Transisi energi berkeadilan tidak hanya membutuhkan teknologi dan kebijakan, tetapi juga aktor yang mampu menjembatani kepentingan berbagai kelompok. Di Nusa Tenggara Barat, peran ini mulai diisi oleh GEDSI JET Working Group NTB sebagai ruang kolaborasi lintas aktor. Forum ini dirancang untuk memastikan bahwa perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya terlibat secara bermakna dalam proses transisi energi.
Sepanjang Juli hingga Desember 2025, GEDSI JET Working Group NTB mengalami perkembangan yang signifikan dari sisi kelembagaan. Forum yang sebelumnya bersifat informal mulai bertransformasi menjadi entitas yang lebih terstruktur melalui proses pelembagaan menjadi perkumpulan. Langkah ini memperkuat legitimasi forum dalam menjalin kerja sama dengan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan lainnya.
Proses pelembagaan ini diikuti dengan penyusunan berbagai dokumen penting seperti anggaran dasar, standar operasional prosedur, serta struktur kepengurusan yang lebih jelas. Selain itu, pembagian kerja ke dalam empat kelompok kerja memungkinkan forum menjalankan fungsi secara lebih efektif. Penguatan ini membuat forum tidak hanya aktif dalam diskusi, tetapi juga mampu menjalankan fungsi implementasi program secara lebih mandiri.
Dalam periode ini, GEDSI JET Working Group NTB juga mulai menunjukkan kemandirian dalam pengelolaan program. Forum mampu menyusun laporan kegiatan, mengelola data PWWWD, serta menjalankan sistem monitoring dan evaluasi secara lebih sistematis. Hal ini menjadi indikator penting bahwa kapasitas organisasi terus berkembang.
Melalui berbagai kegiatan yang dilaksanakan, forum berhasil menjangkau 141 orang sebagai penerima manfaat langsung yang tercatat dalam sistem MEAL. Jangkauan ini tidak hanya terjadi di NTB, tetapi juga meluas ke NTT melalui kegiatan pembelajaran lintas wilayah. Perluasan ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis jejaring mulai memberikan dampak yang lebih luas.
Menguatkan Kapasitas dan Memperluas Pengaruh
Selain penguatan kelembagaan, GEDSI JET Working Group NTB juga fokus pada peningkatan kapasitas anggota. Berbagai pelatihan diselenggarakan untuk memperkuat kemampuan advokasi, pemahaman GEDSI, serta keterampilan teknis lainnya. Kegiatan ini dirancang untuk memastikan bahwa anggota forum tidak hanya memahami isu, tetapi juga mampu menggerakkan perubahan.
Pelatihan advokasi menjadi salah satu kegiatan kunci dalam periode ini. Lebih dari 30 peserta terlibat dengan dominasi perempuan serta keterlibatan kelompok disabilitas. Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya mempelajari strategi advokasi, tetapi juga pendekatan inklusif yang lebih sensitif terhadap kebutuhan kelompok rentan.
Salah satu perubahan yang muncul adalah meningkatnya kesadaran tentang pentingnya perspektif difabel dalam advokasi. Peserta mulai memahami bahwa inklusi tidak hanya soal kehadiran, tetapi juga tentang cara berinteraksi dan berkomunikasi. Hal ini tercermin dari perubahan pendekatan dalam penggunaan istilah dan penyampaian informasi yang lebih aksesibel.
Selain itu, forum juga berhasil mendorong hasil advokasi yang konkret. Salah satunya adalah dukungan pembangunan tiga unit biogas rumah tangga melalui kemitraan dengan pemerintah daerah. Inisiatif ini menjadi contoh bahwa advokasi berbasis komunitas dapat menghasilkan perubahan nyata.
Pendekatan advokasi yang dilakukan juga memperhatikan aspek sosial dan budaya. Salah satu inisiatif yang muncul adalah dorongan pelabelan halal untuk biogas guna meningkatkan penerimaan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa transisi energi dapat diintegrasikan dengan nilai lokal yang ada di masyarakat.
Kegiatan lokalatih paralegal juga menjadi bagian penting dari penguatan kapasitas. Melalui pelatihan ini, anggota komunitas dibekali kemampuan dasar dalam pendampingan hukum dan penanganan kasus. Pendekatan ini penting untuk memastikan bahwa pembangunan energi tidak menimbulkan dampak sosial yang merugikan kelompok rentan.
Hasil dari kegiatan ini adalah munculnya inisiatif pembentukan mekanisme pengaduan di tingkat desa. Komunitas mulai menyusun alur penanganan kasus yang dapat digunakan secara mandiri. Ini menjadi langkah awal dalam memperkuat akses keadilan di tingkat akar rumput.
Selain penguatan kapasitas, GEDSI JET Working Group NTB juga aktif memperluas jejaring. Kolaborasi dilakukan dengan berbagai pihak seperti komunitas muda, akademisi, media, dan organisasi masyarakat sipil. Pendekatan ini memperkuat posisi forum dalam ekosistem transisi energi di daerah.
Perluasan jejaring ini berdampak pada meningkatnya pengakuan terhadap forum. GEDSI JET Working Group NTB mulai menerima berbagai undangan untuk terlibat dalam diskusi strategis. Hal ini menunjukkan bahwa forum mulai dipandang sebagai aktor penting dalam isu transisi energi berkeadilan.
Tantangan Implementasi dan Arah Keberlanjutan
Di balik capaian tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi dalam implementasi program. Salah satu tantangan utama adalah proses adaptasi menjadi mitra implementasi yang menuntut perubahan cara kerja. Forum perlu menyesuaikan diri dengan sistem kerja berbasis hasil yang lebih terstruktur.
Tantangan lain muncul dalam pembagian peran antar kelompok kerja. Beberapa kelompok kerja memiliki intensitas kegiatan yang lebih tinggi dibandingkan yang lain. Kondisi ini memengaruhi tingkat partisipasi dan efektivitas kerja secara keseluruhan.
Namun demikian, tantangan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran organisasi. Penguatan kelembagaan yang telah dilakukan menjadi dasar untuk memperbaiki pembagian peran dan sistem kerja ke depan. Forum mulai mengembangkan pendekatan yang lebih adaptif dalam mengelola kegiatan.
Pembelajaran penting juga muncul dari aspek komunikasi dan pengetahuan. Kehadiran website resmi forum menjadi langkah strategis dalam membangun pusat informasi yang dapat diakses publik. Kanal ini digunakan untuk memperluas jangkauan isu dan mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan.
Keterlibatan komunitas muda juga menjadi strategi penting dalam keberlanjutan program. Pendekatan kampanye yang lebih kreatif terbukti efektif dalam menjangkau audiens yang lebih luas. Hal ini membuka peluang untuk regenerasi aktor dalam isu transisi energi.
Kolaborasi dengan akademisi memberikan kontribusi dalam penguatan basis data dan analisis. Dari kegiatan yang dilakukan, muncul rencana untuk pengembangan riset dan program pengabdian masyarakat. Ini menjadi potensi penting untuk keberlanjutan program di masa depan.
Secara keseluruhan, perjalanan GEDSI JET Working Group NTB menunjukkan adanya perubahan yang signifikan. Forum tidak lagi hanya berfungsi sebagai ruang diskusi, tetapi telah berkembang menjadi aktor yang memiliki kapasitas dan pengaruh. Dengan penguatan yang terus dilakukan, forum memiliki peluang besar untuk mendorong perubahan yang lebih luas di tingkat sistem.











