Petrus Tamelab menuruni tangga melalui pintu belakang rumah ia tinggal. Menembus kabut dingin dengan suhu 9 derajat Celsius, ia menuju ume kbubu yang terpisah beberapa langkah kaki. Sunyi, sendirian. Jarum jam baru saja lewat pukul 03.00.
Dibantu cahaya senter Petrus masuk ume kbubu atau rumah bulat dalam bahasa Dawan, bahasa yang dituturkan sebagian besar masyarakat di Timor Barat, Nusa Tenggara Timur. Rumah dengan diameter sekitar lima meter. Bentuk atap kerucut dibungkus alang-alang yang menjuntai hingga beberapa jengkal dari permukaan tanah.
Ia menuju tungku, menyusun kayu bakar, lalu menghidupkan api. Sejurus kemudian, periuk berisi air diletakan di atas tungku. Sambil berdiang, ia menunggu air mendidih. Ume kbubu merupakan dapur, tempat penyimpanan sekaligus pengawetan makanan bagi orang Timor.
Setelah air mendidih, ia menyisihkan untuk minum keluarga dan menyeduh segelas kopi. Kopi panas menghangatkan tubuh yang dibekap dingin. Selesai menyeruput kopi ia berangkat ke kebun, lanjut memberi makan sapi. Dua tempat terpisah yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumahnya di Desa Mutis, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT.
Rumah Petrus di punggung Gunung Mutis, dataran tertinggi Pulau Timor. Jarak ke Kota Kupang sekitar 166 kilometer dengan kondisi jalan sebagian menanjak tajam dan berbatuan tanpa sepotong aspal pun. Jalanan tanah diapiti semacam bebatuan vulkanis. Desa itu dicapai setelah menembus barikade pepohonan Taman Nasional Mutis Timau sejauh 13 kilometer.
Saat Petrus berangkat dari rumah pagi itu, istri dan anaknya masih lelap.
“Suami-suami biasanya bangunkan istri lalu perintah istri untuk bikin kopi. Kalau saya, tidak begitu. Apa yang bisa saya kerjakan, saya kerjakan. Saling mendukung,” kata Petrus.
Bangun paling lambat pukul 03.30 dan mengurus pekerja rumah di dapur sudah jadi rutinitas Petrus sejak menikah. Tanpa alarm, tanpa diperintah, dan dengan hati gembira. Setelah istrinya bangun, urusan lain dibereskan bersama. Tak ada masalah.
Selain lantaran mandiri sejak kecil, Petrus memandang penting mendukung istri dalam urusan rumah. Hatinya kian teguh dengan itu setelah membaca sebuah artikel. Ia menemukan data yang menyebutkan, langkah kaki istri mengurusi pekerjaan di dalam rumah, jika hitung jaraknya, rata-rata sejauh 15 kilometer per hari.
“Jadi jangan anggap kerja istri di rumah itu ringan. Bayangkan kalau istri sendirian yang masak, bersihkan rumah, cuci, urus anak, pokoknya macam-macam. Coba kalau suami tukar posisi dengan istri? Ini berat,” katanya.
Apa yang dilakukan Petrus agaknya berbeda dengan banyak suami. Tak hanya Desa Mutis. Suami menolak masuk dapur dan membantu istri menyelesaikan urusan domestik dalam rumah. Semacam ada kodrat bahwa mengurus rumah, urus anak, cuci, masak, dan urus suami adalah tugas istri. Kultur masyarakat patriarkih menghendaki demikian.
Petrus berusaha keluar dari kondisi itu. Padahal ia menyandang status sosial tinggi. Dia tidak hanya kepala keluarga. Dia adalah tokoh adat dalam suku Tamelab, satu dari dua suku terbesar di kampung itu. Dia juga menjabat Kepala Desa Mutis. Memimpin 205 keluarga dengan 623 jiwa.
Memberi teladan
Mengambil peran untuk mendukung urusan istri di rumah tidak ia lakukan sembunyi-sembunyi. Ia tunjukkan seperti melayani tamu yang datang. Bila istri lagi sibuk, ia menyuguhkan minum. Juga ke kios membeli kopi, gula, atau kudapan.
Begitu pula istrinya yang ikut membantu mengurus kebun. Mutis merupakan salah satu sentral hortikultura yang ikut menyuplai kebutuhan masyarakat di Kota Kupang dan sekitarnya. Wortel, kentang, dan kacang-kacangan tumbuh subur sepanjang tahun.
Istri Petrus, Matelda Emi Banu mengatakan, dukungan suami untuk urusan domestik dalam rumah sangat membantu. Ia merasakan kesetaraan. Istri bukan jongos suami. Suami juga bukan buruh kasar bagi istri. Suami dan istri saling melengkapi.
Dukungan suami mengurus rumah, membuka peluang Emi bisa melakukan pekerjaan lain yang produktif seperti menenun dan mengolah madu. Hasil karya Emi banyak terjual. Bahkan, sempat dipamerkan di Jakarta. “Bapak selalu bekerja dalam diam. Saya juga bekerja dengan gembira,” ujar Emi.
Apa yang dilakukan Petrus dan Emi adalah pelajaran hidup bagi anak-anak. Mereka berharap, ketika anak mereka dewasa dan berumah tangga, hendaklah mencotohi apa yang mereka lakukan. Lebih dari itu, sebagai tokoh adat dan pemimpin desa, masyarakat sekitar dapat meneladaninya.
Tak ada KDRT
Kesibukan membantu istri di rumah serta berkebun dan beternak, tidak mengganggu tugas Petrus sebagai kepala desa. Setiap pagi sebelum pukul 07.00, ia sudah keliling rumah warga untuk mengecek ketersediaan air di kamar mandi dan WC yang hampir semuanya dibangun terpisah dari rumah tinggal.
Jika menemukan ada bak atau ember yang belum terisi air, Petrus menyelipkan daun di pintu kamar mandi atau WC. Itu tanda khusus yang sudah dipahami seluruh masyarakat desa. Tanda itu berarti, kepada desa baru saja datang ke tempat itu.
Masyarakat pun senang. Kesadaran saling mendukung dalam rumah terus tumbuh. Ini terlihat dari tindakan kekerasan dalam rumah tangga yang kini nyaris tidak terdengar lagi di kampung itu. Keributan yang terjadi sesama warga kampung juga jarang terjadi.
Petrus percaya, keharmonisan dalam kampung sangat tergantung pada keharmonisan dalam keluarga. Keharmonisan dalam keluarga ditentukan oleh relasi suami dan istri. Saling membantu dan mendukung untuk urusan domestik dalam rumah tangga adalah kuncinya.
Sebagai kepala desa, Petrus juga menerapkan kesetaraan itu. Dari empat kepala urusan dalam kabinet inti desa, satu di antara adalah perempuan. Di setiap struktur di bawah seperti dusun hingga RT juga disini oleh perempuan.
Dampak program
Direktur Yayasan Circle of Imagine Society (CIS) Timor Haris A CH Oematan mengatakan, CIS hadir di Desa Mutis mendorong pentingnya peran suami mendukung istri dalam urusan domestik. Program yang bertajuk We for JET itu menekankan tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
“Sebelum program WE for JET masuk di Desa Mutis, kerja-kerja domestik dikerjakan semua oleh mama-mama (para istri). Mereka banyak menanggung beban kerja seperti memasak, mencuci dan mengurus anak. Ada anggapan bahwa pekerjaan itu tabu apabila dikerjakan oleh laki-laki. Beban kerja domestik sepenuhnya berada di pundak perempuan,” tutur Haris.
Diakui Haris, program itu awalnya banyak mendapatkan tantangan. Program ini hadir di tengah masyarakat yang sudah nyaman dengan kultur patriarkih. Berkat pendampingan yang dilakukan terus menerus, termasuk kolaborasi dengan pihak gereja, perubahan pun mulai terjadi. Kini, laki-laki banyak membantu istri.
Petrus memegang kunci keberhasilan program We for JET di Desa Mutis. Ia memulai setiap pagi dari rumahnya, mengurusi dapur dalam ume kbubu. Dari punggung baru karang Gunung Mutis, Petrus memberi teladan tentang sejati sebuah kesetaraan.







