Di Flores Timur, transisi energi tidak dimulai dari teknologi semata, tetapi dari realitas kehidupan sehari hari masyarakat. YPPS memulai pendekatan dengan melihat bagaimana energi berkaitan langsung dengan pekerjaan domestik, peran gender, dan kondisi ekonomi rumah tangga. Dalam periode Juli hingga Desember 2025, YPPS membuka ruang diskusi yang mempertemukan perempuan dan laki laki untuk membicarakan pengalaman mereka secara terbuka.
Sebanyak 153 orang terlibat dalam kegiatan sosialisasi dan penyusunan rencana aksi GEDSI, terdiri dari 79 perempuan dan 74 laki laki dari enam desa dampingan. Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa sebagian besar pekerjaan domestik masih dibebankan kepada perempuan, sementara laki laki memiliki ruang yang lebih luas di sektor publik. Temuan ini menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya pembagian peran yang lebih adil.
Perubahan mulai terlihat dari cara peserta memandang peran mereka. Laki laki mulai memahami bahwa keterlibatan mereka dalam pekerjaan domestik adalah bagian dari tanggung jawab bersama. Di sisi lain, perempuan mulai lebih percaya diri untuk menyampaikan pendapat dan terlibat dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga maupun komunitas.
Hasil dari proses ini dituangkan dalam rencana aksi GEDSI berbasis desa. Dokumen ini menjadi panduan bersama untuk mendorong perubahan sosial, termasuk dalam pembagian peran, kepemimpinan perempuan, dan partisipasi dalam perencanaan desa. Dengan pendekatan ini, perubahan dimulai dari rumah tangga dan berkembang ke tingkat komunitas.
Dari Sekolah Kelapa ke Energi dan Penghidupan Lokal
Salah satu pendekatan kunci yang dikembangkan YPPS adalah Sekolah Kelapa. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas petani, tetapi juga menghubungkan sektor pertanian dengan energi terbarukan dan penghidupan lokal. Sekolah Kelapa menjadi ruang belajar yang menggabungkan pengetahuan teknis, praktik lapangan, dan diskusi komunitas.
Sebanyak 169 petani terlibat dalam kegiatan ini, terdiri dari 83 perempuan dan 86 laki laki. Melalui proses pembelajaran, peserta memahami bahwa kelapa tidak hanya bernilai sebagai komoditas utama, tetapi juga memiliki potensi besar untuk diolah menjadi berbagai produk turunan. Bagian bagian kelapa seperti tempurung dan sabut mulai dimanfaatkan untuk produksi arang dan briket sebagai sumber energi alternatif.
Pendekatan ini membuka peluang ekonomi baru di tingkat desa. Masyarakat mulai melihat keterkaitan antara energi terbarukan dan peningkatan pendapatan. Inisiatif usaha yang muncul mencakup produksi kopra, briket, serta pengembangan produk berbasis kelapa lainnya yang memiliki nilai tambah.
Selain itu, YPPS juga memperkuat infrastruktur energi melalui perbaikan Rumah Energi Matahari. Sebanyak 41 anggota komunitas terlibat dalam proses ini, dengan komposisi partisipasi yang seimbang antara perempuan dan laki laki. Empat unit Rumah Energi Matahari yang sebelumnya tidak optimal kini dapat digunakan kembali untuk mendukung kegiatan produksi.
Kapasitas teknis masyarakat juga meningkat melalui proses ini. Komunitas mulai mampu melakukan perawatan dan pengelolaan teknologi energi secara mandiri. Hal ini menjadi faktor penting dalam memastikan keberlanjutan penggunaan energi bersih di tingkat desa.
Dari Komunitas ke Kebijakan: Suara Lokal Mulai Menguat
Perubahan yang didorong oleh YPPS tidak berhenti di tingkat komunitas. Program ini juga membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam diskusi yang lebih luas di tingkat kabupaten dan provinsi. Perwakilan komunitas mulai dilibatkan dalam forum yang membahas arah kebijakan transisi energi.
Dalam salah satu forum provinsi, perwakilan dari desa dampingan YPPS hadir dan menyampaikan pengalaman mereka secara langsung. Mereka berbicara tentang kebutuhan energi, tantangan di lapangan, serta pentingnya pendekatan yang lebih inklusif. Keterlibatan ini menjadi pengalaman baru yang meningkatkan kepercayaan diri komunitas.
Di sisi lain, anak muda juga mulai mengambil peran dalam menyebarkan cerita perubahan. Sebanyak 89 orang terlibat dalam produksi konten, dengan 10 di antaranya aktif sebagai kreator lokal. Mereka mendokumentasikan praktik komunitas dan membagikannya melalui media sosial untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Peran anak muda sebagai penghubung informasi menjadi penting dalam memperkuat dampak program. Konten yang dihasilkan tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai alat kampanye yang memperkenalkan praktik transisi energi berkeadilan. Pendekatan ini membantu memperluas jangkauan isu dari tingkat desa ke publik yang lebih luas.
Secara keseluruhan, pengalaman YPPS menunjukkan bahwa transisi energi berkeadilan dapat dibangun melalui pendekatan yang terintegrasi. Perubahan dimulai dari kesadaran di tingkat rumah tangga, diperkuat melalui penghidupan berbasis energi, dan diperluas melalui keterlibatan dalam ruang kebijakan. Dengan pendekatan ini, komunitas tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi aktor utama dalam mendorong perubahan.











