Kupang, 13 Maret 2026 — Yayasan CIS Timor menggelar kegiatan “Ruang Temu Pentahelix: Berbagi Makna, Meluaskan Aksi” di Swiss-Belcourt Kupang pada 12–13 Maret 2026. Kegiatan ini mengusung semangat AU BISAA, yaitu kepemimpinan perempuan yang berdaya melalui energi hijau menuju desa yang adaptif dan aman bencana.
Forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, komunitas perempuan, kelompok penyandang disabilitas, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Melalui ruang temu ini, CIS Timor mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat peran perempuan dalam pengelolaan energi terbarukan, pengurangan risiko bencana, dan pembangunan desa yang lebih inklusif.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program WE for JET (Women and Energy for Just Energy Transition) yang dijalankan oleh CIS Timor dengan dukungan Penabulu Foundation dan Oxfam Australia. Program ini mendorong integrasi prinsip kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial atau GEDSI dalam kebijakan transisi energi, sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan melalui pemanfaatan energi terbarukan.
Di Nusa Tenggara Timur, WE for JET berupaya memastikan perempuan dan kelompok rentan tidak hanya dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi nyata dari transisi energi yang adil.
Direktur CIS Timor, Haris A. CH. Oematan, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat kepemimpinan perempuan yang selama ini kerap dipandang hanya berperan di ranah domestik. Menurutnya, perempuan dari sejumlah wilayah dampingan seperti Timor Tengah Selatan, Sumba Barat Daya, Flores Timur, dan Kabupaten Kupang hadir sebagai champion komunitas untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan praktik baik yang telah mereka kembangkan.
“Kami ingin mendorong spirit empowering yang fokus pada kepemimpinan perempuan. Kami ingin mempromosikan champion perempuan dari berbagai daerah untuk bagaimana mereka berproses, tidak hanya berperan di ranah domestik, tapi juga berperan dalam pemberdayaan masyarakat, termasuk mempengaruhi kebijakan dan pengambilan keputusan di tingkat lokal,” ujar Haris.
Ia menjelaskan, pendekatan dalam forum ini berbeda karena memberikan ruang langsung kepada komunitas untuk menyampaikan gagasan dan potensi mereka kepada para pemangku kepentingan. Perempuan dari komunitas tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai pihak yang menawarkan ide, praktik, dan peluang kerja sama.
“Biasanya pemerintah atau lembaga yang melakukan pitching. Hari ini justru perempuan-perempuan dari komunitas yang menyampaikan langsung potensi dan gagasan mereka kepada para pihak untuk membuka peluang kerja sama,” jelasnya.
Haris juga menekankan pentingnya mitigasi perubahan iklim melalui pemanfaatan energi terbarukan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Hal ini penting karena perempuan sering menjadi kelompok yang paling rentan ketika bencana terjadi, terutama di wilayah desa dan daerah dengan akses energi terbatas.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur yang diwakili oleh Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi NTT, Rosye Maria Hedwine. Dalam sambutannya, Rosye menegaskan bahwa forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kerja sama lintas sektor dalam pembangunan energi berkelanjutan di NTT.
“Pertemuan ini bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk merajut konektivitas dan memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam semangat pentahelix. Pembangunan tidak lagi dilakukan secara sektoral, tetapi harus bersama-sama dan saling melengkapi dan menguatkan,” ujarnya.
Rosye menjelaskan bahwa pengelolaan energi dan sumber daya alam di NTT saat ini sedang bertransformasi. Pemerintah tidak hanya berbicara tentang peningkatan rasio elektrifikasi, tetapi juga tentang bagaimana akses energi dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Berdasarkan data PLN per Desember 2025, rasio elektrifikasi di NTT telah mencapai 96,51 persen. Namun, masih terdapat sekitar 3,49 persen rumah tangga atau lebih dari 49 ribu keluarga yang belum menikmati akses listrik. Selain itu, sekitar 115 desa di NTT juga masih belum teraliri listrik.
“Karena itu, pengembangan energi terbarukan menjadi sangat penting untuk memperluas akses energi sekaligus meringankan beban kerja domestik masyarakat, khususnya perempuan di desa,” jelas Rosye.
Ia menambahkan, NTT memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan, mulai dari tenaga surya, angin, hidro, biomassa, hingga panas bumi. Namun, pembangunan energi tidak boleh hanya berorientasi pada teknologi dan investasi. Pembangunan energi harus menempatkan kesejahteraan manusia sebagai pusat, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan, anak, dan penyandang disabilitas.
Pemerintah Provinsi NTT juga terus berupaya memperluas akses listrik bagi masyarakat kurang mampu. Salah satunya melalui bantuan pemasangan meteran listrik gratis berdaya 450 VA untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.
“Pada tahun 2025 telah diberikan sekitar 762 unit meteran listrik gratis kepada enam kabupaten, dan pada tahun 2026 direncanakan bantuan bagi 1.110 rumah tangga di 10 kabupaten di NTT yang masuk kategori masyarakat kurang mampu,” jelasnya.
Menurut Rosye, pengelolaan energi dan sumber daya alam di NTT perlu diarahkan pada tiga hal utama, yaitu memperluas akses energi yang adil dan inklusif, mendorong kepemimpinan perempuan dalam pembangunan desa, serta membangun desa yang adaptif terhadap perubahan iklim dan aman dari bencana.
“Perempuan di NTT bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, tetapi juga agen perubahan yang memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan dan mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan,” katanya.
Ia berharap forum ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat melahirkan aksi nyata, memperkuat jaringan kolaborasi, serta mendorong kebijakan dan program pembangunan energi yang lebih inklusif di Nusa Tenggara Timur.
“Semoga melalui forum ini lahir gagasan dan kerja sama yang mampu membawa perubahan nyata bagi desa-desa di NTT,” pungkasnya.
Dalam rangkaian kegiatan, CIS Timor juga menggelar talkshow yang dimoderatori oleh Sherley Wila Huky, Ketua Analisis Mitigasi dan Sektor Energi Pokja Perubahan Iklim Provinsi NTT. Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain akademisi Universitas Nusa Cendana, Prof. Gusti Budiana, yang memaparkan pemanfaatan inovasi dan teknologi untuk mendukung ekonomi masyarakat berbasis energi terbarukan dan ramah lingkungan.
Perwakilan Bapperida NTT, Gabriel Adu, turut memaparkan kebijakan perencanaan dan penganggaran energi di NTT. Sementara itu, Darmina dari kelompok Naifalo PAR CORRECT IV berbagi pengalaman tentang strategi pembangunan ekonomi perempuan, pengurangan risiko bencana, dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Dari CIS Timor, Ningsih Bunga memaparkan strategi dan mekanisme kerja sama multipihak dalam mendorong kepemimpinan perempuan serta pemberdayaan ekonomi berbasis energi terbarukan. Ia juga menyampaikan capaian dan tantangan yang dihadapi komunitas di lapangan.
Melalui Ruang Temu Pentahelix ini, CIS Timor menegaskan bahwa transisi energi yang adil membutuhkan keterlibatan aktif perempuan dan kelompok rentan. Forum ini menjadi langkah penting untuk membuka ruang kolaborasi, memperkuat kepemimpinan komunitas, dan menjadikan perempuan sebagai aktor utama dalam pembangunan desa berbasis energi terbarukan di NTT.
Catatan: Artikel ini disadur dari berita Suara Merdeka NTT, “Perkuat Peran Perempuan Dalam Energi Terbarukan, CIS Timor Gelar Ruang Temu Pentahelix di Kupang”, yang dapat diakses di sini: https://ntt.suaramerdeka.com/news/103716857959/perkuat-peran-perempuan-dalam-energi-terbarukan-cis-timor-gelar-ruang-temu-pentahelix-di-kupang








