LBH APIK Mengubah Narasi Transisi Energi dari Isu Teknis Menjadi Isu Keadilan

Share

Di Indonesia, transisi energi masih sering dibicarakan dalam bahasa teknis dan ekonomi. Isu ini kerap dipahami sebagai proyek investasi atau agenda pembangunan besar, sementara pengalaman perempuan dan kelompok rentan jarang menjadi bagian utama dari pembahasan. Dalam konteks ini, Asosiasi LBH APIK Indonesia mengambil peran untuk menggeser narasi tersebut menjadi lebih inklusif dan berperspektif keadilan.

Sepanjang Juli hingga Desember 2025, LBH APIK mendorong penguatan kapasitas organisasi masyarakat sipil, organisasi perempuan, dan organisasi penyandang disabilitas untuk mengarusutamakan narasi transisi energi berkeadilan. Pendekatan ini dilakukan melalui advokasi kebijakan, produksi pengetahuan, dan kampanye publik. Tujuannya adalah memastikan bahwa suara perempuan dan kelompok rentan hadir secara konsisten dalam wacana transisi energi.

Salah satu langkah penting adalah pelaksanaan lokakarya jurnalis yang melibatkan 63 peserta dari berbagai wilayah. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat perspektif media dalam melihat isu transisi energi dari sudut pandang GEDSI. Melalui proses ini, jurnalis didorong untuk mengangkat pengalaman komunitas sebagai bagian utama dari liputan.

LBH APIK juga melibatkan berbagai organisasi masyarakat sipil, organisasi perempuan, dan organisasi penyandang disabilitas sebagai narasumber. Kolaborasi ini memperkuat posisi komunitas sebagai sumber pengetahuan yang relevan bagi media. Pendekatan ini membantu menghubungkan kerja advokasi di lapangan dengan narasi yang berkembang di ruang publik.

Dari Kampanye ke Perubahan Cara Pandang

Selain penguatan kapasitas, LBH APIK menjalankan kampanye kolaboratif untuk memperluas jangkauan isu transisi energi berkeadilan. Kampanye ini dirancang secara partisipatif dengan melibatkan komunitas perempuan sebagai aktor utama dalam penyusunan pesan. Pendekatan ini memastikan bahwa narasi yang dibangun berasal dari pengalaman nyata di tingkat komunitas.

Dalam periode ini, terdapat tiga kegiatan kampanye utama yang dilaksanakan dalam berbagai format. Kegiatan tersebut meliputi pemutaran film dan diskusi publik, aktivitas edukatif berbasis permainan, serta diskusi daring melalui media sosial. Kampanye offline menjangkau 71 orang, sementara kampanye digital menjangkau ratusan audiens melalui platform online.

Kampanye ini mendorong perubahan cara pandang terhadap transisi energi. Isu energi mulai dipahami sebagai isu keadilan gender dan sosial, bukan hanya persoalan teknis. Diskusi yang berlangsung menunjukkan meningkatnya kesadaran tentang dampak yang tidak proporsional terhadap perempuan dan kelompok rentan.

Perempuan komunitas mulai tampil sebagai narasumber yang membagikan pengalaman dan praktik energi terbarukan. Kehadiran mereka memperkuat posisi perempuan sebagai aktor dalam transisi energi. Selain itu, kampanye juga membuka ruang jejaring baru antara komunitas, organisasi masyarakat sipil, dan organisasi disabilitas.

Dari Pembelajaran ke Strategi: Menguatkan Pendekatan Inklusif

Pelaksanaan program juga memberikan berbagai pembelajaran penting bagi LBH APIK. Salah satu tantangan utama adalah belum optimalnya integrasi perspektif interseksional dalam narasi dan advokasi. Isu yang diangkat masih perlu diperluas untuk mencakup keragaman pengalaman dari berbagai kelompok.

Keterbatasan waktu dan kompleksitas isu menjadi tantangan dalam pelaksanaan kegiatan. Menggabungkan berbagai perspektif dalam satu ruang diskusi membutuhkan pendekatan yang lebih terstruktur. Hal ini menjadi catatan penting untuk pengembangan strategi ke depan.

Tantangan juga muncul dalam kampanye digital, terutama dalam menjaga keterlibatan audiens. Format diskusi daring belum sepenuhnya mampu mempertahankan partisipasi dalam jangka waktu yang panjang. Kondisi ini mendorong perlunya inovasi dalam metode kampanye yang lebih interaktif.

Sebagai respons, LBH APIK mulai menyesuaikan strategi dengan pendekatan yang lebih fokus. Isu interseksional dibahas secara lebih spesifik dalam setiap kegiatan agar dapat digali secara mendalam. Momentum tertentu juga dimanfaatkan untuk memperkuat relevansi isu yang diangkat.

Kolaborasi dengan media, akademisi, dan jejaring masyarakat sipil juga terus diperkuat. Pendekatan ini diperlukan untuk memastikan bahwa narasi yang dibangun tidak hanya berbasis pengalaman, tetapi juga didukung oleh data dan analisis. Dengan strategi ini, advokasi diharapkan dapat memiliki dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, pengalaman LBH APIK menunjukkan bahwa perubahan dalam transisi energi tidak hanya terjadi melalui kebijakan atau teknologi. Perubahan juga terjadi melalui cara isu ini dipahami dan dibicarakan. Dengan menguatkan suara perempuan dan kelompok rentan, LBH APIK mendorong transisi energi yang lebih adil dan inklusif di Indonesia.

Dari Sekolah Kelapa, YPPS Menguatkan Perempuan dan Energi Desa di Flores Timur

Prev

Pemetaan Partisipatif Potensi Energi Terbarukan lokal Desa

Next
Comments
Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan cerita dan refleksi  yang kami pilihkan
Dapatkan cerita dan refleksi  yang kami pilihkan
Dapatkan cerita dan refleksi  yang kami pilihkan
Mari terhubung dengan kami!
Dapatkan cerita dan refleksi yang kami pilihkan