Jalan menuju Desa Pene Utara berbatu-batu. Dari kota kecamatan, jaraknya sekitar sembilan kilometer. Di sepanjang jalan, tubuh ikut berguncang mengikuti batu dan tanah yang tidak rata.
Namun, rasa lelah itu pelan-pelan hilang ketika sampai di rumah Bapak Danial Batmalo. Rumahnya berdinding bebak. Udara di sekitarnya sejuk. Pene Utara memang dianugerahi hawa yang teduh.
Di rumah itu, Bapak Danial menerima kami dengan wajah gembira. Ia mengenakan kain tenun Pene Utara yang serasi dengan kaos hijau cerah. Sambil mengunyah sirih pinang, ia bercerita tentang desanya, tentang perubahan, dan tentang perempuan-perempuan yang mulai menemukan ruang untuk bersuara.
Usianya sudah 59 tahun. Namun, tubuhnya masih kuat dan gesit. Ia adalah Sekretaris BUMDes, Fasilitator Desa Program WE for JET, dan Ketua Kelompok Tani Dioskuri yang beranggotakan 16 orang. Di gereja, ia juga aktif sebagai majelis gereja atau presbiter.
Di Desa Pene Utara, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Bapak Danial dikenal sebagai salah satu tokoh penggerak perubahan. Salah satu perubahan yang terus ia dorong adalah lahirnya kepemimpinan perempuan di desa.
Desa Pene Utara dihuni 101 kepala keluarga. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, warga mengambil air dari kali yang tidak jauh dari permukiman, termasuk dari rumah Bapak Danial. Untuk penerangan, warga sangat terbantu dengan tenaga surya karena listrik belum masuk ke desa tersebut.
Selain udara yang sejuk, Pene Utara juga kaya dengan hasil alam. Ada asam, kelapa, kopra, jagung, padi, dan nanas. Komoditas ini menjadi penopang ekonomi keluarga di desa.
Bapak Danial adalah ayah dari tiga anak dan opa dari dua cucu. Anak pertamanya adalah sarjana matematika lulusan Universitas Nusa Cendana. Anak keduanya lulusan salah satu SMK, sedangkan anak ketiganya sedang menempuh pendidikan di SMK Kristen Niki-Niki.
Keterlibatannya dalam kegiatan gereja dan kegiatan desa menjadi modal penting untuk menggerakkan perubahan. Termasuk perubahan yang tidak mudah: mendorong keterlibatan perempuan di ruang publik.
Ia mengaku, sebelum CIS Timor masuk ke Desa Pene Utara, ia sudah mengurus BUMDes dan pernah mendapatkan pelatihan dari Wahana Visi Indonesia. WVI juga memberikan pelatihan tentang JET dan kesetaraan gender. Pengalaman itu menjadi bekal ketika ia kemudian aktif sebagai fasilitator WE for JET di Desa Pene Utara dan mengikuti kegiatan-kegiatan CIS Timor.
“Kami merasa bahwa kehadiran lembaga-lembaga ini sesungguhnya membawa suatu perubahan yang sangat penting terkait dengan bagaimana peran laki-laki dan peran perempuan,” ujarnya sambil mengunyah sirih pinang.
Perempuan yang Dulu Duduk di Belakang
Menurut Bapak Danial, budaya di Pene Utara selama ini belum memberi ruang yang cukup bagi perempuan. Dalam pertemuan-pertemuan, baik di bidang pemerintahan, kerohanian, kemasyarakatan, maupun adat, yang tampil di depan biasanya bapak-bapak atau laki-laki. Perempuan sering dianggap tidak mampu. Tidak bisa. Tidak pantas berada di depan. Karena itu, perempuan dinomorduakan dalam berbagai urusan di Desa Pene Utara.
Bagi Bapak Danial, cara pandang itu sudah tidak lagi sesuai dengan konteks zaman. Situasi mulai berubah setelah ada pelatihan dari CIS Timor untuk para fasilitator desa. Dari pelatihan itu, ia memahami bahwa perempuan memiliki peran yang penting dalam kehidupan, baik di pemerintahan, masyarakat, gereja, maupun adat istiadat.
Bukan hanya laki-laki yang bisa berperan. Perempuan juga bisa, jika diberi kesempatan.

Sejak 2022 dan 2023, sebagai fasilitator, ia mendapatkan berbagai pelatihan tentang gender. Ia belajar bahwa peran gender dapat dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan. Peran di dalam rumah, seperti mengurus rumah tangga, maupun peran di luar rumah, seperti mengurus banyak orang, tidak harus dibebankan kepada satu jenis kelamin saja.
Ilmu itu tidak ia simpan sendiri.
Materi yang ia dapatkan dari pelatihan kemudian ia bawa kembali ke masyarakat. Ia menyosialisasikannya sampai ke akar rumput, kepada masyarakat di lapisan paling bawah. Sebagai fasilitator, ia juga terlibat dalam musyawarah desa. Di forum itu, ia ikut menyuarakan pentingnya kebijakan desa yang berpihak kepada perempuan. Ia juga mendorong adanya regulasi yang tepat, termasuk peraturan desa yang dapat melindungi perempuan.
Ia berharap, ke depan, gagasan itu bisa diakomodasi dan benar-benar terlaksana.
Ketika Bapak-Bapak Mulai Mengambil Air
Perubahan tidak selalu dimulai dari forum besar. Di Pene Utara, perubahan juga terlihat dari pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang dulu hampir selalu dilakukan perempuan.
Bapak-bapak mulai membantu istri mengambil kayu bakar untuk memasak. Mereka mulai mengambil air bersih untuk memasak, mandi, dan mencuci. Mereka membantu mencuci pakaian, mencuci piring, memasak, bahkan membawa bayi ke posyandu. Pekerjaan-pekerjaan seperti ini sebelumnya tidak pernah dilakukan laki-laki di Desa Pene Utara.
Bagi Bapak Danial, ini perubahan yang luar biasa. Bukan hanya bicara, tetapi ada bukti nyata. Menurutnya, fasilitator desa harus menjadi orang pertama yang memberi contoh kepada masyarakat. Apa yang dibicarakan harus sejalan dengan apa yang dikerjakan.
“Nah, bagaimana masyarakat ini mau belajar? Kami yang harus melakukannya lebih dulu, memberi contoh,” tegasnya.
Di Desa Pene Utara, fasilitator desa berjumlah empat orang, terdiri dari dua perempuan dan dua laki-laki. Mereka bersepakat bahwa bapak-bapak yang terlibat dalam JET harus menjadi panutan dan pendahulu.
“Kami laksanakan lebih dulu. Jadi kami membantu mama-mama untuk bisa menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang ada di dalam rumah tangga supaya mama-mama jangan kesulitan,” ungkapnya.
Dari pelatihan, Bapak Danial memahami bahwa yang membedakan laki-laki dan perempuan secara kodrati adalah seks. Kodrati, menurutnya, adalah pemberian Tuhan yang tidak bisa diubah oleh waktu, tempat, dan keadaan. Ia berkaitan dengan organ reproduksi dan jenis kelamin.
Sementara itu, peran gender dan pembagian kerja dalam rumah tangga bisa dilakukan oleh semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Peran gender dapat dipertukarkan dari waktu ke waktu dan dari satu tempat ke tempat lain.
“Jadi kami membantu mama-mama yang ada di rumah. Kami kerjakan pekerjaan-pekerjaan yang mungkin selama ini hanya dilakukan oleh perempuan saja,” katanya.
Perempuan Mulai Bersuara
Di masyarakat, Bapak Danial mulai melihat perubahan pada perempuan. Banyak perempuan mulai terlibat dalam kegiatan desa. Ketika diberi kesempatan untuk bersuara, mereka berani menyampaikan pendapat dan ide kepada pemerintah desa.
Sejak 2022, perempuan-perempuan di Pene Utara direkrut menjadi Tim Perumus RPJMDes dan RKPDes. Hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya di Desa Pene Utara.
Di bidang budaya, pemerintah desa juga mulai menyepakati pelibatan perempuan dalam kegiatan-kegiatan adat. Selama ini, ruang adat biasanya hanya diisi pemerintah dan tokoh adat. Kini, ada satu unsur yang mulai ditambahkan: tokoh perempuan.
Menurut Bapak Danial, tokoh perempuan harus mendapat penghargaan. Dari perempuanlah semua manusia lahir, baik laki-laki maupun perempuan.

Sejak 2022 hingga 2025, berbagai kegiatan mulai melibatkan perempuan. Jika dulu kegiatan pertama hanya diikuti laki-laki, maka kegiatan-kegiatan berikutnya mulai menghadirkan perempuan. Mereka dilatih secara khusus untuk mengenal siapa diri mereka sesungguhnya. Perempuan bukan hanya bertugas di rumah tangga, menyediakan makanan, atau melahirkan anak. Perempuan juga memiliki peran dalam kehidupan kemasyarakatan.
Perlahan, banyak perempuan mulai bersemangat. Bahkan, ada yang menawarkan diri agar dalam kegiatan berikutnya mereka ikut dilibatkan.
Sekolah Perempuan dan Ruang Belajar Baru
Di Pene Utara, ada satu program bernama SKOPER atau Sekolah Perempuan dari DP3A. Program ini masuk melalui gereja. Menurut Bapak Danial, materi yang diajarkan di SKOPER sejalan dengan materi yang diajarkan CIS Timor, terutama tentang konsep gender.
Para fasilitator diminta terlibat sebagai pengajar di SKOPER.
“Termasuk saya sendiri diminta ibu pendeta membantu dua jemaat. Dua jemaat itu bagaimana memperdalam materi-materi yang ada kepada peserta. Memang ada tutor di sana yang disiapkan oleh gereja. Tetapi mereka meminta supaya kalau bisa fasilitator-fasilitator WE for JET, CIS Timor membantu tutor yang ada memperdalam pemahaman terkait materi yang mereka ajarkan sekarang,” tuturnya.
Menurutnya, materi yang disampaikan di SKOPER sama persis dengan materi pada pelatihan WE for JET.
“Kami merasa bersyukur, peran kami ini tidak sia-sia. Tidak sia-sia bukan sekadar hanya mendapatkan ilmu terus diam di desa. Tetapi kami dilibatkan dalam banyak hal. Termasuk SKOPER sekarang ini sangat mengenal kami,” ucapnya.
Bapak Danial mendapat kesempatan mengajar di Jemaat GMIT Emanuel Tomnanu dan Jemaat MBSR Penetunan. Di dua jemaat itu, ia dijadwalkan mengajar dua kali dalam satu minggu, setiap Selasa dan Kamis. Pada hari Kamis, ia membantu tutor di jemaat untuk memperdalam materi yang diberikan.
SKOPER menjadi salah satu pintu masuk penting untuk membangun kepercayaan diri perempuan. Di sana, para perempuan belajar mengenal diri dan potensi mereka.
“Kami masuk melalui SKOPER. Kita didik mereka dulu supaya mereka tahu siapa mereka sebenarnya. Supaya mereka tidak pasif. Itu mimpi kami,” katanya.
Menyisipkan Kesetaraan dalam Natoni
Di desa, Bapak Danial juga dipercaya masyarakat sebagai juru bicara saat peminangan anak. Dengan nilai-nilai kesetaraan gender yang ia dapatkan dari pelatihan, ia membawa pesan itu ke dalam ruang adat.
Dalam proses peminangan, juru bicara bertugas menyampaikan niat hati satu keluarga kepada keluarga yang lain. Namun, bagi Bapak Danial, tugas itu tidak berhenti pada menyampaikan bahwa laki-laki dan perempuan akan menikah. Di dalamnya, ada ruang untuk memberi kesadaran tentang pentingnya peran perempuan.
Pada momentum peminangan, nilai-nilai adil gender dapat disampaikan kepada keluarga dan undangan yang hadir.
Meski natoni disampaikan dalam bahasa daerah, Bapak Danial menyisipkan pesan tentang penghargaan terhadap perempuan. Forum-forum adat seperti itu, menurutnya, sangat strategis untuk menyosialisasikan nilai-nilai adil gender.
Dua Tantangan
Tidak semua berjalan mulus.
Bapak Danial mengakui, mendorong perubahan di desa bukan pekerjaan mudah. Apalagi, perubahan ini menyangkut hal baru: mendobrak budaya yang sudah lama mengutamakan laki-laki.
Tantangan pertama datang dari laki-laki. Selama ini, banyak hal diurus laki-laki. Laki-laki dianggap harus berada di depan. Pandangan seperti itu sudah berurat akar dalam masyarakat.
Untuk membuka wawasan, pelatihan dilakukan dengan strategi memisahkan kelompok laki-laki dan perempuan. Pada tahap awal, yang mengikuti kegiatan hanya kelompok laki-laki. Di sana, mereka diajak memahami bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan hanya pada jenis kelamin yang bersifat kodrati. Mereka juga diperkenalkan dengan konsep gender. Dari proses itu, mulai terbangun kesadaran bahwa bukan hanya laki-laki yang harus diutamakan. Perempuan juga perlu mendapat kesempatan yang sama.
Tantangan kedua datang dari perempuan sendiri. Karena sudah terbiasa dengan situasi lama, ada perempuan yang merasa nyaman dan menolak perubahan.
Sebagian merasa bahwa selama ini yang dipilih dan dipercaya menjadi pemimpin di gereja, seperti majelis gereja, atau yang mengikuti rapat desa, adalah bapak-bapak. Mereka merasa tidak pantas dan tidak mampu. Mereka juga enggan hadir dalam kegiatan desa meskipun sudah diundang. Bagi Bapak Danial, hal itu bisa dimaklumi karena sudah menjadi kebiasaan.
Dua tantangan itu membuat para fasilitator harus bekerja ekstra. Mereka masuk melalui SKOPER untuk membangun kepercayaan diri perempuan. Perempuan diajak menyadari bahwa mereka memiliki kemampuan untuk berperan, tidak hanya dalam rumah tangga, tetapi juga di masyarakat.
Strategi lain dilakukan melalui kegiatan desa. Para fasilitator mengusulkan agar perempuan lebih banyak diundang dalam setiap kegiatan. Bahkan, mereka mendorong agar sekitar 75 persen undangan diberikan kepada perempuan.
“Hal ini sudah kami komunikasikan dengan pemerintah desa. Jadi undangan kami usahakan supaya perempuan itu lebih banyak. Nah, ini kan secara halus, artinya diberi surat undangan. Karena ada surat undangan, jelas dia akan hadir,” ungkapnya.
Menurutnya, pada 2024 dan 2025 mulai terlihat perubahan. Keterlibatan perempuan semakin tampak.
Perempuan dalam Gereja dan Perencanaan Desa
Saat pemilihan Majelis Jemaat periode 2023–2028, Bapak Danial menjadi ketua panitia. Di dua jemaat, perempuan yang direkrut sebagai presbiter, penatua, dan diaken jumlahnya lebih banyak daripada laki-laki.
Menurutnya, perempuan memang harus diberi kesempatan.
“Karena jauh sebelumnya kami sosialisasi. Sebagai ketua panitia, kami sosialisasi supaya jangan sampai semua presbiter laki-laki. Kalau ada mama-mama, nona-nona yang bisa kita pilih sebagai majelis jemaat dalam peran sebagai penatua dan diaken, sebaiknya kita libatkan. Hasilnya, di dua jemaat yang ada di Pene Utara, banyak perempuan yang terlibat dalam posisi kemajelisan,” paparnya.
Untuk struktur desa, posisi kaur dan kepala dusun untuk sementara masih diisi laki-laki. Namun, perempuan sudah mulai dilibatkan dalam Tim Perumus RPJMDes.
“Ada perempuan yang kami libatkan sebagai Tim Perumus RPJMDes untuk bisa mengatur program-program yang dijalankan 2024–2025 sekarang,” ungkapnya.
Menurut Bapak Danial, untuk melihat perubahan, masyarakat perlu menengok ke belakang. Sebelum program masuk, perempuan di Pene Utara tidak percaya diri berbicara di depan banyak orang. Setelah program berjalan, perempuan semakin percaya diri. Banyak mama-mama mulai terlibat dalam berbagai kegiatan desa, meskipun belum semuanya.
“Itu adalah perubahan yang sekarang kami alami. Walaupun memang tidak 100 persen, tetapi tadi saya sampaikan masih ada kendala-kendala, hambatan-hambatan. Tetapi sedikit demi sedikit ada perubahan sekarang,” tuturnya.
Perubahan itu terlihat dalam keterlibatan perempuan di desa, gereja, urusan adat, dan pendidikan. Beberapa perempuan juga terlibat menjadi anggota Komite SDGs Desa Pene Utara.
Menurutnya, potensi perempuan akan muncul jika mereka mendapatkan kesempatan.
Dana Desa dan Kelompok Perempuan
Dalam musrenbangdes, para perempuan mulai mengusulkan agar dana yang masuk ke desa dapat mendukung pemberdayaan dan kesejahteraan perempuan. Dari usulan itu, dibentuk kelompok perempuan.
Kini, telah terbentuk dua kelompok perempuan di jemaat, yakni Jemaat Betlehem dan Jemaat Ebenhaezar. Dari desa, ada juga kelompok yang didukung dari dana PKK untuk membuat dapur hijau.
Selain itu, ada anggaran untuk mendukung kegiatan tenun ikat, kuliner, pengolahan keripik pisang, serta pengolahan anggur dari nanas dan pisang.
Dari dana desa, dialokasikan anggaran melalui pos pemberdayaan masyarakat untuk mendukung usaha tenun ikat, pengolahan aneka keripik pisang, anggur pisang dan nanas, serta kelompok ternak ayam super organik. Sedangkan pos dana PKK membiayai dapur hijau.
Menurut Bapak Danial, selama ini hanya anggapan laki-laki saja yang membuat perempuan dianggap tidak mampu. Ketika perempuan mendapatkan ruang dan kesempatan, mereka menjadi percaya diri dan aktif terlibat dalam kegiatan pemerintahan desa.
Kemampuan mereka muncul karena ada kesempatan. Meski bahasa Indonesia mereka belum sempurna, mereka berani menyampaikannya.
“Ternyata kami punya istri-istri, kami punya mama-mama desa mampu. Tapi karena selama ini kami menomorduakan mereka. Ketika mereka ngomong di forum, mampu. Ternyata mereka berani. Bisa bersuara. Walaupun memang bahasa Indonesia jatuh bangun,” ungkapnya dengan bangga.
Mimpi dari Pene Utara
Sebagai fasilitator, Bapak Danial berharap Program WE for JET dapat terus mendorong kegiatan yang berkelanjutan. Kerja sama dengan semua pihak dan lembaga-lembaga di desa perlu terus dilakukan, terutama dengan melibatkan perempuan.
Ia ingin perempuan tidak hanya mengerjakan pekerjaan domestik dan perawatan seperti mengurus anak, memasak, mencuci, dan mengurus rumah tangga. Ia ingin perempuan juga bisa menjadi pemimpin: wakil ketua majelis jemaat, anggota Badan Permusyawaratan Desa, bahkan kepala desa.
“Ke depan, bisa saja perempuan menjadi Kepala Desa Pene Utara,” katanya.
Di Pene Utara, mimpi itu mungkin belum sepenuhnya tiba. Tetapi jalan ke arahnya sudah mulai dibuka.
Ia dimulai dari bapak-bapak yang membantu mengambil air. Dari mama-mama yang mulai hadir dalam rapat desa. Dari perempuan yang berani bicara walau terbata-bata. Dari sekolah perempuan. Dari gereja. Dari musyawarah. Dari natoni. Dari seorang fasilitator desa yang percaya bahwa perubahan harus lebih dulu dikerjakan sebelum disampaikan.
Sedikit demi sedikit, perempuan Pene Utara tidak lagi hanya duduk di belakang. Mereka mulai berdiri, bicara, dan mengambil tempat dalam masa depan desanya.











