Di Nusa Tenggara Barat, transisi energi tidak dimulai dari proyek besar atau kebijakan nasional. Ia tumbuh dari desa, melalui Sekolah SETARA yang difasilitasi oleh Gema Alam sebagai ruang belajar sekaligus ruang gerakan bagi perempuan. Dalam periode Juli hingga Desember 2025, Gema Alam mendorong pendekatan yang menempatkan perempuan sebagai aktor utama dalam proses perubahan.
Selama periode ini, Gema Alam melaksanakan sedikitnya 13 kegiatan dengan fokus pada pengorganisasian, peningkatan kapasitas, dan penguatan advokasi di enam desa dampingan. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah metode boot camp lintas desa yang mempertemukan peserta dalam ruang belajar intensif. Metode ini terbukti efektif dalam memperkuat solidaritas, mempercepat pembelajaran, dan membangun rasa kepemilikan bersama atas isu transisi energi.
Melalui proses yang difasilitasi oleh Gema Alam, perempuan yang sebelumnya hanya menjadi penerima manfaat mulai bertransformasi menjadi aktor yang terlibat aktif. Mereka tidak hanya memahami isu energi, tetapi juga mulai mengaitkannya dengan kehidupan sehari hari, termasuk pekerjaan domestik, akses air, dan ekonomi rumah tangga. Perubahan ini menjadi fondasi penting dalam membangun gerakan yang lebih berkelanjutan.
Selain itu, pengorganisasian yang dilakukan Gema Alam menggunakan pendekatan berbasis pengalaman nyata. Diskusi tentang energi tidak berdiri sendiri, tetapi dikaitkan dengan isu lingkungan, perubahan iklim, dan relasi gender. Pendekatan ini membuat proses pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan mudah diterima oleh peserta di tingkat desa.
Dari Kapasitas ke Aksi: Advokasi, Usaha, dan Ruang Pengambilan Keputusan
Penguatan kapasitas menjadi fokus utama dalam intervensi yang dilakukan Gema Alam. Berbagai pelatihan dilaksanakan, mulai dari manajemen kelompok, komunikasi publik, hingga advokasi berbasis komunitas. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan perempuan dari berbagai latar belakang, termasuk ibu rumah tangga, petani, pedagang, dan kader desa.
Pelatihan komunikasi publik yang difasilitasi Gema Alam menjadi salah satu titik penting dalam meningkatkan kepercayaan diri peserta. Perempuan desa mulai berani berbicara di ruang publik, menyusun narasi, hingga melakukan simulasi advokasi. Keterampilan ini kemudian digunakan dalam berbagai ruang dialog, termasuk dalam interaksi dengan pemerintah desa.
Di sisi lain, Gema Alam juga mendorong pelibatan laki laki sebagai bagian dari perubahan sosial. Melalui pelatihan keadilan gender, laki laki mulai memahami pentingnya berbagi peran dalam pekerjaan domestik dan mendukung partisipasi perempuan. Perubahan sikap ini memperkuat lingkungan yang memungkinkan perempuan lebih aktif dalam pengambilan keputusan.
Program yang dijalankan Gema Alam juga mendorong lahirnya inisiatif ekonomi berbasis energi terbarukan. Melalui identifikasi potensi desa, muncul berbagai rencana usaha seperti pengolahan coklat, tenun berbasis pewarna alami, pupuk organik cair, hingga ekowisata. Semua inisiatif ini dirancang untuk terhubung dengan pemanfaatan energi terbarukan yang telah ada di desa.
Selain itu, Gema Alam memfasilitasi perempuan dan kelompok rentan untuk terlibat dalam proses perencanaan desa. Mereka menyusun rekomendasi untuk Musrenbangdes yang mencakup kebutuhan terkait energi, lingkungan, dan pekerjaan domestik. Keterlibatan ini menunjukkan adanya peningkatan akses dan pengaruh perempuan dalam pengambilan keputusan di tingkat desa.
Dari Pembelajaran ke Sistem: Tantangan dan Arah Keberlanjutan
Di balik capaian yang ada, implementasi program oleh Gema Alam juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah perbedaan kapasitas antar desa dalam mengorganisir kelompok. Beberapa desa mampu bergerak lebih cepat, sementara yang lain masih membutuhkan penguatan dalam membangun partisipasi dan konsolidasi anggota.
Selain itu, faktor geografis dan kondisi lingkungan menjadi kendala dalam pelaksanaan kegiatan. Lokasi yang sulit dijangkau dan kondisi cuaca yang tidak menentu memengaruhi efektivitas kegiatan di lapangan. Namun dalam beberapa situasi, kondisi ini juga membuka ruang refleksi tentang keterkaitan antara lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Tantangan lain yang dihadapi Gema Alam adalah kelembagaan ekonomi desa yang belum optimal. Banyak BUMDes dan koperasi belum berjalan efektif, sehingga belum dapat menjadi penggerak utama dalam pengembangan usaha berbasis energi. Hal ini menunjukkan pentingnya pendekatan bertahap yang dimulai dari penguatan kapasitas dan kelembagaan dasar.
Keterbatasan data dan sistem dokumentasi juga menjadi perhatian. Banyak praktik baik yang terjadi di lapangan belum terdokumentasi secara sistematis. Kondisi ini membatasi potensi pembelajaran dan replikasi di wilayah lain.
Namun demikian, berbagai tantangan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran yang direspons oleh Gema Alam. Salah satu pelajaran utama adalah pentingnya menempatkan kepemimpinan perempuan sebagai inti dari perubahan. Selain itu, integrasi isu pekerjaan domestik dalam agenda energi terbukti menjadi pintu masuk yang efektif untuk mendorong perubahan sosial.
Secara keseluruhan, pengalaman Gema Alam menunjukkan bahwa transisi energi berkeadilan dapat dibangun dari desa. Pendekatan yang menggabungkan penguatan kapasitas, perubahan norma sosial, dan integrasi dalam sistem desa memberikan dasar yang kuat untuk keberlanjutan. Dengan fondasi ini, gerakan yang difasilitasi Gema Alam memiliki peluang untuk berkembang menjadi perubahan yang lebih luas di tingkat sistem.










