Transisi energi sering dibicarakan melalui angka besar. Ada target penurunan emisi, bauran energi terbarukan, investasi hijau, pembangunan infrastruktur, hingga teknologi rendah karbon. Semua itu penting. Namun, ada satu pertanyaan yang tidak boleh tertinggal: apakah transisi energi benar-benar menghadirkan keadilan bagi semua?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika kita melihat bahwa krisis energi dan krisis iklim tidak dirasakan dengan cara yang sama oleh setiap orang. Perempuan, penyandang disabilitas, masyarakat adat, anak muda, nelayan, petani, dan komunitas di wilayah terpencil sering kali berada di garis depan dampak perubahan iklim dan ketimpangan akses energi. Mereka menggunakan energi setiap hari untuk memasak, mengelola rumah tangga, bekerja, belajar, merawat keluarga, dan menjalankan usaha kecil. Namun, suara mereka masih sering berada di pinggir dalam proses pengambilan keputusan.
Publikasi “Igniting Inclusion: Women and Marginalized Groups at the Forefront of a Just Energy Transition” hadir untuk mengisi ruang tersebut. Antologi ini mengajak pembaca melihat transisi energi dari sudut pandang yang lebih manusiawi, dekat, dan berakar pada pengalaman warga. Di dalamnya, transisi energi tidak hanya dibahas sebagai agenda teknis, tetapi sebagai proses sosial yang menentukan masa depan kehidupan banyak orang.
Diterbitkan oleh PWYP Indonesia bersama Penabulu Foundation dan Oxfam, dengan dukungan Australian Government melalui Australia NGO Cooperation Program, antologi ini lahir dari kompetisi esai pendek bertema perempuan dan komunitas lokal di garis depan transisi energi yang inklusif dan berkeadilan. Dari lebih dari 160 karya yang masuk dari berbagai wilayah di Indonesia, 22 tulisan terpilih dirangkai menjadi satu publikasi yang kaya dengan cerita, gagasan, kritik, dan harapan.
Kumpulan tulisan ini membawa pembaca melintasi banyak ruang kehidupan. Ada kisah dari pulau kecil, desa pesisir, wilayah pertanian, komunitas adat, ruang domestik, kelompok anak muda, hingga inisiatif warga yang bergerak dari keterbatasan. Setiap tulisan menunjukkan bahwa transisi energi bukan hanya tentang mengganti sumber energi fosil dengan energi terbarukan. Transisi energi juga tentang relasi kuasa, akses terhadap sumber daya, pengakuan atas pengetahuan lokal, dan kesempatan untuk ikut menentukan arah pembangunan.
Salah satu pesan kuat dari antologi ini adalah bahwa perempuan dan kelompok rentan bukan sekadar penerima manfaat. Mereka adalah penggerak perubahan.
Di banyak komunitas, perempuan memiliki peran besar dalam mengelola kebutuhan energi sehari-hari. Mereka tahu kapan listrik tidak stabil mengganggu pekerjaan rumah tangga, bagaimana mahalnya bahan bakar memengaruhi ekonomi keluarga, dan bagaimana keterbatasan energi berdampak pada kesehatan, pendidikan, serta usaha kecil. Ketika akses energi membaik, beban kerja perempuan dapat berkurang. Waktu yang sebelumnya habis untuk pekerjaan domestik dapat digunakan untuk belajar, berkumpul, berorganisasi, atau mengembangkan penghidupan.
Namun, perubahan seperti ini tidak terjadi secara otomatis. Teknologi energi terbarukan tidak selalu menghasilkan keadilan jika prosesnya tidak inklusif. Panel surya, biogas, kompor hemat energi, atau sumber energi alternatif lain dapat menjadi solusi yang kuat ketika dirancang bersama komunitas. Sebaliknya, teknologi yang datang tanpa mendengar kebutuhan warga bisa menjadi proyek yang jauh dari realitas kehidupan sehari-hari.
Beberapa tulisan dalam antologi ini menunjukkan bagaimana komunitas mampu membangun solusi dari bawah. Ada warga yang mengelola limbah organik menjadi biogas. Ada kelompok perempuan yang memperkuat ekonomi keluarga melalui usaha berbasis energi bersih. Ada anak muda yang belajar memperbaiki dan merawat teknologi energi terbarukan. Ada juga penyandang disabilitas yang menghadirkan inovasi sederhana untuk menjawab kebutuhan energi di lingkungannya.
Cerita-cerita ini memperlihatkan bahwa transisi energi yang berkeadilan membutuhkan lebih dari sekadar perangkat teknologi. Ia membutuhkan kepercayaan, partisipasi, pendampingan, pengetahuan lokal, dan kepemimpinan komunitas. Ketika warga dilibatkan sejak awal, mereka tidak hanya menjadi pengguna. Mereka dapat menjadi pengelola, pengambil keputusan, penjaga keberlanjutan, sekaligus pemilik dari perubahan itu sendiri.
Pada saat yang sama, antologi ini juga menghadirkan kritik penting terhadap praktik transisi energi yang masih terlalu teknokratis dan top-down. Dalam beberapa konteks, proyek yang disebut hijau justru dapat menciptakan ketimpangan baru. Masyarakat lokal bisa kehilangan akses terhadap tanah, air, hutan, ruang hidup, atau mata pencaharian. Perempuan bisa semakin terbebani ketika perubahan tidak memperhitungkan kerja perawatan yang tidak berbayar. Kelompok rentan bisa semakin tersingkir ketika informasi, konsultasi, dan manfaat tidak tersedia secara setara.
Karena itu, transisi energi tidak cukup hanya dinilai dari seberapa bersih teknologinya. Ia juga harus dinilai dari seberapa adil prosesnya.
Keadilan energi berarti memastikan bahwa setiap kelompok memiliki hak untuk didengar, dilibatkan, dan memperoleh manfaat. Perempuan harus memiliki ruang dalam musyawarah desa, forum kebijakan, dan pengelolaan sumber daya. Penyandang disabilitas perlu mendapatkan akses yang setara terhadap informasi, teknologi, pelatihan, dan peluang ekonomi. Anak muda perlu diberi ruang untuk berinovasi dan memimpin perubahan. Masyarakat adat dan komunitas lokal perlu diakui pengetahuannya, haknya, dan hubungannya dengan wilayah hidup mereka.
Di sinilah pendekatan GEDSI, yaitu Gender Equality, Disability, and Social Inclusion, menjadi sangat penting. GEDSI bukan sekadar tambahan dalam program energi. GEDSI adalah cara untuk memastikan bahwa transisi energi tidak meninggalkan mereka yang paling terdampak. Pendekatan ini membantu kita melihat siapa yang memiliki akses, siapa yang mengambil keputusan, siapa yang menanggung risiko, dan siapa yang menerima manfaat.
Antologi “Igniting Inclusion” juga menunjukkan bahwa pengetahuan lokal adalah bagian penting dari solusi. Banyak komunitas sudah lama memiliki cara untuk beradaptasi dengan keterbatasan energi, perubahan cuaca, dan tekanan ekonomi. Mereka memahami sumber daya di sekitarnya, pola kerja warga, kebutuhan rumah tangga, serta dinamika sosial yang memengaruhi keberhasilan sebuah inisiatif. Ketika pengetahuan ini dihargai, solusi energi menjadi lebih relevan dan berkelanjutan.
Sebaliknya, ketika pengetahuan lokal diabaikan, transisi energi berisiko menjadi agenda yang terasa jauh dari kehidupan warga. Ia bisa hadir sebagai proyek, bukan perubahan. Ia bisa menghasilkan infrastruktur, tetapi tidak selalu menghasilkan kepemilikan. Ia bisa memperkenalkan teknologi baru, tetapi belum tentu menjawab kebutuhan yang paling mendesak.
Karena itu, publikasi ini penting bukan hanya bagi aktivis energi atau pembuat kebijakan. Antologi ini juga relevan bagi organisasi masyarakat sipil, pemerintah daerah, komunitas, akademisi, media, pelaku pembangunan, dan siapa pun yang ingin memahami transisi energi dari sisi keadilan sosial.
Setiap tulisan di dalamnya mengingatkan bahwa masa depan energi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh peta jalan nasional, investasi besar, atau target emisi. Masa depan itu juga ditentukan oleh percakapan di desa, keberanian perempuan untuk bersuara, inovasi anak muda, ketahanan komunitas pesisir, dan pengakuan terhadap kelompok yang selama ini jarang terlihat.
Transisi energi yang benar-benar berkeadilan harus dimulai dari pertanyaan sederhana: siapa yang selama ini paling terdampak, dan apakah mereka sudah diberi ruang untuk memimpin perubahan?
“Igniting Inclusion” adalah ajakan untuk menyalakan kembali makna inklusi dalam transisi energi. Ia mengajak kita melihat bahwa energi bukan hanya urusan listrik, bahan bakar, atau teknologi. Energi juga berkaitan dengan martabat, kesempatan, kesehatan, pendidikan, penghidupan, dan masa depan yang lebih setara.
Jika Indonesia ingin membangun transisi energi yang tidak hanya hijau, tetapi juga adil, maka perempuan dan kelompok rentan harus berada di pusat perubahan. Bukan sebagai pelengkap. Bukan sebagai catatan kaki. Tetapi sebagai pemimpin, pemilik pengetahuan, dan penggerak utama menuju masa depan energi yang lebih inklusif.
Untuk membaca cerita lengkap dari berbagai komunitas di Indonesia, silakan isi form berikut dan unduh publikasi “Igniting Inclusion: Women and Marginalized Groups at the Forefront of a Just Energy Transition.”











