam. Perempuan juga memiliki waktu istirahat yang jauh lebih sedikit. Situasi ini memperlihatkan apa yang sering disebut sebagai “miskin waktu”, yaitu kondisi ketika perempuan hampir tidak memiliki cukup waktu untuk beristirahat, belajar, berorganisasi, atau mengembangkan usaha.

Norma Gender membuat Beban Perempuan Tidak Terlihat

Pembagian kerja di desa sangat dipengaruhi oleh norma sosial, budaya, dan kebiasaan keluarga. Banyak pekerjaan rumah tangga dianggap sebagai “pekerjaan perempuan”, seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengambil air, dan mengasuh anak. Sebaliknya, laki-laki lebih sering ditempatkan pada ruang publik, pekerjaan fisik, atau peran pengambilan keputusan.

Dalam FGD di Desa Pene Utara, misalnya, memasak dan menyiapkan makanan dipahami sebagai tugas perempuan karena dianggap sebagai bagian dari tradisi dan kebiasaan keluarga. Pekerjaan seperti mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan mengasuh anak juga dilekatkan pada perempuan.  

Pola serupa juga muncul di Desa Waikaninyo, Sumba Barat Daya. Perempuan memegang peran besar dalam memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, mengambil kayu api, menyiapkan konsumsi acara adat, serta melayani kebutuhan ritual. Namun, laki-laki tetap lebih terlihat dalam peran adat, seperti memimpin acara, memotong hewan, atau menjadi juru bicara adat.  

Artinya, perempuan bekerja di banyak ruang, tetapi kontribusinya sering tidak diakui sebagai kerja penting. Mereka hadir dalam rumah, kebun, adat, dan komunitas. Namun, suara mereka belum selalu hadir dalam keputusan.

Air, Listrik, dan Jalan Menentukan Berat Ringannya Kerja Perawatan

Kajian RCA juga menunjukkan bahwa infrastruktur desa sangat menentukan beban kerja perempuan. Akses air bersih, listrik, layanan kesehatan, pendidikan, jalan, dan pasar bukan hanya isu pembangunan fisik. Semua itu berhubungan langsung dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk kerja perawatan.

Di beberapa desa, sumber air tersedia, tetapi belum ada jaringan perpipaan sampai ke rumah. Akibatnya, warga, terutama perempuan, tetap harus berjalan untuk mengambil dan memikul air. Dalam konteks desa dengan jarak sumber air 500 meter hingga 1 kilometer, pekerjaan mengambil air bukan hal ringan, apalagi jika kondisi jalan tidak rata atau curam.

Listrik juga menjadi kebutuhan penting. Di Desa Pene Utara, warga menilai jaringan listrik dapat membantu perempuan bekerja pada malam hari, mendukung anak belajar, memudahkan komunikasi, serta mengurangi ketergantungan pada kayu bakar untuk beberapa pekerjaan rumah tangga. Di Desa Nenas, listrik tenaga surya sudah tersedia, tetapi masih terbatas untuk penerangan dan belum cukup mendukung aktivitas produktif.  

Kondisi ini menunjukkan bahwa transisi energi tidak boleh berhenti pada penyediaan teknologi. Energi harus dilihat dari dampaknya terhadap kehidupan warga, terutama kelompok yang selama ini menanggung beban kerja paling besar.

Transisi Energi Adil Harus Mengurangi Beban, Bukan Menambah Beban Baru

Salah satu pembelajaran penting dari laporan ini adalah bahwa transisi energi yang adil harus memperhitungkan kerja perawatan. Ketika rumah tangga masih bergantung pada kayu bakar, perempuan menghabiskan waktu untuk mencari, menyiapkan, dan menggunakan bahan bakar tersebut. Ketika listrik terbatas, perempuan kehilangan kesempatan untuk melakukan pekerjaan produktif pada malam hari. Ketika air bersih jauh, waktu perempuan habis untuk mengambil air.

Dengan kata lain, keterbatasan energi dan infrastruktur memperpanjang jam kerja perempuan. Situasi ini juga membatasi ruang perempuan untuk belajar, berorganisasi, memimpin, dan terlibat dalam forum pengambilan keputusan.

Karena itu, agenda transisi energi perlu dikaitkan dengan perubahan relasi gender. Energi terbarukan harus membantu mengurangi beban kerja perawatan. Teknologi harus ramah digunakan. Infrastruktur harus menjawab kebutuhan nyata warga. Dan proses perencanaan harus melibatkan perempuan, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan sejak awal.

Jalan Perubahan: Dari Rumah Tangga ke Kebijakan Desa

Laporan ini merekomendasikan pentingnya penguatan kapasitas dan penyadaran tentang keadilan gender, tidak hanya untuk perempuan, tetapi juga bagi laki-laki, tokoh adat, tokoh agama, pemerintah desa, dan masyarakat luas. Perubahan perlu dimulai dari rumah tangga, tetapi juga harus didukung oleh kebijakan desa dan daerah.

Pemerintah desa dan daerah perlu memastikan keterlibatan perempuan dalam perencanaan pembangunan, terutama terkait energi, air bersih, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi lokal. Kebijakan dan anggaran desa perlu memberi perhatian pada infrastruktur yang dapat mengurangi beban kerja perawatan, seperti perpipaan air bersih, akses listrik, layanan kesehatan, jalan desa, dan fasilitas pendidikan.

Perubahan juga membutuhkan dukungan aktor kunci. Orang tua dapat menjadi contoh pembagian kerja yang lebih adil di rumah. Tokoh adat dan agama dapat membantu mengubah norma yang membatasi perempuan. Pemerintah dapat membuka ruang partisipasi. Masyarakat dapat memastikan bahwa kerja perawatan tidak lagi dianggap sebagai urusan perempuan semata.

Mengakui Kerja Perawatan adalah Bagian dari Keadilan Energi

Transisi energi yang adil di NTT harus menjawab kebutuhan paling nyata di tingkat rumah tangga. Bukan hanya berapa banyak listrik yang tersedia, tetapi apakah listrik itu mengurangi beban perempuan. Bukan hanya berapa banyak infrastruktur dibangun, tetapi apakah infrastruktur itu membuat hidup warga lebih mudah, aman, dan setara.

Laporan RCA CIS Timor mengingatkan bahwa kerja perawatan adalah fondasi kehidupan. Ketika kerja ini tidak diakui, perempuan terus menanggung beban yang berat dalam diam. Namun, ketika kerja perawatan dihitung, dibagi, dan didukung oleh infrastruktur yang memadai, transisi energi dapat menjadi jalan menuju keadilan yang lebih nyata.

Energi bersih seharusnya tidak hanya menerangi rumah. Ia juga harus membuka waktu, ruang, dan kesempatan bagi perempuan untuk memimpin perubahan.

Unduh laporan lengkap Rapid Care Analysis (RCA) UCDW CIS Timor di NTT dalam Bahasa Indonesia di sini.

Transisi Energi di NTT Harus Adil untuk Semua

Prev

Perempuan Umbungedo Mulai Didengar

Next
Comments
Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan cerita dan refleksi  yang kami pilihkan
Dapatkan cerita dan refleksi  yang kami pilihkan
Dapatkan cerita dan refleksi  yang kami pilihkan
Mari terhubung dengan kami!
Dapatkan cerita dan refleksi yang kami pilihkan