Di Desa Umbungedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, kehidupan perempuan selama bertahun-tahun berjalan dalam pola yang nyaris tidak berubah. Perempuan berada di dapur, mengurus anak, memasak, mengambil air, mencari kayu bakar, dan menyelesaikan seluruh pekerjaan domestik yang dianggap sebagai “kodrat perempuan”. Sementara itu, ruang pengambilan keputusan di desa lebih banyak diisi oleh laki-laki.
Situasi itu juga dialami oleh Mama Silvia Guber Derita, yang dikenal warga sebagai mama desa. Dalam budaya patriarki yang masih kuat, perempuan jarang dilibatkan dalam pertemuan desa, bahkan untuk membahas kebutuhan yang paling dekat dengan kehidupan mereka sendiri.
Namun perlahan, perubahan mulai tumbuh di Desa Umbungedo. Pendampingan yang dilakukan oleh CIS Timor membuka ruang baru bagi perempuan untuk berbicara, didengar, dan ikut menentukan arah pembangunan desa. Perubahan itu bukan hanya tentang hadir dalam rapat, tetapi juga tentang mengurangi beban kerja perempuan dan membangun keadilan gender di tingkat komunitas.
Perempuan Sumba Barat Daya Mulai Berani Bersuara
Sebelumnya, perempuan di Desa Umbungedo hampir tidak pernah terlibat dalam musyawarah dusun maupun pertemuan strategis desa. Banyak keputusan dibuat tanpa mendengar pengalaman perempuan, padahal mereka adalah pihak yang paling merasakan dampak persoalan sehari-hari seperti akses air bersih, energi rumah tangga, dan pekerjaan domestik.
Melalui pendampingan CIS Timor, masyarakat mulai mendapatkan pemahaman tentang pentingnya kesetaraan gender dan partisipasi perempuan dalam pembangunan desa.
“Kami sangat berterima kasih kepada CIS Timor karena mendampingi kami dan memberikan kami kesempatan ikut pertemuan-pertemuan dan bersuara,” ungkap Mama Silvia.
Perubahan itu terlihat nyata ketika perempuan mulai aktif berbicara dalam musyawarah dusun hingga Musrenbangdes. Tidak hanya hadir, suara perempuan juga mulai dipertimbangkan dan diakomodasi dalam perencanaan desa.
Salah satu usulan penting yang diterima adalah kebutuhan air bersih bagi masyarakat.
“Puji Tuhan kami tidak sekadar diberi kesempatan bersuara, tetapi suara kami didengar. Usulan air bersih kami diterima dan akan direalisasikan,” katanya.
Bagi perempuan di Umbungedo, akses air bersih bukan sekadar fasilitas tambahan. Air bersih berarti pengurangan beban kerja harian yang selama ini menyita tenaga dan waktu perempuan.
Akses Air Bersih Mengurangi Beban Kerja Perempuan
Selama bertahun-tahun, perempuan harus berjalan jauh menuju kali untuk mengambil air. Jaraknya mencapai empat kilometer. Mereka berangkat sejak pagi dan baru kembali pada sore hari hanya untuk memenuhi kebutuhan memasak, mandi, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Kini, melalui sistem penyaringan air hujan yang mulai diterapkan di rumah-rumah warga, perempuan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sumber air yang jauh.
Mama Silvia merasakan langsung dampaknya. Waktu yang sebelumnya habis untuk mengambil air kini dapat digunakan untuk kegiatan lain yang lebih produktif, termasuk menenun dan mengurus usaha rumah tangga.
Perspektif keadilan gender melihat persoalan air bersih bukan hanya sebagai isu infrastruktur, tetapi juga isu pembagian kerja yang tidak setara. Ketika akses air lebih dekat dan mudah, perempuan memiliki kesempatan lebih besar untuk beristirahat, belajar, hingga meningkatkan penghasilan keluarga.
Tungku Hemat Energi Membantu Perempuan Lebih Efisien
Selain akses air bersih, perubahan lain juga hadir melalui penggunaan tungku hemat energi dan lampu hemat energi berbahan minyak bekas.
Dalam komunitas Kareka Baca, perempuan berdiskusi bersama mengenai manfaat teknologi sederhana tersebut. Mereka saling berbagi pengalaman, mencari solusi atas kelemahan alat, sekaligus memperkuat budaya gotong royong di desa.
Tungku hemat energi menjadi salah satu inovasi yang paling dirasakan manfaatnya oleh perempuan. Sebelumnya, perempuan harus mengambil kayu bakar ke hutan yang cukup jauh dan menghabiskan banyak waktu.
Kini, penggunaan kayu bakar menjadi jauh lebih hemat.
“Kami bersyukur beban kerja kami untuk pengambilan kayu bakar berkurang. Sekarang satu kali ambil kayu bisa dipakai sampai satu minggu. Waktu yang lain bisa kami gunakan untuk pekerjaan lain,” tutur Mama Silvia.
Pengurangan waktu mencari kayu bakar memberi dampak besar bagi kehidupan perempuan. Mereka memiliki waktu lebih banyak untuk kegiatan ekonomi, mengurus keluarga, dan berpartisipasi dalam aktivitas sosial desa.
Kepemimpinan Perempuan Mulai Tumbuh di Desa
Perubahan di Umbungedo tidak berhenti pada partisipasi perempuan dalam diskusi desa. Kini, perempuan mulai dipercaya mengambil peran dalam struktur pemerintahan desa.
Sudah ada kaur perempuan dalam struktur desa. Perempuan juga mulai terlibat dalam pameran dan kegiatan publik lainnya. Mereka berbicara di depan pengunjung dan menjelaskan hasil karya komunitas dengan percaya diri.
Perubahan ini menjadi langkah penting dalam mendorong kepemimpinan perempuan di tingkat akar rumput.
Meski demikian, perjalanan menuju kesetaraan gender tidak selalu berjalan mudah. Nilai patriarki yang sudah lama hidup di masyarakat masih memunculkan penolakan dari sebagian pihak.
Namun perlahan, semakin banyak laki-laki mulai menerima perubahan. Mereka mulai terlibat dalam pekerjaan domestik seperti mengambil kayu bakar, menggendong anak, hingga mencuci pakaian sendiri.
Kesadaran tentang pembagian kerja yang lebih adil mulai tumbuh di dalam keluarga.
Mama Silvia bahkan menyebut bahwa sebelumnya perempuan bisa bekerja hingga delapan belas jam sehari, sementara laki-laki sekitar delapan jam. Karena itu, perubahan kecil dalam pembagian peran domestik memiliki arti besar bagi perempuan.
Perubahan Kecil yang Menghadirkan Keadilan Gender
Cerita Mama Silvia Guber Derita menunjukkan bahwa transisi menuju kehidupan yang lebih adil dapat dimulai dari hal-hal sederhana di tingkat desa. Akses air bersih, teknologi hemat energi, dan ruang partisipasi perempuan ternyata mampu mengubah relasi sosial di masyarakat.
Perempuan di Desa Umbungedo kini tidak lagi hanya menjadi pelaksana pekerjaan domestik. Mereka mulai menjadi pengambil keputusan, pemimpin komunitas, dan bagian penting dari pembangunan desa.
Perubahan ini membuktikan bahwa keadilan gender bukan sekadar konsep, tetapi proses nyata yang bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat, terutama perempuan di wilayah pedesaan.









